Indonesia Tambah Pasukan Perdamaian PBB, Prioritas Perempuan Prajurit Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang tergabung dalam Pasukan Perdamaian Kontingen Garuda Unifil, Lebanon (Foto: Puspen TNI)

Merahputih.com - Wakil Presiden Jusuf Kalla menyatakan Indonesia siap menambah jumlah pasukan perdamaian di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menjadi 4.000 prajurit hingga 2019. Saat ini jumlah pasukan perdamaian Indonesai telah mencapai 3.500 prajurit.

"Kita tidak akan berhenti di sana. Kita siap berkontribusi 4.000 pasukan perdamaian hingga 2019, dengan meningkatkan proporsi pasukan perempuan," kata Kalla dalam pidato pada sesi debat umum Sidang Majelis Umum ke-73 PBB di Markas Besar PBB di Kota New York, Amerika Serikat, Kamis (27/9) waktu setempat.

Wapres mengatakan, Indonesia percaya bahwa operasi pasukan perdamaian di bawah PBB harus terus dilanjutkan.

Dalam kesempatan tersebut, Wapres juga mengungkapkan terima kasih atas kepercayaan negara-negara PBB memilih Indonesia untuk mejabat sebagai Anggota Tidak Tetap Dewan Keamanan PBB 2019-2020.

Pasukan Perdamaian PBB di Libanon (UNIFIL) memperingati 40 tahun usaha menjaga perdamaian di selatan Libanon dalam sebuah upacara di kantor pusat UNIFIL di Naqoura, dekat perbatasan Libanon-Israel, selatan Libanon, Senin (19/3). ANTARA FOTO/REUTERS/Ali Hashisho)
Pasukan Perdamaian PBB di Libanon (UNIFIL) memperingati 40 tahun usaha menjaga perdamaian di selatan Libanon dalam sebuah upacara di kantor pusat UNIFIL di Naqoura, dekat perbatasan Libanon-Israel, selatan Libanon, Senin (19/3). ANTARA FOTO/REUTERS/Ali Hashisho)

Indonesia, menurut Wapres akan bekerja sebaik-baiknya dalam rangka mewujudkan perdamaian dunia dan mengharapkan dukungan para pihak.

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Retno LP Marsudi mengatakan, saat ini pasukan perdamaian PBB perempuan jumlahnya masih sangat sedikit atau hanya 3 persen dari total pasukan.

Untuk Indonesia sendiri, setidaknya terdapat 111 perempuan yang menjadi pasukan perdamaian baik untuk sipil maupun militer. Keberadaan mereka akan ditingkatkan jumlahnya.

Menlu menyampaikan, pasukan perdamaian PBB perempuan menjadi kebutuhan dalam penangana konflik dan pascakonflik.

Karena banyak korban konflik merupakan anak dan perempuan yang lebih memiliki kepercayaan dan kenyamanan dengan perempuan, katanya. (*)


Tags Artikel Ini

Angga Yudha Pratama

LAINNYA DARI MERAH PUTIH