Inge van Dongen Membawa Sarung dan Kebaya Sampai ke Belanda Sarung dan kebaya menjadi bukti akar budaya tidak dapat tercerabut begitu saja. (Foto: Aryani Collection)

AKAR budaya agaknya tidak bisa begitu saja tercerabut meskipun pohonnya sudah menemukan tanah lain untuk didiami. Inge van Dongen memnbuktikan bahwa meskipun tinggal di tanah orang, namun dirinya tetap membawa Indonesia di dalam darahnya.

Sudah 15 tahun lamanya Inge tinggal di Zwolle, Belanda, yang tadinya ikut suami yang warga negara sana dan membangun keluarga, ternyata tak mampu mengalahkan kegelisahan dalam dirinya. Ia tidak menolak menjadi seorang istri dan ibu yang memiliki rutinitas berbeda saat masih berada di Jakarta. Karier yang sudah mapan, ia tinggalkan demi membangun keluarga bersama suaminya.

“Setelah beberapa waktu saya mulai merindukan tantangan untuk kembali berkarya atau bekerja yang sesuai dengan passion saya. Saya mencoba menyelaraskan antara kemauan dan kemampuan,” jelas Inge yang mengeluarkan desainnya dalam brand Aryani Collection.

inge van dongen
Kebaya khas Indonesia yang diterima karena keeksklusifannya. (Foto: Facebook/infoaryani)

Fesyen tradisional Indonesia


Suaminya tidak keberatan dengan usaha yang dibuat oleh Inge, malahan sangat menyukai kemandirian yang ditunjukannya. Hanya saja ia memang harus pandai-pandai membagi waktu antara bisnis dan keluarga. Ia hanya mau bertemu dengan klien-kliennya dua kali dalam sehari dan harus melalui perjanjian. Sedangkan untuk pemasaran onlinenya, Inge dapat melakukannya sepanjang hari sejauh tidak mengganggu ritmenya dengan anak dan suaminya.

Berangkat dari kesukaannya pada fesyen yang membuat Inge yakin melangkah menekuni bisnisnya dalam bidang ini. Apalagi sewaktu masih bekerja di Jakarta, Inge memang berada dalam lingkungan tekstil dan fesyen. Modal pengetahuannya inilah yang membuatnya dengan mudah mencari berbagai material yang ia inginkan.

inge van dongen
Inge van Dongen, mengambil material langsung dari Indonesia. (Foto: Facebook/infoaryani)

“Bermodalkan semangat saja. Saya mulai dengan test market, menawarkan produk secara online dan menjual produk dengan buka stand di acara-acara Pasar Malam seperti Trade Fairs, serta mengadakan fashion show kecil-kecilan,” ungkap Inge yang sempat pula berkecimpung dalam dunia media massa.

Brand yang ia bangun memang memasarkan produk-produk fesyen namun ia memberikan nilai tambah dengan nilai klasik. Ia membawa berbagai bentuk fesyen tradisional tanah air yakni sarung dan kebaya. Semua material yang ia butuhkan diambil dari Indonesia bahkan pengerjaannya dilakukan di tanah air. Hanya saja, Inge membeberkan finishingnya dikerjakan di workshopnya di Belanda.

Konsep klasik menjadi abadi

Konsep yang Inge bawa untuk pasar disana adalah klasik yang secara filosofi ia membeberkan sebagai kenangan yang sifatnya abadi.

“Idenya berawal dari membangkitkan faktor nostalgia untuk mencintai sarung dan kebaya sebagai bagian dari warisan budaya Indonesia. Jadi saya banyak menawarkan style Kutubaru, sarong encim dan lain-lain dalam koleksi ready to wear dan juga cutting yang simple karena less is best. Disamping itu, saya sendiri sangat menyukai kebaya dan sering memakainya dalam banyak kesempatan. Menurut saya berkebaya itu selain menampilkan keanggunan wanita juga sangat Indonesia sekali,” kata Inge.

inge van dongen
Membuat busana yang diproduksi secara terbatas. (Foto: Facebook/infoaryani)

Apalagi di Belanda banyak imigran asal Indonesia terutama Maluku yang masih tertarik dengan sarung dan kebaya. Kebutuhan pada produk itu digunakan untuk acara-acara seremonial yang sifatnya resmi. Inge mengatakan ada perbedaan dengan di Indonesia, karena disini berlaku empat musim. Makanya ia sangat memperhatikan pemilihan material dan warna.

Membuat produk eksklusif


Bagi kliennya mengenakan desain buatannya adalah kebanggaan. Apalagi bagi mereka yang masih berdarah Indonesia, ada kebanggan mereka memiliki gaya busana seperti ibu atau oma mereka pada zaman dahulu.

“Hampir sebagian besar pelanggan sangat menghargai dan menunjukkan antusiasme serta ketertarikan adanya filosofi dibalik pilihan style atau motif batik dari sarung dan kebaya, misal: motif Parang kusumo atau Sido Mukti. Kalaupun terkadang harga batik tulis lebih mahal dari jenis kain biasa tapi pelanggan biasanya memahami itu karena proses pembuatannya yang tidak biasa. Selama ini saya memakai batik tulis hanya untuk pesanan khusus, misal: padanan sarung untuk kebaya bridal. Untuk koleksi ready to wear rata-rata mereka menghargai keunikan desain dan juga keeksklusifan produknya. Saya hanya membuat satu piece per style, size, warna. Jadi bukan produksi massal seperti dari pabrik,” jelas Inge lagi.

inge van dongen
Inge mengedukasi kliennya mengenai jenis-jenis kain yang ada dalam koleksinya. (Foto: Facebook/infoaryani)

Membangun bisnis di tanah orang lain bukanlah hal yang mudah, namun bukan juga sulit. Inge memiliki dasar-dasar yang baik sebagai perempuan yang berkarier sebelumnya. Mencecap perjuangan Kartini yang membukakan jalan bagi perempuan-perempuan di Indonesia bisa jadi sudah Inge rasakan.

“Kendala yang saya hadapi itu seperti mengontrol proses produksi dari jarak jauh, kemudian awalnya terbentur pada kefasihan berbahasa Belanda. Lalu mempersiapkan kelengkapan administrasi dan paper work untuk membuka usaha dengan jalur resmi. Juga membagi waktu dan energi dengan optimal,” ungkapnya.

Semangat Kartini agaknya memang merasuk dalam diri Inge yang gelisah untuk dapat mengaktualisasikan dirinya. Dari semangat itulah ia kemudian mengetahui celah-celah untuk dapat mengembangkan bisnis fesyennya di Belanda. Apalagi ia memiliki mimpi dapat merambah hingga ke seluruh benua Eropa. (psr)

Kredit : paksi

Tags Artikel Ini

Paksi Suryo Raharjo

LAINNYA DARI MERAH PUTIH