IPW Bantah Sebar Hoaks Kasus Pemerasan Eks Kasat Reskrim Polres Jaksel Presidium Indonesia Police Watch (IPW) Neta S Pane. Foto: Net

MerahPutih,com - Presidium Indonesia Police Watch (IPW) Neta S Pane membantah bahwa dirinya menyebarkan kabar tak benar soal adanya dugaan pemerasan oleh mantan Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Selatan AKBP Andi Sinjaya Ghalib

Neta menyesalkan pernyataan pelapor Budianto yang tiba-tiba mengaku tak merasa diperas hingga miliaran rupiah.

Baca Juga

Soal Kasus Pemerasan Oknum Polisi, Informasi IPW Diduga Hoaks

"Saya nggak paham kenapa si pelapor Budianto jadi ngelantur begitu dan omongannya jadi berbeda," kata Neta kepada Merahputih.com di Jakarta, Kamis (16/1).

IPW sengaja fitnah oknum polisi untuk naik jabatan
Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW) Neta S Pane (MerahPutih/Rizki Fitrianto)

Neta mengatakan, selama 45 hari Budianto intens berkomunikasi dengannya dan bertemu berkali kali, dia selalu konsisten minta bantuan saya untuk menyelesaikan perkaranya.

"Dia juga berkali kali mengatakan bahwa kasat serse Jaksel (AKBP Andi Sinjaya Ghalib) meminta uang Rp 1 miliar kepadanya agar tersangka kssnya diserahkan ke kejaksaan karena kssnya sudah P21. Saat saya tanya, apakah ada saksinya, saat kasat serse itu meminta Rp 1 miliar, dia mengatakan ada dua orang. Satu temannya kasat serse dan satu lagi temannya sendiri, yamg kemudian dia pertemukan dengan saya," jelas Neta.

Bekas wartawan ini menjelaskan, kasus ini dilaporkan ke Kapolda Metro Jaya dan Neta meminta Budianto membuat laporan tertulis.

"Setelah saya baca, saya memintanya mengantarkan laporan itu ke Koorsespri Kapolda metro jaya. Budianto juga yang meminta bantuan saya agar kasus itu dirilis ke media massa," kata Neta.

Percakapan IPW dengan Budianto, Foto: MP/Kanu
Percakapan WA Presidium Indonesia Police Watch (IPW) Neta S Pane dengan Budianto yang melaporkan pemerasan oleh mantan Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Selatan AKBP Andi Sinjaya Ghalib. Foto: MP/Kanu

Penyidik Propam Polda Metro Jaya juga pernah menemui dan meminta data soal dugaan pemerasan itu. Saat itu Budianto masih menjelaskan kepada petugas propam bahwa kasat serse meminta Rp 1 miliar kepadanya. Dalam pertemuan itu hadir pula seorang saksi yang mendengar Andi Sinjaya meminta Rp 1 miliar ke Budianto.

Baca Juga

Polri Dikritik Karena Sejumlah Orang 'Dekat' Jokowi yang Dapat Jabatan Prestisius

Saat itu petugas propam itu meminta agar diijinkan memoto laporan resmi Budianto ke Kapolda metro. Selain memoto laporan resmi ke Kapolda, petugas Propam kemarin juga minta beberapa barang bukti dan sudah diserahkan pelapor.

"Jadi saya merasa aneh kok penjelasan Budianto ke media berubah menjadi lain ceritanya. Ada apa. Saya sendiri belum ketemu lagi dengann Budianto," sesal Neta.

Ia menyebut jika laporannya ke Kapolda ternyata bohong, Budianto itu bisa dikenakan pasal berlapis yang ancaman hukumannya di atas lima tahun.

"Ia bisa dikenakan tuduhan memberikan laporan bohong ke Kapolda metro, persekusi, memfitnah dan mengadu domba internal polri dan UU ITE. Sebaiknya propam segera memberikan rekomendasi ke Bareskrim untuk mengusut laporan bohong Budianto ini," jelas Neta.

Percakapan WA Presidium Indonesia Police Watch (IPW) Neta S Pane dengan Budianto yang melaporkan pemerasan oleh mantan Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Selatan AKBP Andi Sinjaya Ghalib
Percakapan WA Presidium Indonesia Police Watch (IPW) Neta S Pane dengan Budianto yang melaporkan pemerasan oleh mantan Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Selatan AKBP Andi Sinjaya Ghalib

Sebelumnya, Budianto yang disebut Indonesia Police Watch diperas oleh oknum penyidik Polres Metro Jakarta Selatan mengaku dicecar 16 pertanyaan saat diperiksa Propam Polda Metro Jaya.

"Pertanyaannya terkait dengan berita yang viral di media online (terkait tudingan pemerasan Rp1 miliar)," kata Budianto.

Dirinya mengklarifikasi kalau bukan polisi yang memerasnya saat itu. Tapi, adalah seorang makelar kasus berinisial A. Dalam pemeriksaan itu, Budianto mengaku menyerahkan sejumlah bukti semisal bukti percakapan dengan si markus berinisial A terkait janjinya menyelesaikan kasus perusakan tanahnya.

Baca Juga

Dicopot Lantaran Diduga Terima Suap Miliaran Rupiah, Begini Reaksi Kasat Reskrim Polres Jaksel

Dalam percakapan di WhatsApp itu, si A juga mengklaim kenal dengan Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Selatan saat itu, AKBP Andi Sinjaya Ghalib.

IPW
Surat laporan Budianto ke Kapolda Metro Jaya. Foto: MP/Kanu

"Ternyata bukan oknum polisi, karena selama saya ke polres saya tidak pernah jumpa. Jadi, gak tahu menahu," kata dia lagi. (Knu)


Tags Artikel Ini

Andika Pratama

LAINNYA DARI MERAH PUTIH