'Irisan' Tahapan Pemilu Bila Pileg dan Pilpres Digelar April 2024 Direktur Eksekutif Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem), Titi Anggraini

Merahputih.com - Anggota Dewan Pembina Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem), Titi Anggraini menilai bakal terjadi irisan tahapan pemilu anggota legislatif, pemilu presiden, dan kepala daerah bila pemungutan suara pileg dan pilpres pada bulan April 2024.

"Meski pemungutan suara pilkada pada bulan November 2024 tidak berbarengan dengan pemungutan suara pemilu anggota legislatif (pileg) dan pilpres," ujar Titi Anggraini, Selasa (9/2).

Baca Juga:

Konflik dan Gugatan di Pilkada Serentak Saat Pandemi COVID-19

Pada saat hari penghitungan dan rekap suara pileg/pipres (April-Mei 2024), akan beririsan waktu dengan pembentukan panitia pemungutan suara (PPS) pilkada, pemutakhiran data pemilih, penyerahan dukungan, dan penelitian administrasi pencalonan perseorangan.

Sehingga, beban berat tidak hanya bagi penyelenggara, tetapi juga pada peserta (partai politik dan perseorangan) dan pemilih.

Di sisi lain, desain penjadwalan pilkada dan pemilu tidak sejalan dengan desain kelembagaan penyelenggara pemilu. Masalahnya, pelaksanaan pilkada dan pemilu pada tahun yang sama hanya ada satu kali aktivitas aktif kepemiluan.

Namun, kelembagaan penyelenggara pemilu permanen sampai kabupaten/kota selama 5 tahun. Padahal, penyelenggara pemilu ini ada untuk menyelenggarakan pemilu.

"Kalau tidak ada aktivitas yang relevan dan signifikan, apakah masih diperlukan sifat lembaga yang peramanen? Hal ini justru membebani keuangan negara dan tidak sejalan dengan asas pemilu efektif dan efisien," kata Titi.

Pada Pemilu 2019, misalnya, terdapat lima kotak, yakni presiden/wakil presiden, DPR, DPD, DPRD provinsi, dan DPRD kabupaten/kota.

Direktur Eksekutif Perludem, Titi Anggraini. Foto: MP/Asropih

Rerata beban kerja petugas kelompok penyelenggara pemungutan suara (KPPS), kata Titi, sangat tinggi sebelum, selama, dan sesudah hari-H pemilihan, serta adanya kendala terkait bimtek, logistik, dan kesehatan berkontribusi pada kelelahan petugas yang berakibat kematian.

Ia menyebutkan hasil analisis Fisipol UGM pada bulan Juni 2019 terkait dengan median beban kerja petugas pemilu berkisar antara 20 jam dan 22 jam pada hari-H pelaksanaan pemilu.

Berikutnya, 7,5-11 jam untuk mempersiapkan tempat pemungutan suara (TPS), dan 8—48 jam untuk mempersiapkan dan mendistribusikan undangan.

Akibat dominasi pilpres, lanjut Titi, membuat pemilu anggota legislatif tidak mendapatkan perhatian yang sepadan dari pemilih, khususnya pemilu Dewan Perwakilan Daerah (DPD) dan DPRD.

"Isu lokal tenggelam oleh isu nasional dalam penjangkauan pemilih dan diskursus kepemiluan," kata Titi.

Selain itu, meningkatnya suara tidak sah (invalid votes), terutama pemilu DPD, DPR, dan DPRD karena pemilih yang kebingungan akibat kompleksitas pemilihan yang berjalan.

Baca Juga:

Hotel Grand Cempaka Disulap Anies Jadi Tempat Inap Tenaga Medis Tangani Corona

Hal lain, sebagaimana dikutip Antara, sosialisasi dan pendidikan kepemiluan tidak optimal karena isu yang terlalu banyak dan berkelindan satu sama lain. Pemilih pun kebingungan akhirnya perhatian terfokus pada pilpres.

Pada Pemilu 2019 terjadi penurunan kualitas dan mutu profesionalisme, kinerja, dan performa penyelenggara pemilu. Di samping itu, logistik pemungutan suara tidak tersedia tepat waktu, tepat jenis, tepat jumlah, dan tepat lokasi.

