IPA Fest 2018: Mengajak Masyarakat Memahami Kebhinekaan Dari Bui Salah satu formasi tarian pada gelaran IPA Fest 2018. (Foto: Zai/MP)

SUARA musik mengentak memandu belasan sosok serbahitam membentuk formasi. Mereka bergerak beriringan. Perlahan suara musik surut. Pendar lampu berubah menyorot satu sosok. Ia lalu bermonolog menera lakon hidupnya.

"2009 lalu, sempat terpikir mau jadi pemain bola Timnas," kata sang tokoh mengisahkan impiannya.

Bukan menjelalah lapangan hijau, mengolah si kulit bundar, langkah kakinya justru terkunci di ruang 10 x 5 meter dikawal teralis besi tiap-tiap sisinya. Impiannya menjadi pemain sepakbola pun perlahan sirna.

Kegagalan impian itu diceritakan seorang Warga Binaan Pemasyarakatan salah satu Lapas di Jakarta, kala membuka pementasan "Drama Musikal Merah Putih Narapidana. Kami Berkarya Maka Kami Ada" pada program Indonesian Prison Art Festival (IPA Fest) 2018.

Sebanyak 152 para Warga Binaan Pemasyarakatan dari 35 Lapas di Indonesia turut ambil bagian pada penyelenggaraan IPA Fest kali pertama. Mereka tampil apik berlakon, menarikan berbagai tari khas beberapa daerah di Indonesia, dan mendeklamasikan puisi.

"Antara langit, matahari, dan dinding ini. Tembok-tembok bisu".

"Kami hanya bicara pada langit dan matahari".

Dua baris puisi tersebut secara lantang dibacakan Sayuti. Realitas-realitas menjadi pesakitan di tahanan muncul dalam kata-kata. Penonton sempat terhenyak. Ruang Teater seketika sepi. Kata kungkungan dan harapan semakin tegas menggema. Menghardik penonton sebagai si pemilik kebebasan untuk menyelami kisah hidup mereka di tahanan saban hari.

Krisna Aditya, sutradara pementasan secara khusus mengetengahkan pengalaman reflektif penonton untuk kembali memaknai kebebasan. "Masyarakat di luar sana yang hidup bebas justru saling menjatuhkan," ungkapnya. Masyarakat, lanjut Krisna, sebaiknya mengambil contoh kehidupan Warga Binaan, meski terkungkung tetap bisa saling menghargai perbedaan dan menjunjung kebhinekaan. Semua di dalam tahan beroleh status sama; narapidana.

Suara musik kembali mengentak. Sorot lampu kian liar berlarian melahapa seisi panggung. Atraksi musik digelar. Para Warga Binaan satu per satu keluar membawakan tari tradisional masing-masing daerah di Indonesia. Tepuk tangan penonton menambah semarak aksi mereka.

Pertunjukan diakhiri dengan lagu 'Satu Nusa Satu Bangsa' diikuti segenap penampil dan para penonton. Rencananya, penampilan para Warga Binaan seluruh Indonesia ini akan rutin dilaksanakan setiap tahunnya. Sutradara gelaran Indonesian Prison Art Festival (IPA Fest) 2018, Krisna Aditya, memiliki keinginan agar acara tersebut rutin diselenggarakan. (Zai)


Tags Artikel Ini

Yudi Anugrah Nugroho

LAINNYA DARI MERAH PUTIH