Ini Alasan Wacana Ganjil Genap untuk Motor Mesti Ditolak Petugas Dinas Perhubungan DKI Jakarta menyosialisasikan perluasan aturan ganjil-genap di Jalan Suryopranoto, Jakarta Pusat, Senin (12/8/2019). ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra/foc.

Merahputih.com - Pengamat kebijakan publik Trubus Rahadiansyah mengkritik Peraturan Gubernur Nomor 80 Tahun 2020 tentang Pelaksanaan Pembatasan Sosial Berskala Besar Pada Masa Transisi Menuju Masyarakat Sehat, Aman, dan Produktif.

Salah satu poin penting dalam Pergub Nomor 80/2020 adalah pengendalian moda transportasi meliputi kendaraan bermotor pribadi berupa sepeda motor dan mobil beroperasi dengan prinsip ganjil genap pada kawasan pengendalian lalu lintas.

Baca Juga

Jakarta Kembali Terapkan Gage, TransJakarta Tambah 155 Armada

Ia menilai, program itu dapat berimbas kepada penambahan klaster baru penularan virus corona baru penyebab COVID-19.

Sebab, sistem ganjil genap akan mendorong pengendara beralih ke transportasi umum seperti angkutan perkotaan, Transjakarta, hingga KRL. Di titik inilah penularan mungkin terjadi antara lain di terminal, halte, hingga stasiun.

"Pasalnya saat jam sibuk, mereka butuh kendaraan umum, menunggu lama, sehingga terjadi penumpukan," kata Trubus kepada wartawan, Rabu (26/8).

Menurut dia, motor masih menjadi moda transportasi yang efektif untuk mobilisasi. Jika ada sistem ganjil genap, pengguna kendaraan bermotor akan beralih ke transportasi umum.

"Tak hanya di kendaraannya, tapi selama perjalanan akan masalah. Apalagi yang tinggal di luar wilayah penyangga Jakarta," ujar Trubus.

Ia menduga, ada kemungkinan pembelian jaket palsu ojek online. Hal itu bisa menjadi siasat pengendara motor agar tidak terkena sistem ganjil genap.

"Salah satu efek domino terjadi, orang akan membeli jaket ojol. Kemudian ojol bisa jadi tempat penularan juga, meski dalam ketentuan ojol harus membawa helm sendiri, penumpang harus membawa helm sendiri, jarak driver ke penumpang dekat meski sekarang ada sekat," kata Trubus.

Sejumlah kendaraan berhenti saat lampu merah di dekat kawasan aturan ganjil-genap, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Sabtu (6/6/2020). (ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan/hp).

Pengamat dari Universitas Trisakti ini yakin, ganjil genap untuk motor tidak akan efektif dalam implementasinya karena sulitnya pengawasan.

Selain itu Trubus juga menyebutkan bahwa tingginya ketergantungan masyarakat dalam menjadikan motor sebagai sarana transportasi membuat warga beralih ke transportasi publik, sementara layanan transportasi belum maksimal.

Ketua Fraksi PDIP DPRD DKI Jakarta Gembong Warsono mengkritik kebijakan aturan ganjil genap untuk kendaraan roda dua.

Ia khawatir adanya klaster baru jika aturan ganjil genap untuk motor diberlakukan.

Gembong menyebut warga yang terdampak aturan ganjil genap akan memilih naik transportasi umum seperti bus. Hal tersebut akan terjadi penumpukan pada transportasi umum.

"Justru dikendaraan umum akan terjadi penumpukan. Misal di TransJakarta dan bus pengumpan, yang paling parah itu ya di bus pengumpan itu, kalau TransJakartanya mungkin bisa diatur secara baik, tapi kan di bus pengumpan kan relatif lebih longgar protokol kesehatannya," kata Gembong kepada wartawan.

Gembong khawatir penumpukan massa tersebut akan berakibat fatal. Salah satunya terciptanya klaster Corona baru. "Maka disitulah jadi klaster baru penyebaran COVID-19 , khawatirkan itu," kata Gembong.

