Isi Liburan Seru Bersama Anak, Yuk, Ajak Bergerak lewat Permainan Tradisional Permainan tradisional juga enggak kalah seru. (foto: pixabay/dennies025)

ANAK-anak masa kini yang lebih lekat dengan gadget ketimbang menikmati waktu bermain bersama teman di luar ruang. Daya tarik gawai di satu sisi tak bisa dimungkiri. Di sisi lain, pudarnya budaya bermain di luar ruang juga disebabkan kurangnya anak-anak mengenal permainan tradisional yang sebenarnya lebih seru ketimbang menatap layar gadget.

Nah, mumpung masih ada sisa hari libur, yuk, ajak anak main di luar ruang dengan permainan tradisional yang enggak kalah seru. Berikut 5 permainan tradisional luar ruang yang bikin anak aktif bergerak (juga bergembira maksimal).


1. Petak Umpet

petak umpet
Bermain petak umpet bikin anak aktif. (foto: geotimes)

Meski dimainkan tanpa alat, petak umpet bisa bikin si kecil bergerak aktif ke sana-kemari. Bahkan, yang bikin makin seru, anak-anak akan amat menikmati bersembunyi dan menemukan. Alhasil, tak jarang permainan petak umpet diwarnai teriakan hingga tawa berderai-derai.

Untuk bermain petak umpet amat mudah. Beberapa anak berkumpul dan berunding untuk menentukan siapa yang akan berjaga. Biasanya sih, diadakan adu suit. Yang kalah akan berjaga, sisanya akan bersembunyi menunggu ditemukan anak yang berjaga tadi.

Anak yang berjaga akan menghitung sampai hitungan yang telah ditentukan (misalnya satu sampai seratus), sedangkan yang lainnya mencari tempat untuk bersembunyi. Setelah hitungannya selesai, anak yang berjaga akan mencari satu per satu anak yang bersembunyi. Anak yang pertama kali di temukan akan bergantian berjaga pada permainan selanjutnya.

2. Layangan

layangan
Bermain layang-layang melatih kerja sama dan kreativitas anak. (foto: wickeduncle)

Enggak cuma anak-anak, orang dewasa pun ada yang amat menikmati bermain layang-layang. Bedanya, orang dewasa menerbangkan layangan dengan ukuran jauh lebih besar ketimbang milik anak-anak.

Sebelum menerbangkan layangan, anak-anak akan menyalurkan kreativitas mereka dalam membuat layangan. Biasanya layang-layang terbuat dari selembar kertas khusus dan rangka layangan yang terbuat dari bambu berbentuk ketupat. Membuat layang-layang bersama-sama dalam kelompok akan melatih kemampuan anak bekerja sama dan jadi pemain kelompok.

Setelah jadi, layang-layang dikaitkan dengan benang, yang berfungsi menyeimbangkan layang-layang. Agar layang-layang tidak lepas saat di terbangkan, pada ujung benang diberi tempat untuk menarik ulur benang.

Agar seru, bermain layang-layang dilakukan di lapangan luas dan di saat angin sedang kencang. Dijamin, anak-anak akan banyak bergerak untuk menaikkan layang-layang kreasi mereka.

3. Gobak Sodor

gobak sodor
Bermain gobak sodor yang seru. (foto: malangtoday)

Di beberapa daerah, nama gobak sodor lebih dikenal dengan sebutan galasin atau galah asin. Permainan ini membutuhkan 2 kelompok anak untuk bermain. Setiap kelompok terdiri dari 3-5 anak. Arena bermain digambari kotak-kotak dengan jumlah 6 kotak (2 menyamping dan 3 berderet).

Setiap kelompok tersebut dibagi menjadi kelompok penyerang dan penjaga. Tugas kelompok penjaga ialah menjaga garis vertikal (setiap garis 1 anak). Sementara itu, kelompok penyerang bertugas menyerang atau melewati garis vertikal yang dijaga kelompok lawan tersebut.

Kelompok penyerang harus berhasil melewati garis dan menuju area belakang garis (base akhir), lalu kembali lagi menuju garis depan (base awal). Permainan ini sangat mengasyikkan sekaligus sangat sulit karena setiap orang harus selalu berjaga dan berlari secepat mungkin jika diperlukan untuk meraih kemenangan.

Selain melatih kekompakan dan kerja sama, permainan ini juga menanamkan jiwa sportif pada diri anak.


4. Benteng-Bentengan

benteng-bentengan
Berlatih mengatur strategi dengan bermain benteng-bentengan. (foto: paresmapa)

Jika anak zaman now kenal gim perang Mobile Legends dan sejenisnya, di masanya, ada war game di dunia nyata yang jauh lebih seru. Benteng-bentengan namanya.

Tujuan dari permainan ini ialah menguasai benteng lawan yang biasanya terbuat dari tiang atau pohon dengan cara menyentuhnya. Permainan ini benar-benar menggambarkan kondisi perang secara sesungguhnya. Ada bertugas memprovokasi, ada tawanan, hingga menguasai benteng lawan dengan meneriakkan, 'benteng!'.

Permainan ini biasanya dimainkan dengan 10 orang yang terbagi menjadi 2 tim. Tim akan menjadi pemenang jika berhasil menguasai benteng lawan atau menawan semua peserta lawan. Kunci dari permainan ini ialah peserta yang keluar lebih dahulu dari bentengnya berhak dikejar dan ditawan peserta lawan yang keluar belakangan dari bentengnya. Tawanan bisa dibebaskan apabila rekan satu timnya dapat menyentuh tawanan tersebut.

Selain membuat anak aktif berlari dan bergerak, permainan ini melatih anak mengatur strategi. Pasalnya, strategi yang tepat dan kemampuan berlari menjadi kunci kemenangan dalam permainan ini.


5. Petak Jongkok

petak jongkok
Berjongkok dan menghindar jadi prinsip petak jongkok. (foto: kaskus)

Berjongkok dan menghindar ialah prinsip permainan ini. Dalam petak jongkok, anak-anak diwajibkan berjongkok untuk menghindari pengejar dan berdiri untuk berlari menjauhi si pengejar.

Permainan tradisional petak jongkok memiliki nama yang bermacam-macam. Di daerah Purworejo, Jawa Tengah, permainan ini disebut dodokan, sedangkan di Purbalingga, disebut litunggrok.

Petak jongkok bermanfaat meningkatkan kreativitas anak, mengembangkan kecerdasan spasial, serta melatih sikap sportif anak.

Banyak permainan tradisional yang bisa dimainkan bersama dan tanpa alat apa pun. Itu membuat permainan tradisional relatif lebih murah ketimbang gadget. Nilai plus lainnya, si kecil akan banyak bergerak, aktif, dan berinteraksi dengan sebaya untuk melatih mental mereka.

Selamat bermain.(dwi)

Kredit : dwi


Dwi Astarini

LAINNYA DARI MERAH PUTIH