Inspiratif, Anak Seorang Satpam Raih Gelar Doktor di UGM Retnaningtyas Susanti (33), anak seorang satpam yang berhasil meraih gelar Doktor (MP/Teresa Ika)

MerahPutih.Com - Keberhasilan dan kesuksesan tidak memandang status ekonomi. Sebuah kisah unik nan inspiratif mencuat dalam kegiatan wisuda Magister dan Doktor Universitas Gajah Mada Yogyakarta (UGM).

Adalah Retnaningtyas Susanti (33), anak seorang satpam yang berhasil meraih gelar Doktor. Tyas berhasil mendapat gelar baru di bidang Pariwisata. Ia diwisuda bersama 1.368 mahasiswa Pasca Sarjana UGM lainnya di Grha Sabha Pramana, Kamis 19 April 2018.

Sang Ayah, Teguh Tuparman yang bekerja sebagai satpam di Pusat Keamanan Keselamatan Kesehatan Kerja dan Lingkungan (PK4L) UGM turut datang menghadiri acara wisuda putri sulungnya ini. Teguh datang dengan mengenakan seragam satpam kebanggannya yang berwarna biru, lengkap dengan sepatu bot hitam yang menutupi kakinya. Disampingnya nampak sang istri dan anak-anak mendampinginya.

Dengan wajah berseri dan senyum yang mengambang, Tyas menceritakan kebahagiannya berhasil meraih gelar doktor.

"Saya senang bisa membahagiakan kedua orangtua saya," ujar Tyas di UGM usai di wisuda.

Perjuangan Tyas meraih gelar Doktor tidaklah mudah. Lahir dikeluarga berekonomi pas-pasan dengan ayah yang bekerja sebagai seorang satpam dan ibu yang tidak bekerja membuat mentalnya menjadi kuat dan tidak mudah menyerah.

Putri Satpam Raih Gelar Doktor di UGM
Tyas bersama kedua orangtuanya (MP/Teresa Ika)

Walau hanya anak seorang satpam, sejak dulu Tyas sudah bertekad untuk menempuh pendidikan hingga gelar tertinggi. Dengan dukungan penuh dari orang tuanya, usai lulus SMA Tyas melanjutkan pendidikan sarjana di Program Studi Antropologi BUdaya di UGM. Ia menyelesaikan jenjang S1 dalam waktu 3 tahun 7 bulan.

Selepas lulus sarjana ia sempat bekerja sebagai peneliti di Pusat Studi Kebijakan dan Kependudukan (PSKK) UGM. Seiring berjalannya waktu, kecintaannya terhadap penelitian yang ia tekuni menumbuhkan impian di dalam dirinya untuk berprofesi sebagai dosen. Dua tahun kemudian ia memutuskan melanjutkan studinya di jenjang S2.

“Waktu saya kuliah S1 Bapak dukung penuh. Meski awalnya saya tidak yakin bisa kuliah, Bapak yakinkan bahwa saya bisa kuliah. Tapi waktu saya mau S2 Bapak tidak bisa membiayai lagi karena adik-adik saya juga masih sekolah semua,” tutur Tyas.

Ia pun bertekad untuk membiayai sendiri kuliahnya. Berbagai pekerjaan sampingan pernah ia tekuni demi mencari penghasilan tambahan, mulai dari bekerja di warung kopi hingga berjualan salak.

Tahun 2011 ia berhasil membawa pulang gelar master di bidang pariwisata, gelar yang membuka jalan baginya untuk memulai profesi dosen di Universitas Andalas Padang. Pada tahun 2013, ia pun kembali lagi ke Jogja untuk studi S3 bidang Pariwisata dengan beasiswa BPPDN Dikti.

Segala kerja keras pun membuahkan hasil. Akhirnya dosen yang terlahir dari keluarga ekonomi pas-pasan ini kini resmi menyandang gelar doktor.

"Saya masih belum berhenti bermimpi. Suatu hari nanti, saya ingin Bapak dan Ibu melihat saya dikukuhkan sebagai guru besar,," katanya mantab sambil merangkul kedua orangtuanya.

Sang Ayah, Teguh tak henti-hentinya mengucap syukur pada Tuhan. Sejak Tyas kecil, terbesit harapan agar sang putri suatu hari kelak bisa bersekolah di tempatnya bekerja. Karena itu, ia sering membawa Tyas kecil ke tempat kerjanya, dan mengajaknya ikut berpatroli pada akhir pekan.

“Kan saya kerja di tempatnya orang-orang pintar, jadi saya ingin juga anak saya nanti bisa jadi seperti orang-orang ini,” kata Teguh.

Keinginannya itupun menjadi nyata. Walau harus mengutang kesana kemari dan berkorban moril dan materi, putri sulungnya berhasil meraih gelar tertinggi di UGM. Hebatnya lagi, Teguh berhasil menghantarkan ketiga anak lainnya ke jenjang sarjana.

Anak kedua Teguh telah lulus S1 dari kampus UGM. Sementara anak ketiga juga sudah meraih gelar Sarjana di Universitas Negeri Yogyakarta. Sedangkan anak keempatnya kini sedang menempuh S1 di BSI.

Pria yang sudah berprofesi sebagai satpam selama 33 tahun ini berpesan kepada seluruh orangtua untuk tak menyerah mendukung dan memperjuangkan pendidikan anak-anak hingga jenjang tertinggi.(*)

Berita ini ditulis berdasarkan laporan Teresa Ika, reporter dan kontributor merahputih.com untuk wilayah Yogyakarta dan sekitarnya.

Baca berita menarik lainnya dalam artikel: Plus Minus Dosen Asing dan Dilema Perguruan Tinggi Indonesia



Eddy Flo

LAINNYA DARI MERAH PUTIH


berita-singlepost-banner-4