"Hal inilah yang menyebabkan meningkatnya jumlah kasus surat suara tertukar, kekurangan surat suara, dan lain-lain," kata Titi. (*)

LAINNYA DARI MERAH PUTIH
Respons KPK Dituding Gelar Perkara Skandal Djoko Tjandra Cuma Pencitraan
Indonesia
Respons KPK Dituding Gelar Perkara Skandal Djoko Tjandra Cuma Pencitraan

"Kami menghargai pandangan dari siapapun soal hal tersebut," kata Plt Juru Bicara KPK Ali Fikri

Puan Maharani Serahkan 30 Ribu Dosis Vaksin untuk Warga Jawa Timur
Indonesia
Puan Maharani Serahkan 30 Ribu Dosis Vaksin untuk Warga Jawa Timur

Kunjungan Puan kali ini untuk menyerahkan bantuan 30.000 dosis vaksin untuk masyarakat Surabaya dan Jawa Timur melalui Pemerintah Kota Surabaya.

Tetap Waras Bagi Ibu Rumah Tangga: Bisnis Minuman Herbal Beromset Rp5 Juta
Indonesia
Tetap Waras Bagi Ibu Rumah Tangga: Bisnis Minuman Herbal Beromset Rp5 Juta

"Karena bangsa kita punya segala macam sumber daya alam untuk dijadikan obat. Minuman ini bukan untuk menyembuhkan COVID tapi untuk menyehatkan orang," terang Rina.

Kemenangan Telak Anak dan Mantu Jokowi
Indonesia
Kemenangan Telak Anak dan Mantu Jokowi

Bobby dan Gibran yang merupakan keluarga Presiden Joko Widodo dinilai kredibel dan sosok muda yang membawa perubahan ke arah lebih baik.

Suara Kritis Dibungkam, Indonesia Alami Resesi Demokrasi
Indonesia
Suara Kritis Dibungkam, Indonesia Alami Resesi Demokrasi

"Harus ada arahan jelas dari pemerintah kepada aparat terkait, agar tindakan yang berpotensi menggerus demokrasi," uhar Herzaky.

Karya Mahasiswa ITS Ini Mampu Cegah Klaster COVID-19 di Lingkup Industri
Indonesia
Karya Mahasiswa ITS Ini Mampu Cegah Klaster COVID-19 di Lingkup Industri

Co-Saber merupakan teknologi presensi pintar untuk pencegah penyebaran corona virus di industri kecil dan menengah.

Anggota Komisi III Minta Tak Semua Pasal di RKHUP Dibahas Ulang
Indonesia
Anggota Komisi III Minta Tak Semua Pasal di RKHUP Dibahas Ulang

Pasal-pasal yang sudah disepakati, sepakati saja karena fraksi-fraksi masih tetap

Bikin Gaduh, Kubu Moeldoko Justru Disarankan Minta Maaf ke Presiden
Indonesia
Bikin Gaduh, Kubu Moeldoko Justru Disarankan Minta Maaf ke Presiden

Partai Demokrat sudah menyampaikan terima kasih dan apresiasi kepada pemerintah yang menolak pengesahan kepengurusan hasil Kongres Luar Biasa (KLB) Deli Serdang.

Pemerintah Nyatakan Tidak Ada Lockdown, Kecuali Lingkungan RT/RW
Indonesia
Pemerintah Nyatakan Tidak Ada Lockdown, Kecuali Lingkungan RT/RW

Pemerintah karantina wilayah atau mikro lockdown hanya dapat dilakukan di tingkat RT atau RW yang berstatus zona merah.

Skandal Djoko Tjandra, Irjen Napoleon dan Brigjen Prasetijo Jalani Sidang Vonis
Indonesia
Skandal Djoko Tjandra, Irjen Napoleon dan Brigjen Prasetijo Jalani Sidang Vonis

Pengadilan Tipikor Jakarta menjadwalkan sidang putusan atas kasus dugaan suap yang menjerat Irjen Napoleon Bonaparte dan Brigjen Prasetijo Utomo pada Rabu (10/3) hari ini.