Baca Juga

Ganjil Genap Berlaku Lagi, DKI Jakarta Optimalkan Angkutan Umum

Sebelumnya, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menerbitkan ketentuan baru pengendalian moda transportasi saat PSBB transisi di Ibu Kota. Mobil dan sepeda motor pribadi dikenai sistem ganjil-genap.

Hal tersebut diatur lewat Peraturan Gubernur Nomor 80/2020 tentang pelaksanaan PSBB pada masa transisi menuju masyarakat sehat, aman, dan produktif.

Dalam pasal 7 disebutkan pengendalian moda transportasi ini dilaksanakan sesuai dengan masa pembatasan sosial berskala besar (PSBB) transisi. (Knu)

LAINNYA DARI MERAH PUTIH
KPU Depok Ingin Partisipasi Pemilih Capai 77,5 Persen
Indonesia
KPU Depok Ingin Partisipasi Pemilih Capai 77,5 Persen

Berdasarkan data yang ada, partisipasi pemilih dalam kontestasi Pilkada Kota Depok walaupun kecil namun trennya selalu meningkat. Pada 2010 sebesar 54,19 persen dan 2015 menjadi 56,15 persen.

Periksa Belasan Saksi, Bareskrim Usut Aliran Uang Korupsi Bupati Nganjuk ke Parpol
Indonesia
Periksa Belasan Saksi, Bareskrim Usut Aliran Uang Korupsi Bupati Nganjuk ke Parpol

Polisi masih terus mengusut kasus suap terkait pengisian jabatan di lingkungan Pemerintah Kabupaten Nganjuk

Uji Klinis Vaksin COVID-19 di Bandung Masuki Monitoring Efikasi
Indonesia
Uji Klinis Vaksin COVID-19 di Bandung Masuki Monitoring Efikasi

Presiden Joko Widodo (Jokowi) menjanjikan, jika vaksin COVID-19 yang akan disuntikkan ke masyarakat telah melalui uji klinis yang benar sehingga dapat dipastikan keamanan dan efektivitasnya.

Anies: Tingginya Klaster Perkantoran akibat Karyawan Abai Pakai Masker
Indonesia
Anies: Tingginya Klaster Perkantoran akibat Karyawan Abai Pakai Masker

Biasanya, karyawan melepas maskernya ketika berada di kantor.

Kata KPK Soal Kabar Harun Masiku Meninggal Dunia
Indonesia
Kata KPK Soal Kabar Harun Masiku Meninggal Dunia

"Sejauh ini tidak ada informasi valid yang KPK terima terkait meninggalnya buronan tersebut," kata Plt Juru Bicara KPK, Ali Fikri dalam keterangannya, Selasa (12/1).

Korupsi Bansos COVID-19 Mensos Juliari, LPSK Siap Bantu Para Saksi
Indonesia
Korupsi Bansos COVID-19 Mensos Juliari, LPSK Siap Bantu Para Saksi

Mensos Juliari Batubara telah ditetapkan tersangka oleh KPK atas dugaan kasus suap bantuan sosial (bansos) berupa sembako penanganan COVID-19.

Menkes Siap Tambah Hotel Berbintang Buat Isolasi Orang Tanpa Gejala
Indonesia
Menkes Siap Tambah Hotel Berbintang Buat Isolasi Orang Tanpa Gejala

Menurut Terawan, kamar hotel untuk isolasi itu terdiri dari hotel bintang 2 dan 3.

Abu Janda Akui Cuitannya ke Pigai karena Bela Hendropriyono
Indonesia
Abu Janda Akui Cuitannya ke Pigai karena Bela Hendropriyono

Ia menjelaskan mengenai tulisan di media sosialnya karena membela mantan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN), Hendropriyono

Dijebak Korban, Pelaku Pencurian 11 Ikan Cupang Seharga Rp4,9 Juta Ditangkap Polisi
Indonesia
Dijebak Korban, Pelaku Pencurian 11 Ikan Cupang Seharga Rp4,9 Juta Ditangkap Polisi

Pelaku pencurian adalah Muhammad Galih Prasetyo (22) warga Kampung Sumber Nayu Rt 04/RW 06, Kelurahan Joglo, Kecamatan Banjarsari, Solo.