Instagram Menjadi Sumber Berita bagi Milenials dan Gen Z? Para milenials tetap perlu berhati-hati saat mencari dan menyebarkan informasi di sosial media. (Foto: Unsplash/dole777)

PERKEMBANGAN media sosial belakangan ini sudah sangat meluas. Apapun dapat dilihat, dibaca dan ditonton pada media sosial.

Seperti Instagram yang tidak hanya sebagai sarana untuk memamerkan video TikTok atau posting hasil masakan saja. Sepertinya Instagram sudah menjadi salah satu sumber berita utama bagi generasi Milenials dan Gen Z.

Baca Juga:

Kekayaan Jeff Bezos Melonjak dalam Sehari, Warganet Sentil Sistem Ekonomi AS

insta
Media sosial termasuk Instagram dijadikan sumber berita oleh generasi muda. (Foto:Unsplash/Luke van Zyl)

Melansir laman TheGuardian.com, menurut sebuah data yang baru-baru ini dipublikasi oleh Reuters Institute berjudul Navigating The ‘Infodemic’: How People in Six Countries Access and Rate News and Information about Coronavirus. Penelitian itu meriset bagaimana orang-orang dalam rentang usia 18 hingga 24 tahun saat mencari berita dan informasi mengenai virus Corona di Amerika Serikat.

Menurut Reuters Institute yang dimuat dalam TheGuardian, lebih dari seperempat responden menggunakan Instagram untuk mengakses konten berita dalam minggu terakhir. Sebagai perbandingan, hanya 17% yang menggunakan koran untuk mengakses informasi. Secara global, di Jerman memiliki angka yang lebih tinggi, 38% dari anak berusia 18 hingga 24 tahun menggunakan Instagram sendiri untuk mengakses berita, dan di Argentina, angka ini mencapai 49%.

Melansir laman Insidehook, tren media sosial sebagai outlet berita tidak mengejutkan. Tampaknya ada peningkatan dalam beberapa bulan terakhir. Bukan hanya untuk mencari berita, para milenial menggunakan media sosial untuk menyebarkan berita dan berkampanye. Seperti isu gerakan Black Lives Matter. Para pakar menyarankan platform seperti ini dapat menghadirkan alternatif yang lebih menarik di era skeptisisme terhadap media-berita yang berkembang.

Baca Juga:

Rekomendasi Aplikasi untuk Pejuang LDR

insta
Para milenials beralih ke Instagram untuk mencari berita. (Foto: Unsplash/jakobowens1)

Melihat tren ini, media-media dan organisasi-organisasi aktif menggunakan Instagram sebagai sarana penyebaran informasi mereka untuk menjangkau generasi muda. Akun-akun jurnalistik seperti The New York Times (@nytimes) yang memiliki 9,8 juta followers, bahkan National Geographic (@natgeo) memiliki 141 juta followers di Instagram.

Apakah ini hal bagus? Seperti yang kita ketahui, berita hoaks sangat marak di media sosial. Walau memiliki dampak bagus karena sosial media dapat menarik perhatian pada isu-isu yang tidak mendapatkan perhatian cukup, media konvensional tetap memiliki peran besar.

"Media konvensional tetap memiliki peran besar untuk meminta tindakan dan perhatian secara nasional dan internasional," ucap Amelia Gibson, seorang asisten profesor dan Komunitas Data dan Informasi Ekuitas di Universitas Karolina utara kepada TheGuardian.com.

TheGuardian.com menulis, memang diakui bahwa tanpa sosial media kita tidak akan pernah melihat jenis dokumentasi yang kita miliki tentang isu sosial dan transparansi akan ketidakadilan. Penting bagi platform media sosial untuk bertindak sebagai warga korporat yang baik dengan maraknya iklan politik yang berbahaya dan ujaran kebencian. Jika tidak, maka kita perlu menemukan cara baru dan lebih baik untuk menyebarkan berita, ucap Grygiel, seorang profesor perguruan tinggi. (lev)

Baca Juga:

Sangat Menyentuh, 4 Webtoon Tentang Hubungan Anak dan Orang Tua


Tags Artikel Ini

Paksi Suryo Raharjo

LAINNYA DARI MERAH PUTIH