IPW: Polisi Jangan Lengah, 57 Terduga Teroris Berada di Jakarta Napi kasus terorisme keluar dari rutan Brimob saat menyerahkan diri di Rutan cabang Salemba, Mako Brimob, Kelapa Dua, Jakarta, Kamis (10/5). ANTARA FOTO

MerahPutih.com - Indonesia Police Watch (IPW) meminta kepolisian perlu mencermati masuk 57 orang yang diduga sebagai jaringan teroris dari enam daerah ke Ibukota Jakarta pasca kerusuhan di Rumah Tahanan (Rutan) Cabang Salemba Mako Brimob Kelapa Dua, Depok, pada Selasa (8/5) hingga Kamis (10/5) lalu.

Ketua Presidium IPW Neta S Pane mengatakan dari data yang diperoleh IPW sejak Jumat (11/5) kemarin pukul 20.00, 57 orang yang terduga teroris ini sudah berada di Jakarta.

"Dari Kelompok Tegal ada tiga orang. Dari Kelompok Pekanbaru pimpinan Boy ada 10 orang. Mereka jalan darat dan sempat mampir di Lampung sebelum menyeberang ke Banten," kata Pane dalam keterangan tertulisnya di Jakarta yang diterima MerahPutih.com, Sabtu (12/5).

Ketua Presidium IPW Neta S Pane. Foto: Wikipedia

Kelompok Karawang pimpinan Abu Sayyaf ada enam orang dengan mengendarai sepeda motor. Kelompok Cirebon terbagi dua, pimpinan Heru Komarudin ada tujuh orang dan datang dengan menyewa mobil rental dan langsung membuka posko di Depok. Kelompok kedua, Kelompok Suki tidak terlacak karena menghilang.

"Kelompok Indramayu pimpinan Sutomo ada tujuh orang. Kelompok Tasikmalaya juga terbagi dua. Pimpinan Rido ada 10 orang dan tiba di Jakarta dengan tiga mobil," ujarnya.

Sedangkan, kata Pane, pimpinan Ade Cawe ada lima orang dan datang dengan tiga sepeda motor. Namun kelompok Ade Cawe ini sudah berhasil diciduk polisi.

"Satu tewas ditembak polisi dan tiga ditangkap, termasuk Ade Cawe. Sedangkan satu lagi berhasil kabur," ungkapnya.

Berangkat dari itu, IPW berharap, polisi melakukan pagar betis agar kelompok teroris ini bisa segera diciduk sebelum beraksi menebar terornya. Kemudian Polri perlu mengevaluasi dua kasus yang terjadi berturut turut di Mako Brimob.

Pelaku penusukan Bripka Marhum Prencje (ist)

"Buruknya profesionalisme, kacaunya kordinasi di internal polri, rendahnya kepekaan dan kepedulian aparatur kepolisian serta tidak taatnya aparatur kepolisian pada SOP dan tidak adanya pengawasan atasan terhadap kinerja bawahan adalah penyebab utama terjadinya dua tragedi di Mako brimob," ungkapnya.

Sementara itu, di lokasi yang berbeda Pengamat terorisme, Al Chaidar, mengatakan dalam situasi swperti ini, disarankan TNI turun untuk berhadapan dengan teroris. Walaupun Polri sebenarnya punya tim khusus yang menangani teroris, yakni Densus 88 Antiteror. Namun, dalam situasi ini, diperlukan aparat yang siap tempur.

"Harus ditangani militer, (TNI) harus masuk. Karena polisi tidak mempunyai kemampuan tempur, (sementara) Densus hanya punya kemampuan menangkap dan menyergap, bukan kemampuan tempur," kata Chaidar Rabu (9/5) lalu. (Asp)


Tags Artikel Ini

Andika Pratama

LAINNYA DARI MERAH PUTIH