Ini Yang Dilakukan Badan Litbang Kemenperin Kurangi Barang Impor Ilustrasi Inovasi Kemenperin. (Foto: Kemenperin)

MerahPutih.com - Unit penelitian dan pengembangan Kementerian Perindustrian terus melakukan inovasi yang bisa dimanfaatkan oleh sektor industri, terutama untuk mendorong investasi baru yang dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi nasional.

Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI) Kemenperin Doddy Rahadi menegaskan, unit-unit litbang di lingkungan Kemenperin telah banyak menghasilkan berbagai inovasi yang berpotensi untuk dikembangkan sebagai industri substitusi impor.

Misalnya, kata ia, di bidang industri besi dan baja, Balai Besar Logam dan Mesin (BBLM) di Bandung, telah menguasai teknologi litbangyasa yang bisa membantu industri nasional membuat komponen alat berat dari baja cor untuk pengganti produk impor seperti bracket, boss, dan sprocket. Bahkan, telah menjalin kerja sama dengan PT Barata Indonesia dalam pembuatan prototipe roda kereta api.

Baca Juga:

Masuk Usia 74 Tahun, Polri Diingatkan Profesional dan Netral Saat Pemilu

Di samping itu, BBLM Bandung melakukan kerja sama litbangyasa dengan industri strategis nasional seperti PT Dirgantara Indonesia dalam pengelasan prototype landing gear pesawat N-219 dan mampu memproduksi tapak rantai untuk kendaraan lapis baja (track link tank) milik Tentara Nasional Indonesia (TNI).

Selain itu, BBLM Bandung terlibat dalam pembuatan mobil pedesaan yang merupakan hasil kerja sama dengan Institut Teknologi Nasional (Itenas), Politeknik Manufakturing (Polman), dan Politeknik Sekolah Tinggi Manajemen Industri (STMI) Jakarta.

Sementara Balai Besar Bahan dan Barang Teknik (B4T) juga telah menciptakan inovasi substitusi pasir ottawa yang selama ini diimpor dengan pasir silika lokal sebagai bahan bantu dalam pengujian mutu semen.

Balitbang Kemenperin
Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI) Kemenperin Doddy Rahadi dan pegawai. (Foto: Kemenperin)

B4T telah berhasil membuat insulated rail joint (IRJ) rel kereta api dari bahan komposit serat gelas dan epoksi resin bertulang baja yang selama ini masih diimpor. Kemudian juga ada litbangyasa terkait energy storage, dan masih banyak lagi.

Berikutnya, masih di Kota Kembang, Balai Besar Pulp dan Kertas (BBPK) menghasilkan inovasi litbang daur ulang kertas dan karton kemasan aseptik. Hasil daur ulang berupa pulp serat panjang telah digunakan untuk bahan baku pembuatan kertas dan karton, komposit polyfoil (dari polietilen dan aluminium foil) telah dimanfaatkan untuk atap gelombang, papan partisi, dan luggage cover kendaraan roda empat.

Komposit polyfoil juga dapat digunakan untuk komponen interior kendaraan roda empat. Pemanfaatan tandan kosong sawit (TKS) secara mekanis berpotensi untuk menyubstitusi impor recovered paper sebagai bahan baku untuk industri kertas dan karton (paperboard). Selain itu, litbang pemanfaatan reject hydropulper (plastik) sebagai sumber energi pengganti batubara.

Baca Juga:

Warga Tidak Kerja, Pertumbuhan Ekonomi di Kuartal II Minus



Alwan Ridha Ramdani

LAINNYA DARI MERAH PUTIH