Ini Jejak-jejak Oknum TNI Sebelum dan Sesudah Perusakan Polsek Ciracas Konferensi pers kondisi korban penyerangan TNI di Polsek Ciracas, di Markas Puspom TNI AD, Jakarta Pusat, Kamis (3/9). (MP/Kanugrahan)

MerahPutih.com - Para oknum TNI pelaku penyerangan Polsek Ciracas terlebih dahulu berkumpul di Arundina, lokasi Prada Muhammad Ilham mengalami kecelakaan. Di Arundina, para rombongan pun melakukan perusakan.

"Dari hasil rusak laporan itu, sejumlah 41, ada pelapor nomor 25, nomor 26, 27 ini di Arundina melaporkan kerusakan," kata Komandan Polisi Militer (Danpom) Kodam Jaya Kolonel CPM Andrey Swatika Yogaswara, dalam jumpa pers di Puspomad, Jakarta Pusat, Kamis (3/9).

Baca Juga:

Luka Para Korban Penyerangan TNI, Pendarahan Paru hingga Retina Lepas

Kemudian, rombongan pelaku melakukan perjalanan menuju Jalan Raya Bogor. Pada pukul 01.00 WIB, di sepanjang perjalanan itu, pelaku juga melakukan perusakan.

"Terus kami susuri, beserta dibantu Pusintelad, Sintel kemudian data dari POM TNI juga kami berkolaborasi, terus kami lacak timbul di 01.00 ada pelapor nomor 22, 24, 35. Kemudian timbul ada pelapor nomor 3 (01.00) dan 6 (00.30)," katanya.

Rombongan pelaku kemudian menuju ke Ciracas. Andrey mengungkapkan, di perjalanan itu, para pelaku pun melakukan perusakan di Polsek Pasar Rebo, Ciracas, Jakarta Timur sekitar pukul 01.13 WIB.

"Terus jalan terus bapak, ada pelapor nomor 2, dan 01 itu di 01.13," ujar Andrey.

Andrey mengatakan, para oknum TNI tersebut kemudian terus bergerak di Jalan Raya Bogor hingga menuju Polsek Ciracas, Jakarta Timur.

Di Polsek Ciracas mereka kemudian melakukan perusakan hingga pembakaran mobil.

"Dapat kami simpulkan sementara bahwa mulai pergerakan di Arundina, mereka berkumpul berkelompok, terus bergerak terus menerus seiring dengan berjalannya waktu sampai ke Ciracas. Ke Polsek Ciracas. Ini kejadian sekitar pukul 02.15 karena ada pelapor nomor 5 sama pelapor 30," bebernya.

Andrey menegaskan, selama perjalanan itu, perusakan maupun penganiayaan tidak hanya dilakukan kepada polisi.

Penganiayaan juga dilakukan terhadap warga sipil yang tidak sengaja bertemu dengan rombongan pelaku.

"Ini korbannya masyarakat sipil semua. Ini yang terakhir kami terima itu jam 20.00 tadi malem, pelipis di sini sobek, tertusuk kaca, dipukul oleh besi, tembus kaca, sampai sekarang masih dirawat," ungkap Andrey.

Konferensi pers kondisi korban penyerangan TNI di Polsek Ciracas, di Markas Puspom TNI AD, Jakarta Pusat, Kamis (3/9). (MP/Kanugrahan)
Konferensi pers kondisi korban penyerangan TNI di Polsek Ciracas, di Markas Puspom TNI AD, Jakarta Pusat, Kamis (3/9). (MP/Kanugrahan)

Usai merusak Polsek Ciracas, Andrey mengatakan, rombongan pelaku bergerak menuju Cafe Domas dan Cafe Taipan Nauli di kawasan Cipayung, Jakarta Timur. Hal itu terungkap dari CCTV cafe tersebut dan laporan masyarakat yang menjadi korban.

"Ini terus berjalan terus sampai ke arah Cafe Domas dan Cafe Taipan. CCTV yang terbaru kami dapatkan, berdasarkan itu juga laporan dari masyarakat. Jadi masyarakat sangat peduli melaporkan tentang kejadian, CCTV yang ditempatkan di Cafe Domas dan Cafe Taipan, yang rusak kelihatan," tuturnya.

"Dari situ kami bisa mengidentifikasi beberapa orang. Makanya tadi malam kami naikkan dari 22 tersangka, tambah 7 tersangka. Jadi total 29. Dan ini kemungkinan akan terus bertambah, total yang update pagi ini yang dijelaskan tadi 19 satuan, itu terus akan bertambah, berbagai macam satuan kami panggil apabila terkait dengan rombongan mereka," sambung Andrey.

Andrey mengungkapkan, rombongan pelaku kemudian berpisah di kawasan Taman Mini Indonesia Indah (TMII). Dari TMII, rombongan pelaku mulai terpisah dan kembali melakukan perusakan.

"Kemudian terakhir mereka pisah setelah dari Taman Mini ini terakhir ada dari jam 2.00, 2.50 mereka mulai mencar-mencar dan merusak. Mungkin gerobak-gerobak yang ketemu di jalan, tanpa sebab," kata Andrey.

Peristiwa penyerangan Polsek Ciracas terjadi pada dini hari, Sabtu (29/8). Sejumlah kendaraan dan bangunan di Polsek Ciracas dirusak hingga dibakar. Selain Polsek Ciracas, Polsek Pasar Rebo juga diserang.

Belakangan diketahui, perusakan itu diduga disebabkan oknum anggota TNI, Prada Muhammad Ilham. Prada Ilham, yang mengalami kecelakaan tunggal, mengaku dikeroyok sehingga memicu perusakan itu.

