Ini Isi Pidato Ridwan Kamil di Depan Ribuan Relawan Ridwan Kamil sedang pidato di depan para relawan. (MP/Mauritz)

MerahPutih.com - Salah satu petikan dari pembukaan UUD 1945 menjadi salah satu visi yang ingin diwujudkan oleh Ridwan Kamil dan Uu Ruzhanul Ulum sebagai cagub dan cawagub Jawa Barat tahun 2018.

Adapun yang dimaksud, perjuangan para pendahulu dan pendiri bangsa telah sampai pada saat yang berbahagia dengan selamat sentosa mengantarkan rakyat Indonesia ke depan pintu gerbang kemerdekaan negara Indonesia, yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur.

Harapan tersebut disampaikan Ridwan Kamil saat menyampaikan pidato politik di hadapan ribuan relawan, simpatisan dan pendukung dari partai simpul dan politik yang memadati Sasana Budaya Ganesha (Sabuga), Kamis (8/2).

Menurut Ridwan Kamil, Jawa Barat sebagai provinsi terbesar di Indonesia yang memiliki banyak potensi untuk mendorong keadilan dan pembangunan ekonomi. Provinsi ini dikaruniakan desa-desa yang memiliki potensi alam yang luar biasa, dan kota-kota yang memiliki peluang sebagai lokomotif pertumbuhan.

Dalam hal membangun Jawa Barat, Emil mengatakan, diperlukan pendekatan yang seimbang antara keadilan dan pertumbuhan ekonomi, pemahaman yang komprehensif antara desa dan kota, serta visi yang kuat tentang bagaimana melahirkan manusia Jawa Barat yang beriman, bahagia, dan berkualitas.

Jawa Barat Juara lahir sebagai sebuah gagasan yang tulus dari hasil pemikiran yang
luhur untuk menghadirkan Jawa Barat yang mampu mengisi kemerdekaan negeri ini dengan persatuan, kedaulatan, keadilan, dan kemakmuran.

"Malam ini, kita bermufakat untuk bersama dalam barisan yang akan membawa perubahan. Perubahan harus secepatnya hadir di provinsi tercinta yang hari ini masih menyisakan banyak masalah" tegas Ridwan Kamil.

Menurut Emil, di Provinsi tercinta Jawa Barat tidak boleh lagi ada warga yang jauh dari agama dan Pancasila, tidak boleh lagi ada yang tercerabut jati diri budaya Sundanya. Di provinsi Jawa Barat, sudah tidak boleh ada lagi kegiatan berperadaban yang lemah daya saingnya.

Ridwan Kamil juga tak menginginkan lagi adanya daerah yang mengalami ketimpangan. Tidak boleh lagi muncul radikalisme dan terorisme yang membahayakan, dan tidak boleh ada lagi layanan kepada warga yang mengecewakan.

Ia juga mengingatkan kepada seluruh peserta rapat akbar agar di Provinsi Jawa Barat tercinta ini tidak boleh lagi ada warga yang tidak terbahagiakan, sembako yang harganya tak terkendalikan, dan para petani serta nelayan yang terpinggirkan.

Emil juga mengajak kepada seluruh hadirin untuk menghapuskan pengangguran, memperhatikan kesejahteraan para buruh dan guru-guru di semua tingkatan dan layanan pendidikan serta, mendorong agar ribuan pesantren dan santri-santrinya dapat belajar dengan tenang, tanpa mengalami kesusahan.

Di provinsi yang sudah berusia 72 tahun ini, Emil menegaskan tidak boleh lagi ditemukan desa-desa yang ketinggalan zaman, infrastruktur yang hancur-hancuran, serta hutan balangsak dirusak dan Citarum terkotor lingkungannya.

Oleh karena itu menurut Emil, jika warga Jawa Barat berkeinginan untuk maju, maka kita semua harus menjadi bangsa yang menghargai waktu. "Kita akan ketinggalan, jika kita selalu menyia-nyiakan waktu" tegasnya

Ridwan Kamil pun menyitir Surat Al Ashr (QS 103) dalam al Quran yang mengabarkan bahwa sesungguhnya semua manusia itu berada dalam keadaan merugi kecuali mereka-mereka yang selalu beramal saleh, saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran.

"Demi waktu, sesungguhnya manusia itu merugi. Kecuali yang yang beriman, beramal soleh, menasehati kebenaran dan kesabaran."

