hiburan-gaya-hidup-singlepost-banner-1
Indonesia Sudah Cukup Mempromosikan Batik? Ini Jawaban Nonita Respati Wawancara seputar batik dengan Nonita Respati. (Foto: Instagram @NonitaRespati)
hiburan-gaya-hidup-singlepost-banner-2
hiburan-gaya-hidup-mobile-singlepost-banner-7

SEHUBUNGAN dengan Hari Batik Nasional yang memperingati penetapan batik sebagai Masterpieces of the Oral and Intangible Heritage of Humanity oleh UNESCO pada 2 Oktober 2019, merahputih.com melakukan wawancara eksklusif dengan Nonita Respati, pendiri label Batik Purana.

Memulai karirnya di industri media fesyen, Nonita Respati telah mendirikan Purana sejak tahun 2008 dengan komitmen untuk mengadaptasi kearifan lokal Indonesia. Bekerjasama dengan pengrajin lokal, label Purana menggabungkan pola, potongan, serta perpaduan warna agar bisa diminati oleh seluruh masyarakat di Indonesia. Yuk simak wawancara eksklusif merahputih.com dengan Nonita Respati, desainer dan pendiri Purana.

Baca juga:

Eksis Sejak Abad ke-16, Kenali 5 Motif Batik Kuno Khas Indonesia

1. Apakah pendapat mbak mengenai batik Indonesia yang sering diakui oleh negara lain?

Indonesia Sudah Cukup Mempromosikan Batik? Ini Jawaban Nonita Respati
Wawancara eksklusif dengan Nonita Respati. (Foto: instagram @NonitaRespati)

Teknik batik ini juga dimiliki oleh negara lain, misalnya Srilanka dan India. Namun, masing-masing batik memiliki karakter berbeda karena biasanya yang dilukis di atas batik adalah apa yang menjadi unsur budaya dan demografi setempat, termasuk flora dan fauna.

Hanya saja untuk batik Indonesia dari daerah tertua, misalnya Solo dan Jogja, ada makna filosofis yang terkandung di dalamnya dari setiap motif, juga fungsi seremonial, jika kita bicara batik klasik.

2. Apakah orang Indonesia sudah cukup mempromosikan warisan budaya Indonesia sendiri, termasuk batik?

Indonesia Sudah Cukup Mempromosikan Batik? Ini Jawaban Nonita Respati
Purana telah didirikan sejak tahun 2008. (Foto: instagram @NonitaRespati)

Yes and No. Di luar wajib batik setiap hari tertentu (aturan kantor) apakah Anda banyak menjatuhkan pilihan batik untuk gaya sehari-hari? Ataukah pilihan masih jatuh kepada fast fashion dari label internasional? Saya sendiri banyak memakai batik karena saya bereksperimen membuat batik di bahan yang nyaman, bukan bahan katun biasa yang panas.

Namun saya bangg melihat batik saat ini jadi pilihan pengganti setelan (untuk pria) dan pilihan praktis selain gaun malam (untuk wanita) yang hadir di acara formal.

3. Sebagai seseorang yang sudah lama berkecimpung di industri fesyen, apakah minat orang Indonesia terhadap batik semakin tinggi?

Indonesia Sudah Cukup Mempromosikan Batik? Ini Jawaban Nonita Respati
Selain desainer, Nonita juga berperan sebagai seorang ibu dan isteri. (Foto: Instagram @NonitaRespati)

Dulu batik digunakan untuk gelaran seremonial. Sekarang sudah menjasi bagian dari mode dan gaya hidup. Jadi jawabannya iya.

Baca juga:

Berbagai Alat Esensial Di Balik Keindahan Batik Tulis

4. Apakah apreasiasi terhadap batik lebih banyak didapatkan dari luar negeri ketimbang di dalam negeri?

Indonesia Sudah Cukup Mempromosikan Batik? Ini Jawaban Nonita Respati
Purina di Bangkok Bangkok Fashion Week. (Foto: Instagram @NonitaRespati)

Saya cukup bangga mendapat undangan menampilkan batik untuk fashion show di Los Angeles Fashion Week (2016) Hongkong Fashion Week (2018) dan Cape Town Afrika Selatan bulan lalu. Dua minggu lagi juga akan fashion show membawa batik ke African Fashion Exchange di Durban, South Africa.

Apresiasi mereka besar. Namun, tentu saja dari dalam negeri lebih besar karena tidak hanya sekedar melihat atau mengagumi namun juga mengenakannya dalam kehidupan sehari-hari.

5. Batik print seringkali dianggap mematikan mematikan para pengrajin tradisional, apa solusi yang tepat terkait masalah ini agar tidak merugikan pihak tertentu?

Indonesia Sudah Cukup Mempromosikan Batik? Ini Jawaban Nonita Respati
Purana juga bekerjasama dengan pengrajin lokal. (Foto: instagram @NonitaRespati)

Beda dong. Batik print adalah kain bermotif batik, bukan batik. Batik itu mengacu pada tekniknya (menggunakan malam dan canting) Saya rasa tidak perlu mendiskreditkan satu sama lain karena masing-masing tergantung kebutuhan.

Contohnya, dalam berkreasi mengeluarkan koleksi spring/summer dan fall/ winter, saya pertahankan teknik batik klasik dengan malam dan canting.

Tapi ketika klien corporate meminta saya mendesain seragam batik kemudian dieksekusi dengan teknik print untuk kepentingan efisiensi biaya dan durabilitas, saya lakukan juga. Kita sama-sama mengapresiasi usaha siapapun untuk tetap menggaungkan kebesaran batik, baik melalui motif maupun tekniknya.

6. Apakah minat orang-orang terhadap batik tradisional lebih tinggi daripada batik modern? Jika tidak, batik modern mana yang bisa diterima oleh masyarakat?

Indonesia Sudah Cukup Mempromosikan Batik? Ini Jawaban Nonita Respati
Batik akan dipamerkan ke African Fashion Exchange di Durban, South Africa nanti. (Foto Instagram @NonitaRespati)

Ada pasarnya masing-masing. Selama ini Purana mendapatkan keleluasaan untuk berkreasi menciptakan batik dengan motif modern yang juga diterima dengan baik oleh pasar. Kuncinya adalah selalu relevan dengan tren dan mampu menggabungkannya dengan selera audiens batik yang dituju. (shn)

Baca juga:

Label Busana Batik Kekinian yang Meramu Tradisional dalam Kemasan Modern


hiburan-gaya-hidup-mobile-singlepost-banner-3

Ananda Dimas Prasetya

LAINNYA DARI MERAH PUTIH


hiburan-gaya-hidup-singlepost-banner-4
hiburan-gaya-hidup-singlepost-banner-5