Indonesia Tak Perlu Bantuan IMF dan Bank Dunia Dalam Penanganan COVID-19 M Misbakhun dalam sebuah diskusi di Warung Daun, Jakarta (Foto: antaranews)

MerahPutih.Com - Anggota Komisi XI DPR M Misbakhun meminta pemerintah tidak mengambil tawaran bantuan dari Dana Moneter Internasional (IMF) ataupun Bank Dunia untuk penanggulangan COVID-19.

IMF menyiapkan USD1 triliun untuk negara anggotanya yang menghadapi virus korona. Bank Dunia juga menyiapkan USD14 miiliar untuk paket pembiayaan jalur cepat bagi negara menghadapi pandemi global.

Baca Juga:

Warga Datang ke Kantor Ditlantas Polda DIY Wajib Disemprot di Bilik Antiseptik

Ia mengatakan, dana yang dimiliki Indonesia dinilai masih cukup untuk menangani penyebaran virus corona.

“Saya minta Menteri Keuangan RI (Sri Mulyani), jangan menggunakan bantuan IMF dan World Bank untuk menanggulangi covid-19,” ujar Misbakhun kepada wartawan, Jumat (26/3).

Misbakhun desak pemerintah tolak bantuan IMF dan Bank Dunia terkait penanganan COVID-19
Anggota DPR M Misbakhun (Foto: fraksigolkar.or.id)

Menurut Misbakhun, pemerintah memiliki cukup uang tanpa harus mengutang ke IMF atau Bank Dunia.

Dia mencontohkan dana saldo anggaran lebih (SAL) dari akumulasi sisa lebih pembiayaan anggaran tahun berkenaan (SILPA) 2019, dan anggaran yang disisihkan pemerintah sebagai dana abadi untuk keperluan cadangan.

Misbhakun mengatakan pemeritah juga masih memiliki dana dari pungutan bea ekspor sawit di Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS), dana lingkungan hidup di Badan Pengelola Dana Lingkungan Hidup (BPDLH), Dana Riset Perguruan Tinggi, serta dana dari Surat Utang Negara (SUN).

“Termasuk dana APBN yang ada BA99 yang selama ini dikelola oleh menteri keuangan selaku bendahara umum negara," kata dia.

Pemerintah, lanjut dia, juga memiliki dana milik Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) mencapai Rp 150 triliun.

Menurut dia, pemerintah bisa meminjam dana milik LPS untuk cadangan darurat bila ada keperluan mendadak.

"Posisinya sedang tidak digunakan dan siap dipinjam oleh negara bila memang diperlukan," ujar Misbakhun.

Misbakhun menambahkan, Indonesia juga masih punya cadangan devisa (cadev). Saat ini Bank Indonesia mengelola cadev sebesar USD 130 miliar.

Pemerintah cukup menerbitkan open end SUN agar dibeli BI dengan bunga di bawah lima persen.

Kalau pemerintah menerbitkan SUN senilai USD 20 miliar saja, dengan kurs dolar AS setara Rp16.800 saja akan memperoleh dana Rp336 triliun, jumlah yang sangat besar dan memadai untuk menanggulangi Covid-19 di Indonesia tanpa harus mengutang ke IMF dan World Bank.

Misbakhun menegaskan, pemerintah justru akan diuntungkan jika tidak mengutang ke IMF dan Bank Dunia.

"Karena kita tidak terjebak pada bantuan IMF dan World Bank yang sering mengikat pada kebijakan dan policy ekonomi dan politik Indonesia di masa depan," kata dia.

Baca Juga:

IDI Ancam Mogok Jika APD untuk Para Tenaga Medis Tidak Disediakan

Misbakhun berharap pemerintah tidak menerbitkan global bond pada saat pasar sedang terimbas Covid-19. Sebab, biaya imbal balik atau rate return dari SUN yang diterbitkan pemerintah akan sangat mahal.

Penerbitan global bond pada masa-masa seperti ini akan menjadi kesempatan bagi fund manager asing untuk memeras institusi negara yang sedang membutuhkan uang untuk likuiditas jangka pendek dalam rangka mengatasi kebutuhan belanja negara yang mendesak.(Knu)

Baca Juga:

Mudik Lebaran Harus Distop, Pengamat: Kalau Tidak, Pandemi Corona Kian Meluas



Eddy Flo

LAINNYA DARI MERAH PUTIH