MerahPutih.com - Perang antara Rusia dan Ukraina belum juga menandakan akan berakhir. Perang dimulai sejak pasukan Rusia menginvasi Ukraina pada 24 Februari 2022.
Kepala badan intelijen siber Inggris GCHQ Jeremy Fleming, Selasa (11/10), menyatakan pasukan Rusia di Ukraina kehabisan senjata. Selain itu, warga Rusia kini menyadari bahwa invasi terhadap Ukraina adalah sebuah langkah yang salah perhitungan.
"Kami tahu, dan para komandan Rusia di lapangan tahu, bahwa pasokan dan amunisi mereka kini telah habis," kata Sir Jeremy Fleming dalam pidato di lembaga pemikir Royal United Services Institute (RUSI) di London.
Baca Juga:
G7 Beri Peringatan ke Rusia
"Pasukan Rusia kelelahan. Eksploitasi tahanan untuk dukungan, dan kini mobilisasi puluhan ribu personel wajib militer yang belum berpengalaman, menunjukkan sebuah situasi yang putus asa," katanya, seperti dikutip Antara.
Kepala mata-mata Inggris itu juga menuturkan bahwa warga biasa Rusia kabur dari wajib militer dan menyadari mereka tidak dapat lagi bepergian.
"Mereka sadar akses ke teknologi modern dan pengaruh eksternal akan dibatasi secara drastis. Mereka (warga Rusia) merasakan sejauh mana penderitaan kemanusiaan yang mengerikan yang disebabkan perang yang dipilih olehnya," kata Fleming merujuk pada Presiden Rusia Vladimir Putin.
Baca Juga:
Hengkang dari Rusia, Nissan Jual Pabrik
Fleming juga mengatakan tentang kemungkinan penggunaan senjata nuklir taktis oleh Rusia, yang ia yakini bahwa "doktrin Rusia dan pendekatan Putin untuk perang ini semoga (penggunaan nuklir) masih jauh dari kenyataan."
Pidato Fleming disampaikan sehari setelah Rusia meluncurkan puluhan rudal ke kota-kota Ukraina yang menurut Putin sebagai balasan atas ledakan yang terjadi sehari sebelumnya di Jembatan Kerch yang menjadi penghubung antara Krimea dan Rusia. (*)
Baca Juga:
Moda Transportasi Perusahaan Negara Uni Eropa Dilarang Masuk Rusia