Ini Pendapat Ahli Keuangan Soal Kasus Jouska Jangan gampang tergiur dengan imbalan hasil yang tinggi. (Foto pixabay geralt)

YAKOBUS Alvin punya niat untuk berinvestasi. Lewat Jouska sejak 2018 sampai 2019, ia berinvestasi rutin di pasar saham dengan memanfaatkan jasa para ahli. Alvin meletakkan dana awal sebesar Rp65 juta di Jouska. Meski begitu, Alvin kaget ketika melihat portofolio sahamnya berada di zona merah dengan penurunan mencapai 70%.

Pengalaman Alvin langsung ramai diperbincangkan publik di media sosial. Jouska merupakan perusahaan penyedia jasa perencanaan keuangan yang sedang ramai diperbincangan akhir-akhir ini. Perusahaan perencanaan keuangan yang dimiliki oleh Aakar Abyasa Fidzuno itu dianggap merugikan klien karena menempatkan dana klien secara sembarangan.

Customer harus jeli dalam memilih perusahaan penasihat keuangan. (Foto pixabay free-photos)
Customer harus jeli dalam memilih perusahaan penasihat keuangan. (Foto pixabay free-photos)

Tak pelak, kasus tersebut mulai ramai diperbincangkan. Tak hanya itu, timbul keraguan bagi para pengguna jasa Jouska lainnya. Orang-orang awam yang baru mulai berinvestasi ikut bertanya-tanya, apakah menggunakan jasa penasihat keuangan merupakan hal yang tepat? Bagaimana cara memilih perusahaan penyedia jasa penasihat keuangan yang baik dan benar?

Untuk menjawab beberapa pertanyaan itu, MerahPutih.com bertanya kepada Rizki Marman Saputra, seorang manajer di salah satu lembaga keuangan milik BUMN di Jakarta. Rizki telah memiliki sertifikat profesional sebagai perencana keuangan seperti certified financial planner, qualified wealth planner, dan associate estate planning practitioner.

BACA JUGA:

Cara Mempersiapkan Dana Darurat Selama COVID-19 Menurut Perencana Keuangan

Rizki mengatakan permasalahan dari salah satu perusahaan advisory jasa keuangan tersebut harus dilihat dari kedua sudut pandang, baik sebagai pelaku perusahaan penyedia jasa penasihat keuangan maupun klien atau pengguna jasa tersebut.

Perusahaan advisory harus menyadari pentingnya KYC. (Foto pixabay skitterphotos)
Perusahaan advisory harus menyadari pentingnya KYC. (Foto pixabay skitterphotos)

Dari sisi klien, pengetahuan tentang perencanaan keuangan dan investasi sangatlah penting untuk mencegah kerugian. Rizki menyebutkan beberapa hal yang harus dipelajari, salah satunya ialah tujuan keuanganmu. Pertimbangkan advise dari perusahaan penasihat keuangan dan sesuaikanlah dengan risk profile masing-masing. "Jangan pernah percaya kepada imbal hasil yang sangat tinggi karena setiap return tinggi, berpotensi pula untuk kerugian yang cukup tinggi," jelas Rizki kepada MerahPutih.com.

Kedua, hal terpenting ialah tidak memberikan account dan password pribadi investasi/tabungan yang bersifat confidential ke siapa pun, termasuk penasihat keuangan sendiri.

BACA JUGA:

3 Sektor Ekonomi di Dunia yang Paling Parah Terpengaruh COVID-19

Ia juga menyarankan sebaiknya kita memahami fungsi penasihat keuangan dan manajer investasi yang sesungguhnya. Perlu diketahui bahwa perusahaan jasa penasihat keuangan tidak diperkenankan untuk melakukan jasa diluar advisory karena adanya fungsi dan tujuan yang berbeda dari sisi regulator. Apalagi jika sampai memiliki kewenangan untuk menempatkan portofolio nasabahnya ke instrumen keuangan.

Jangan memberikan akun dan password investasi atau tabungan ke siapapun. (Foto pixabay free-photos)
Jangan memberikan akun dan password investasi atau tabungan ke siapa pun. (Foto pixabay free-photos)

Perusahaan advisory tidak diperkenankan untuk mengeksekusi portofolio customer ke portofolio instrumen keuangan. Hanya sang klien yang berkenan untuk mengeksekusi, meski ia mendapatkan pendapat dan arahan dari advisor. Klien juga tidak boleh memberikan akun keuangannya mulai dari akun tabungan, sekuritas, dan lainnya ke perusahaan penasihat keuangan untuk dijalankan dan melakukan transaksi jual-beli.

Lain halnya dengan sebuah perusahaan manajer investasi. Mereka mempunyai izin dari regulator untuk mengelola fund dan menempatkan portofolio nasabahnya dengan term of condition yang jelas dari setiap nasabahnya.

ToC harus dijabarkan sejelas-jelasnya oleh perusahaan. (Foto pixabay jarmoluk)
ToC harus dijabarkan sejelas-jelasnya oleh perusahaan. (Foto pixabay jarmoluk)

Dari sisi perusahaan penyedia jasa advisory atau manajer investasi, perlu diingatkan mengenai pentingnya KYC (know your customer). Perusahaan juga harus selalu terbuka terhadap informasi dengan customer untuk mencegah kerugian dari kedua belah pihak, apalagi soal term of condition. ToC dalam suatu perjanjian pembelian jasa atau produk keuangan terhadap customer perlu disampaikan sejelas-jelasnya untuk mencegah kerugian dari kedua belah pihak di kemudian hari.

"Transparan, jujur, independen, dan akuntabel ialah modal bagi perusahaan jasa penasihat keuangan untuk tetap eksis di era digital ini," jelas Rizki. (shn)

BACA JUGA:

4 Hal ini Bikin Kantong Milenial dan Gen Z Jebol!

Kredit : shenna

Tags Artikel Ini

Shenna

LAINNYA DARI MERAH PUTIH