IPW Paparkan Pentingnya Pimpinan KPK Dari Unsur Kepolisian Ketua Presidium Ind Police Watch, Neta S Pane (Foto: antaranews)

MerahPutih.Com - Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW) Neta S Pane mengapresiasi Pansel KPK yang berani meloloskan tiga jenderal senior Polri yang ikut seleksi Capim KPK.

Neta berharap pada proses asesmen selanjutnya, masih ada 4 polisi dan 2 jaksa, dan 14 figur lainnya yang berkompetensi yang lolos. Neta menilai capim KPK petahana tak patut lolos seleksi 10 besar.

Baca Juga: Pansel Mulai Telusuri Rekam Jejak 40 Capim KPK yang Lolos Seleksi Tahap Ketiga

"Mengingat kepemimpinan selama ini gagal membangun soliditas KPK, IPW menyarankan agar pansel tidak mengikutkan petahana dalam 10 besar," tutur dia kepada wartawan di Jakarta, Senin (5/8).

Neta berharap ada 2 perwira tinggi Polri yang menduduki kursi pimpinan KPK nantinya. Menurutnya, pimpinan KPK saat ini tidak tegas.

Neta S Pane apresiasi Pansel KPK yang loloskan tiga jenderal polri
Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW) Neta S Pane. (MerahPutih/Rizki Fitrianto)

"IPW melihat KPK ke depan harus diisi oleh 2 pati Polri sebagai pimpinan agar pimpinan KPK bisa tegas dan tidak takut pada bawahan dan WP KPK," jelas Neta S Pane.

Ia beranggapan, selama ini ketidaktegasan pimpinan KPK dan sikap takut mereka pada bawahan menjadi sumber kacaunya KPK.

"Ke depan hal ini harus segera diperbaiki," kata Neta.

Neta melihat penegakan hukum yang dilakukan KPK harus didasarkan pada kerugian negara dan perekonomian negara sesuai dengan UU KPK.

Baca Juga: Pansel Endus Ada Upaya Menjegal Calon Pimpinan dari Luar KPK

"Pengembangan struktural dengan titik berat pada orientasi (public education). Pemberantasan korupsi dengan pendekatan prevention, tugas pembantuan program pemerintah, peningkatan pendapatan negara dan daerah, recovery asset negara dan daerah, memperkuat fungsi koordinasi dan supervisi dengan instansi yang bertugas dalam pemberantasan korupsi," kata dia.

Neta lalu melihat KPK sudah seperti monster yang begitu ditakuti. Menurutnya hal ini berbahaya karena ditakutkan tak ada lembaga lain yang berani mengkoreksi.

"KPK pun menjadi otoriter dan sok benar sendiri. Apapun yang terjadi dan apapun yang dilakukannya, sekalipun keliru atau salah akan dianggap selalu benar," tutup Neta S Pane.(Knu)

Baca Juga: Basaria Panjaitan Tumbang di Seleksi Capim KPK Tahap Ketiga



Eddy Flo

LAINNYA DARI MERAH PUTIH