Inspiratif, Kisah "Si Okem", WNI yang Jadi Manager di BMW Internasional Kantor BMW di Jerman. (sumber: capture YouTube Goethe-Institut Indonesien)

Merahputih Berita Oto - Nama Fahmi Rizanul Amrullah mungkin belum dikenal masyarakat Indonesia, namun di BMW, nama Fahmi menjadi salah satu penentu kebijakan perusahaan internasional yang bergerak di bidang otomotif tersebut, terutama dalam pembangunan pabrik di seluruh dunia.

Saat ini, Fahmi menjabat sebagai sebagai Planing/Design Manager di BMW. Tentunya dengan jabatan itu, Fahmi memimpin staf yang berasal dari berbagai negara. Namun, posisi itu tidaklah diraih dengan mudah.

Sejak lulus dari SMA Plus Muthahhari Bandung, Fahmi Rizanul Amrullah melanjutkan studinya ke Jerman tahun 1997. Setelah menjalani proses Studienkolleg (persamaan), Fahmi kemudian kuliah di Hochschule Beuth di Berlin mengambil jurusan Verfahrens und Umwelttechnik (Teknik pengolahan dan lingkungan dan mengantarkannya meraih gelar Diplom-Ingenieur. Fahmi kemudian melanjutkan studinya di HS Esslingen jurusan Energie und Gebäudetechnik (Teknik energi dan bangunan) dengan gelar M-Eng.

Selesai menamatkan studinya itu, Fahmi yang lahir di Cirebon, Jawa Barat itu kemudian bekerja di Fritz Planung, sebuah perusahaan besar yang bergerak di bidang konstruksi dan infrastruktur sebagai konsultan.

"Setelah itu saya mencoba keberuntungan untuk mencari kerjaan baru yang kira-kira bisa membawa saya pulang ke Indonesia. Saya kemudian dapet tawaran masuk ke ROBATHERM perusahaan yang memproduksi AHU (Air Handling Unit). Saya ditempatkan sebagai manager pemasaran di Thailand, setelah kerja di situ, saya merasa itu bukan bidang saya, ahirnya saya mendapat tawaran masuk ke BMW sebagai Planing/design Manager, dan itu saya jalanin sampai sekarang," tulis Fahmi melalui pesan elektronik kepada Merahputih.com belum lama ini. Baca selanjutnya

Bertahan Hidup di Jerman

Meninggalkan Indonesia untuk melanjutkan studi ke Jerman di usia 18 tahun memang menjadi tantangan bagi Fahmi Rizanul Amrullah. Berangkat dari kondisi keluarga dengan kesederhanaan, Fahmi melakukan pekerjaan apapun untuk bisa bertahan hidup di negeri orang.

"Banyak kawan-kawan yang gagal kuliah di Jerman ketika melewati fase ini. Kesulitan lainnya adalah tentu berusaha hidup mandiri mencari biaya hidup, kuliah sambil kerja. Kerja apa saja diambil demi bisa menyambung hidup. Jadi buruh pabrik sampai jadi asisten di laboraturium," tulis Fahmi yang akrab disapa Okem oleh teman-temannya itu.

"Jadi saat musim liburan, kerja cari tambahan dan menabung untuk biaya hidup selama kuliah. Setelah sekian lama di Berlin, akhirnya saya dapat pekerjaan partime di sebuah perusahaan di Berlin," tulisnya lagi.

Dengan latar belakang keluarga, orangtuanya adalah guru, Fahmi bertekad untuk fokus dengan pendidikannya. Ia berusaha membangun pertemanan dengan berbagai komunitas mahasiswa seluruh dunia yang ada di Jerman.

"Kelemahan mahasiswa Indonesia (di Jerman) adalah salah satunya lebih suka berkumpul dengan sesama mahasiswa Indonesia yang lain. Jadi kurang bergaul dengan mahasiswa Jerman. Jadi kurang mendapatkan informasi tentang kuliah atau Bahasa Jermannya jadi kurang bagus. Malu bertanya, padahal mahasiswa Jerman kalau dinya dengan senang hati akan membantu," tulis Fahmi panjang lebar. Baca selanjutnya

Kisah Mahasiswa Jerman yang Mencontek

Sebagai warga pendatang, Fahmi tentunya ingin banyak bergaul dengan rekan-rekan sesama mahasiswa yang berasal dari Jerman. Malah Fahmi menuliskan, mahasiswa Jerman itu senang bergaul dengan mahasiswa dari Asia, terutama Indonesia karena memiliki kemampuan kuat di bidang eksakta. Tidak jarang, dalam tugas atau ujian yang diberikan kampus, mahasiswa Jerman mencontek atau ingin belajar bersama dengan mahasiswa dari Asia.