Akibatnya, mobil dan fasilitas di Polsek Ciracas rusak. Kendaraan bermotor bahkan dibakar massa yang diperkirakan mencapai 100 orang. Selain itu, 16 orang menjadi korban kekerasan dan 83 unit menjadi korban kerusakan.

Baca Juga:

Danpuspom Tegaskan Tiga Matra TNI Terlibat dalam Penyerangan Polsek Ciracas

Danpuspomad, Letjen TNI Dodik Widjanarko memastikan Prada MI terluka akibat kecelakaan tunggal.

Prada MI diduga menyebar berita bohong dirinya mengalami pengeroyokan yang menyebabkan sejumlah oknum prajurit TNI AD menyerang Mapolsek Ciracas.

"Prada MI sedang dirawat intensif di rumah sakit karena kecelakaan tunggal berdasarkan olah tempat kejadian perkara (TKP) didukung hasil visum dokter, rekaman CCTV, dan keterangan sembilan saksi," ucap Dodik.

Selain itu Puspomad mengungkap kemungkinan dugaan penggunaan narkoba oleh Prada MI.

Oleh sebab itu Puspomad menggandeng Badan Narkotika Nasional (BNN) dalam pemeriksaan terhadap Prada MI dan saksi-saksi lainnya.

"Penyidik Pomad sedang menunggu hasil pemeriksaan laboratorium dalam dugaan penggunaan narkoba. Sampel urine, darah, dan rambut sudah kami serahkan ke Labfor BNN," ujarnya.

Dalam konferensi pers tersebut, Puspomad menetapkan 29 tersangka kasus penyerangan Polsek Ciracas dari oknum TNI AD. Sebanyak 21 saksi masih diperiksa intensif sementara satu lainnya dilepas karena dinilai murni sebagai saksi. (Knu)

Baca Juga:

Polsek Ciracas Dirusak Oknum TNI, Pangdam Jaya: Masih Banyak Anggota yang Baik

LAINNYA DARI MERAH PUTIH
Satgas COVID-19 Minta Pemda Awasi Perayaan Maulid Nabi
Indonesia
Satgas COVID-19 Minta Pemda Awasi Perayaan Maulid Nabi

Ia juga mengingatkan pemerintah daerah untuk ikut mengawasi berbagai perayaan Maulid Nabi yang digelar, termasuk untuk kegiatan festival seni atau budaya lainnya.

Ketum Parpol Diminta Bikin Kesepakatan Tidak Kampanye Undang Massa
Indonesia
Ketum Parpol Diminta Bikin Kesepakatan Tidak Kampanye Undang Massa

Kader-kader parpol pasti akan patuh dengan perintah ketua umumnya

Dicokok KPK di Bandara, Menteri Edhy Tersandung Ekspor Benur
Indonesia
Dicokok KPK di Bandara, Menteri Edhy Tersandung Ekspor Benur

Edhy menggantikan Permen KP Nomor 56 Tahun 2016 yang dikeluarkan pendahulunya Susi Pudjiastuti melarang ekspor benur lobster.

Kedelai Mahal, Tahu dan Tempe Alami Inflasi
Indonesia
Kedelai Mahal, Tahu dan Tempe Alami Inflasi

Berdasarkan data Gabungan Koperasi Tahu Tempe Indonesia (Gakoptindo), harga kedelai di Jakarta, saat ini melonjak hingga Rp9.300 per kilogram

Teken Pakta Integritas, Paslon Dilarang Rayakan Kemenangan dengan Konvoi
Indonesia
Teken Pakta Integritas, Paslon Dilarang Rayakan Kemenangan dengan Konvoi

Dalam isi pakta integritas tersebut kedua paslon dilarang merayakan kemenangan dengan melakukan konvoi.

Rumah Hantu Sragen Diaktifkan Kembali untuk Karantina Pemudik
Indonesia
Rumah Hantu Sragen Diaktifkan Kembali untuk Karantina Pemudik

Rumah tersebut sudah 11 tahun ini tak ditempati oleh pemiliknya

Besok Sekolah di DKI Mulai Belajar Tatap Muka, Orang Tua Boleh Tak Izinkan Anaknya Ikut
Indonesia
Besok Sekolah di DKI Mulai Belajar Tatap Muka, Orang Tua Boleh Tak Izinkan Anaknya Ikut

Setiap butir penilaian yang ada pada Siap Belajar memiliki kriteria yang disesuaikan

Uang Denda Tak Pakai Masker di Jakarta Capai Rp1 Miliar
Indonesia
Uang Denda Tak Pakai Masker di Jakarta Capai Rp1 Miliar

Uang denda yang terkumpul dari warga yang tak memakai masker di Jakarta mencapai Rp1 miliar.

Vaksinasi Bagi Tokoh Lintas Agama di Masjid Istiqlal Dihentikan
Indonesia
Vaksinasi Bagi Tokoh Lintas Agama di Masjid Istiqlal Dihentikan

Kapolsek Sawah Besar, AKP Maulana Mukarom menuturkan, pemberhentian sementara berdasarkan hasil pemantauan Satgas COVID-19.

Mulai 1 Januari 2021, Indonesia Tutup Pintu untuk Semua WNA
Indonesia
Mulai 1 Januari 2021, Indonesia Tutup Pintu untuk Semua WNA

Menteri Luar Negeri (Menlu) Retno Marsudi menuturkan keputusan ini untuk mencegah penyebaran varian baru virus penyebab COVID-19, yang disebut menular lebih cepat.