Ini Alasan Nelayan Yogyakarta Pilih Jaring Ketimbang Cantrang Nelayan jaring dogol beraktivitas di sekitar perahunya yang bersandar di muara Glayem, Juntinyuat, Indramayu, Jawa Barat, Senin (8/1). ANTARA FOTO/Dedhez Anggara

MerahPutih.com - Nelayan di pantai selatan Yogyakarta sejak dulu tak menggunakan cantrang untuk menangkap ikan. Mereka memilih menggunakan jaring dan gillnet untuk menghimpun hasil laut. Kearifan lokal juga masih kental terasa dalam kegiatan penangkapan ikan.

Rujimantoro, nelayan di Pantai Ngandong Gunungkidul menjelaskan cantrang tidak cocok dipakai di lautan selatan Gunungkidul yang tergolong laut dalam. Sebab cara kerja cantrang adalah dengan menyebarkan ke laut hingga ke dasar dan kemudian mengeruk seluruh benda dan mahluk hidup yang ada di dalam laut.

"Kalau disinikan lautnya dalam. Gak akan bisa sampai ke dasar laut," kata Ruji melalui sambungan telepon di Yogyakarta, Kamis (11/1)

Masyarakat menganggap proses penangkapan ikan dengan cantrang merusak keseimbangan ekosistem biota laut. Ia menjelaskan saat cantrang dilepaskan, ikan-ikan kecil turut terangkat. Padahal ikan kecil tersebut adalah makanan bagi para ikan besar.

“Kalau ikan kecil misal ikan teri diambil, ikan besar nanti makannya apa? Ekosistem biodata laut bisa terganggu,” jelas Pria yang juga menjabat sebagai ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HSNI) Gunungkidul ini.

Faktor-faktor tersebut membuat sekitar 1200 nelayan di seluruh Gunungkidul enggan menggunakan cantrang sedari dulu. Saat hendak menangkap ikan, nelayan menebar jaring dengan lebar 12-120 meter ke laut. Kemudian membiarkannya selama beberapa jam. Jika jarring terasa penuh, nelayan akan segera mengangkatnya.

Sementara itu Karmanto, nelayan di pantai Depok, Bantul mengatakan seluruh nelayan di wilayahnya juga menolak memakai cantrang. Bentuk cantrang yang lebar dan besar hanya bisa dipakai di kapal yang besar dengan kapasitas gross ton.

“Nelayan disinikan tangkep ikan masih pakai kapal tradisional, kaya Tongkrang dan kapal kayu bermotor,” jelasnya.

Berita ini merupakan laporan Teresa Ika, kontributor merahputih.com, untuk wilayah Yogyakarta dan sekitarnya.


Tags Artikel Ini

Andika Pratama

LAINNYA DARI MERAH PUTIH