"Ada kejadian semacam ini (mencontek). Karena biasanya mahasiswa Asia kuat di ilmu-ilmu pasti seperti dasar matematika, fisika dan lain-lain. Tapi begitu masuk ke ilmu terapan, kita (mahasiswa Indonesia) agak kesusahan. Karena kurang dididik kritis, kurang pengalaman di laboraturium atau berpikir analisis," tulis Fahmi.

Hal itu pula yang membuat Fahmi kemudian semakin tertantang untuk menyelesaikan studinya di Jerman.

Tidak hanya fokus untuk belajar, Fahmi kemudian aktif berorganisasi dengan menjadi ketua PPI (Perhimpunan Pelajar Indonesia) di Jerman. Salah satu kegiatan favoritnya adalah membuat malam budaya, mengisi acara kebudayaan dan program "welcome" untuk mahasiswa Indonesia yang baru ke Jerman.

Tahun 2004 saat ada tsunami di Aceh, PPI Jerman juga ikut berkontribusi dengan mengumpulkan dana sekitar 25.000 euro.

"Kami juga suka menggelar acara olahraga, seminar, workshop dan dialog saat ada tokoh nasional datang," tulisnya. Baca selanjutnya

Memperkenalkan Indonesia dengan Prestasi

Sebagai Warga Negara Indonesia (WNI), Fahmi juga berkeinginan untuk memperkenalkan Indonesia kepada rekan-rekannya. Menariknya, ayah seorang putri itu bertekad memperkenalkan Indonesia melalui prestasi yang diraihnya. Dengan jabatannya saat ini sebagai Manajer di BMW, sangat mudah untuk para staf di kantor internasional itu mengetahui tentang Indonesia.

"Untuk membangun Indonesia dan memperkenalkannya, menurut saya enggak mesti kita balik ke Indonesia. Ketika kita berhasil di negara orang sebagai perantau, tentunya secara langsung dan tidak langsung juga mengharumkan dan membangun Indonesia," tulis Fahmi.

"Coba saja lihat, berapa banyak guru besar atau top manajer yang berasal dari Tiongkok atau India di universitas besar atau perusahaan besar. Dengan keberadaan mereka, nama negara Tiongkok dan India semakin terkenal dan disegani dunia. Tapi sayang, sekarang cuma sedikit sekali orang Indonesia yang berani berkelana ke luar (negeri)," tulis Fahmi panjang lebar.

Bekerja di perusahaan besar, diakui Fahmi tidaklah mudah. Namun bukan juga hal sulit, jika dilakukan dengan sungguh-sungguh.

"Intinya kerja keras dan harus teliti. Tidak mudah menyerah dan jangan takut bersaing dengan orang lain walaupun itu bule. Toh mereka sama-sama minum air juga," tulisnya.

Jabatannya sebagai Planning/Design Manager di BMW, sebuah perusahaan internasional, telah membawanya mengelilingi dunia. Sebab ekspansi pabrik BMW pun sudah mencapai beberapa negara seperti Jerman, Amerika Serikat, Tiongkok, Afrika Selatan dan lainnya.

"Kalau BMW mau membangun pabrik baru atau membesarkan pabrik yang ada, saya yang akan jadi pimpronya. BMW punya banyak produksi area, di Jerman, USA, Tiongkok, Austria, Afrika Selatan dan beberapa negara lainnya. Saya yang memimpin jalannya proyek pembangunannya," tulis Fahmi.

Tidak hanya itu, jika ada kegiatan pelatihan untuk karyawan dealer yang dimiliki BMW langsung, Fahmi juga kerap ditugaskan untuk memimpinnya.

Tonton video perjalanan karier Fahmi Rizanul Amrullah di sini:

BACA JUGA:

  1. Inspiratif, Foto Jokowi dari Pedagang Mebel Jadi Presiden
  2. 5 Fakta Inspiratif Juragan Kebab Indonesia
  3. Kisah Inspiratif, Gadis Berkaki Satu Mampu Jadi Atlet Lompat Jauh
  4. Kisah Inspiratif, Ayah Rela Kehujanan Demi Melindungi Anaknya

 

 

 

 

 

 



Yohannes Abimanyu

LAINNYA DARI MERAH PUTIH