Emil pun mengajak seluruh hadirin untuk membagi ¼ waktu untuk diri sendiri.
dan 3/4 waktu untuk masyarakat, karena sebagaimana hadits Rasulullah SAW, Khairun nas anfauhum linnas. Manusia terbaik adalah manusia yang membawa manfaat untuk masyarakat.

"Itulah manusia-manusia yang akan jadi pemenang. Manusia-manusia yang memuliakan waktu. Itulah manusia-manusia Jawa Barat di masa depan" tegas Emil.

Suami dari Atalia Praratya ini juga mencermati situasi dan kondisi politik hari ini yang sejatinya bukan sekedar tentang hingar bingar perebutan kekuasaan, bukan pertengkaran antar golongan, dan bukan sekedar caci maki di media ataupun drama-drama penangkapan.

Politik menjadi kotor, dalam pandangan Ridwan Kamil karena para praktisi politik menghalalkan segala cara, seperti halnya doktrin politik Machiaveli di Italia. Politik pun menjadi penghancur peradaban. Emil mencontohkan runtuhnya kejayaan Islam di Andalusia, karena umat Islam saat itu saling bermuslihat untuk berkuasa.

"Jika politik menjadi kekejian, jika nafsu menjajah menjadi niatan. Ini akan seperti Hitler yang menjajah dan menindas Eropa." tegasnya.

Ridwan Kamil pun tak lupa mengutip idiom kekinian, yang ada hadir di film Dylan 1990.

“Menjadi pemimpin itu berat. Kamu tidak akan kuat. Biar aku saja. Itu kata Dilan, jika ia jadi gubernur," ucap Ridwan

Namun, ditegaskan Emil, menjadi pemimpin itu memang berat, sekaligus mulia. Menjadi mulia jika ia menjadi teladan. Menjadi mulia jika ia membawa perubahan. Menjadi mulia jika ia mengakselerasi kemajuan. Menjadi mulia jika ia visioner membawa jalan keluar.

Oleh karena itu, berbekal pengalaman dirinya dan Uu Ruzhanul Ulum saat memimpin Kota Bandung dan Kabupaten Tasikmalaya, mereka membulatkan tekad memberikan yang terbaik untuk Provinsi Jawa Barat.

"Kami berdua adalah dua kepala daerah yang memiliki pengalaman melayani umat dan rakyat,"ujarya.

Keduanya menurut Emil dapat diibaratkan sebagai sepasang montir yang setiap hari membereskan mesin rusak, mengurusi mesin-mesin pembangunan. Keduanya pun berangkat dari akar dan jati diri pesantren. Emil mengurusi pesantren pagelaran di Subang, sementara Uu kebagian turut mengurusi Pesantren Miftahul Huda yang merupakan warisan kakek-kakek mereka.

Pasangan RINDU menurut Emil adalah pasangan yang sangat klop dan cocok. Seperti mur ketemu bautnya.

"Saya berpengalaman mengurusi kota. Sahabat saya Kang UU berpengalaman mengurusi desa. Saya sering berinteraksi global. Sahabat saya Kang UU fasih berinteraksi lokal," tegasnya

Jika terpilih nantinya, pasangan RINDU ditegaskan Emil akan membawa Provinsi Jawa Barat menjadi provinsi terbaik, masyarakat terbaik dan peradaban terbaik. Sesuai yang dijanjikan Allah Swt dalam Al Qurat surat Al Imran ayat 110, sebagai umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, yang menyuruh berbuat yang makruf (kebaikan) dan mencegah dari perbuatan munkar, serta beriman kepada Allah Swt.

Oleh karena itu menurut Emil, Insya Allah pasangan RINDU akan memimpin dengan menginspirasi, bukan mengintimidasi, akan memimpin dengan menggerakkan bukan menekan, akan memimpin dengan turun tangan, bukan tunjuk tangan, akan memimpin dengan merangkul bukan memukul, dan akan memimpin dengan maju melompat bukan jalan di tempat.

Di akhir pidato, Ridwan Kamil mengajak para pendukungnya untuk mendukung RINDU dengan segala daya, ikhtiar dan keikhlasan, serta berdoa memohon kepada Allah Swt, agar Ia dan Uu diberikan kemudahan dan kelancaran selama mengikuti proses pilgub jabar tahun 2018 mendatang. (*)

Berita ini ditulis berdasarkan liputan Mauritz, reporter dan kontributor merahputih.com. Baca juga artikel Mauritz lainnya di: Ridwan Kamil Sambangi DPP PDIP, Ada Apa?


Tags Artikel Ini

Zaimul Haq Elfan Habib

LAINNYA DARI MERAH PUTIH