Ini Dia, 3 Makanan Tradisional Yogyakarta Buatan Tionghoa Bakpia Pathok (Instagram @priyopurwoko)

Di Indonesia, makanan tradisional nusantara bukan hanya buatan tangan-tangan pribumi, ternyata ada begitu banyak makanan tradisional hasil racikan non-pribumi. Bahkan, makanan-makanan itu kini sangat terkenal. Bukan hanya terkenal di lokalnya saja, melainkan hingga pelosok negeri.

Di Yogyakarta, makanan tradisional itu pun kini menjadi ikon kuliner. Makanan ini merupakan racikan orang-orang Tionghoa di Yogyakarta. Hingga kini, makanan tersebut terus dilestarikan dan menjadi ikon kuliner Yogyakarta. Sebut saja nama makanan itu, maka akan muncul di benak tentang Yogyakarta.

Apa saja makanan itu? Setidaknya, ada tiga makanan tradisional Yogyakarta buatan Tionghoa. Mau tau apa saja dan seperti apa sejarah singkatnya? Yuk simak langsung uraian singkat merahputih.com berikut ini.

1. Bakmi Jawa

Bakmi Jawa (Instagram @mioagustiyani)
Bakmi Jawa (Instagram @mioagustiyani)

Bakmi merupakan makanan asli dari Tiongkok. Sudah ada sejak zaman Dinasti Han, tepatnya 206 sebelum masehi. Kala itu sebutannya ialan "bing" atau dibaca "ping". Terbuat dari gandum, berbentuk persegi dan sedikit lebih tebal dari kulit pangsit saat ini atau berbentuk lonjoran.

Seiring perantauan orang-orang Tiongkok, bakmi pun ikut merebak di berbagai negeri. Termasuk di Nusantara pada masa itu.

Di Yogyakarta, bakmi juga ada sejak keberadaan orang-orang Tionghoa. Hal ini ditandai pula dengan adanya kampung pecinan. Makanan khas Tiongkok beradaptasi menjadi panganan yang sesuai lidah orang Jawa di Yogyakarta.

Bakmi mulai tersebar di kampung pecinan. Kemudian, seiring merebaknya, mulainya bakmi menjadi panganan khas orang Jawa. Menyesuaikan citarasa yang dapat diterima warga pribumi. Karena itulah, bumbu pun dibuat dari rempah-rempah khas Jawa dan bahan mienya sesuai dengan mie Tiongkok.

Selain itu, awalnya bakmi menggunakan minyak babi sebagai bahan masaknya. Namun, seiring jayanya penyebaran Islam oleh Mataram Islam, bakmi pun menghilangkan minyak babi.

Perpaduan antara mie dan bumbu Jawa menjadi suatu pangan khas Yogyakarta. Disebut bakmi Jawa. Makanan ini pun diterima luas masyarakat Jawa, khususnya di Yogyakarta dan Jawa Tengah.

Hingga kini, bakmi Jawa menjadi kuliner nusantara. Di Yogyakarta, makanan ini merupakan makanan wajib bagi mereka yang ingin berburu kuliner khas.

2. Bakpia Pathok

Bapkia Pathok (Instagram @priyopurwoko)
Bakpia Pathok (Instagram @priyopurwoko)

Jika pecinta kuliner nusantara mengunjungi Yogyakarta, rasanya belum lengkap kalau tidak mencicipi panganan khas Kota Pelajar ini. Salah satu panganan khas Yogyakarta ialah bakpia pathok.

Awalnya bakpia diracik oleh orang Tionghoa di Yogyakarta. Racikan awalnya dari makanan khas China, Tou Luk Pia. Bedanya dengan bakpia saat ini hanya pada isi. Awalnya berisi daging. Tepatnya tahun 1948, bakpia dibuat untuk diperjualbelikan secara eceran dari rumah ke rumah.

Seiring tingginya peminat makanan berbentuk bulat ini, bakpia mulai menjadi industri rumahan sejak 1980-an. Hingga kini, bakpia pathok telah meluas dan menjadi panganan ikon khas Yogyakarta.

Bila ingin mencicipi bakpia pathok yang masih hangat, maka jalan-jalanlah ke kawasan Kampung Pathuk Yogyakarta. Letaknya berada di Jalan KS Tubun, Danurejan, Kota Yogyakarta.

Dan, jika berjalan dari Nol Kilometer atau perempatan Malioboro - Alun-alun Utara, ambil jalur ke barat atau sisi jalur kanan jalan dari arah Malioboro. Dari perempatan tersebut, kawasan Pathuk hanya berkisar 3 kilometer. Pecinta kuliner nusantara juga dapat menggunakan jasa angkutan delman untuk wisata bakpia pathuk langsung ke pabriknya.

Di kawasan Pathuk inilah yang menjadi sejarah berkembangnya bakpia pathok. Di sini kalian akan menemui banyak pabrik bakpia, dari home industri hingga indsutri menengah. Dari bakpia yang dibuat hanya 5 orang hingga dibuat puluhan pegawai. Salah satu pabrik bakpia pathok tertua di sini ialah Bakpia Pathuk 75.

3. Kue Keranjang Jogja

Kue Keranjang (Instagram @missollaaa)
Kue Keranjang (Instagram @missollaaa)

Kue keranjang atau kue ranjang merupakan kue khas yang selalu disajkan pada saat perayaan imlek, kue ini juga disebut dengan nama nian gao.

Makanan ini pun sudah ada sejak masyarakat Tiongkok era sebelum masehi. Bahkan, diperkirakan sudah sejak era masyarakat Tiongkok kuno. Pasalnya, makanan ini menjadi bagian sesaji bagi ritual kepercayaan masyarakag setempat.

Sebagian besar rupa kue keranjang masih sama seperti dahulu. Mulai dari bentuk dan rasanya pada umumnya. Kue keranjanh terbuat dari tepung ketan dan gula yang menjadikan kue keranjang ini memiliki tekstur yang kenyal dan lengket.

Kue keranjang mulai digunakan sebagai sesaji dalam upacara persembahan kepada leluhur saat tujuh hari menjelang tahun baru imlek. Pada malam menjelang tahun baru imlek juga menjadi hidangan wajib. Kue ini biasanya juga tidak dimakan makan hingga hari cap go meh atau malam ke-15 setelah tahun baru imlek.

Di Yogyakarta, kue keranjang juga beradaptasi dengan selera khas Jawa. Dimulai dari bahannya. Bila di Tiongkok menggunakan gula biasa, di Yogyakarta kue keranjang menggunakan gula jawa. Citarasanya pun disesuaikan dengan lidah khas masyarakat Jawa yang terkenal menyukai rasa manis. Inilah yang membedakan kue keranjang jogja dengan kue keranjang pada umumnya.

Keberadaannya juga seperti keberadaan bakmi dan bakpia. Kue keranjang jogja sudah ada sejak keberadaan masyarakat Tionghoa di Yogyakarta. Bahkan semakin meluas ketika kampung pecin muncul.

Berita ini berdasarkan laporan Fredy, reporter dan kontributor merahputih.com untuk wilayah Yogyakarta dan sekitarnya. Dapatkan informasi lainnya dari Yogyakarta dalam artikel: Kenapa Imlek Identik dengan Warna Merah dan Kembang Api?



Zahrina Idzni

LAINNYA DARI MERAH PUTIH