Intelektual Muda NU Sayangkan Larangan Perayaan Natal di Dua Kabupaten Sumbar Guntur Romli. (Foto: gunromli.com)

MerahPutih.com - Intelektual muda Nahdlatul Ulama Guntur Romli mengkritik adanya pelarangan perayaan Natal di dua kabupaten di Sumatera Barat. Sebab, hal itu adalah bentuk intoleransi.

Menurut Guntur, alasan larangan karena tak ada rumah ibadat resmi di Kabupaten Dharmasraya dan Kabupaten Sijunjung bukanlah alasan tepat.

Baca Juga:

Jelang Natal dan Tahun Baru, Penerbangan di Bandara Adi Soemarmo Masih Sepi

"Tidak ada rumah ibadah resmi bukan alasan melarang perayaan Natal, karena kita umat Islam juga ada yang terbiasa merayakan Idulfitri dengan salat Iduladha di luar masjid, misalnya di Kabupaten Dharmasraya sendiri salat Idulfitri di halaman rumah dinas bupati. Ini tidak ada masalah," kata Guntur kepada merahputih.com di Jakarta, Rabu (18/12).

Kabupaten Dharmasraya dalam peta. (Foto: Google Maps)
Kabupaten Dharmasraya (bertanda merah). (Foto: Google Maps)

Guntur mengungatkan soal adanya kontribusi pahlawan dan tokoh semua umat beragama termasuk Kristen terhadap kemerdekaan Indonesia hingga kini.

"Umat agama sama-sama memiliki kontribusi terhadap negeri ini," jelas Guntur.

Ia juga mengingatkan, dalam Alquran Surat Al-Maidah Ayat 82 ditegaskan cintanya orang Kristen terhadap orang Islam.

"Lalu, kenapa sekarang ada yang mengaku Islam tapi tidak suka terhadap Kristen? Ajaran siapa yang mereka anut?" sesal Guntur.

Seperti diberitakan di sejumlah media massa, umat Nasrani di dua kabupaten di Sumatera Barat dilarang beribadah dan melakukan perayaan Natal. Larangan itu ternyata bukan kali ini saja karena sudah diberlakukan setiap tahunnya.

Baca Juga:

DPR Imbau Masyarakat Hati-hati saat Liburan Natal dan Tahun Baru

Perayaan Natal dan tahun baru 2020 tidak dapat dinikmati oleh umat Nasrani di Jorong Kampung Baru, Nagari Sikabau, Kecamatan Pulau Punjung, Kabupaten Dharmasraya dan Nagari Sungai Tambang, Kabupaten Sijunjung, Sumatera Barat. Bukan hanya perayaan Natal dan tahun baru, umat Kristen Protestan dan Katolik di dua kabupaten itu juga tak bisa melakukan ibadah layaknya umat beragama lainnya.

Guntur Romli. (Foto: gunromli.com)
Guntur Romli. (Foto: gunromli.com)

Berdasarkan rapat pemerintahan nagari (kelurahan) Sungai Tambang baru-baru ini, yang terdiri dari ninik mamak (penghulu adat), tokoh masyarakat, dan pemuda setempat, tidak mengizinkan kegiatan ibadah dalam bentuk apa pun secara bersama-sama termasuk perayaan Natal. Pemerintahan nagari dan ninik mamak juga meminta agar orang-orang Kristen di Sijunjung membuat surat perjanjian tidak melaksanakan ibadah apa pun, termasuk Natal.

Larangan melakukan ibadah dan perayaan Natal wilayah itu sudah berlangsung lama. Setiap tahunnya, umat Nasrani di dua kabupaten tersebut kerap ditolak untuk melakukan ibadah secara berjemaah.

Hal itu diungkapkan oleh salah seorang jemaat dari Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) Sungai Tambang, Andi (bukan nama sebenarnya). Di wilayahnya bermukim terdapat tiga denominasi HKBP dengan umat terdata 120 kartu keluarga (KK). Lalu, Katolik 60 KK, dan Gereja Bethel Indonesia sekitar 30 KK. (Knu)

Baca Juga:

Kapolda Metro Jaya Pastikan Natal dan Tahun Baru di Jakarta Aman


Tags Artikel Ini

Zulfikar Sy

LAINNYA DARI MERAH PUTIH