Indonesia Kekurangan Donor Korea Mata Mata. (Foto: Pixabay)

MATA adalah organ tubuh vital bagi manusia. Aktivitas manusia menjadi lancar saat memiliki mata yang sehat. Faktanya, ada beberapa orang yang terpaksa kehilangan penglihatan mereka lantaran menderita kebutaan.

Efeknya juga berdampak pada penurunan produktivitas. Survei Rapid Assessment of Avoidable Blindness (RAAB) yang dilakukan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia pada 2014-2016 mengidentifikasi sedikitnya 3% penduduk Indonesia yang berusia di atas 50 tahun mengalami kebutaan. Sebanyak 4,5% adalah penyandang kebutaan kornea. Rusaknya kornea mata dapat disebabkan penyakit atau cedera.

"Angka kebutaan di Indonesia jauh meningkat dibanding negara-negara Asia lainnya. Posisi kita setara dengan negara-negara Afrika," ungkap Ketua Bank Mata Indonesia, Tjahjono D Gondhowiardjo SpM (K), PhD.

Tjahjono mengungkap pula kebutaan yang disebabkan rusaknya kornea dapat diatasi dengan melakukan transplantasi kornea. Sayangnya, jumlah donor mata di Indonesia sangat sedikit dibandingkan dengan yang membutuhkan.

"Jumlah pendonor kornea mata di Indonesia hanya 20 hingga 30 orang per tahun," ungkap Ketua Lions Eye Bank Jakarta, dr Sharita R Siregar, SpM. Angka donor tersebut sangat jauh dibandingkan dengan negara-negara maju seperti Eropa dan Amerika yang mencapai 40 ribu orang.

Bank Mata Indonesia mencatat baru sekitar 5%-10% pasien yang dapat menjalani transplantasi kornea karena keterbatasan kornea donor dari dalam negeri. "Jumlah penduduk Indonesia dari Sabang sampai Merauke jutaan orang, namun sedikit yang berkeinginan untuk mendonorkan kornea matanya. Sementara sebagian lagi belum teredukasi," ucap Sharita R Siregar atau yang kerap disapa dokter Tasya.

Salah kaprah

Dr Tasya mengungkapkan begitu banyak faktor yang menyebabkan orang enggan menyumbangkan kornea matanya. Salah satunya kurang teredukasinya masyarakat. Banyak yang salah kaprah. Masyarakat berpikir donor kornea berarti mereka harus memberikan seluruh bola matanya.

"Cangkok kornea itu bukan dengan satu bola mata diambil tetapi hanya lapisan tissue kornea saja," tegas dokter Tasya.

Seseorang juga baru bisa mendonorkan kornea matanya apabila telah meninggal dunia.

Faktor kedua yang menyebabkan orang enggan menyumbangkan korneanya ialah bertentangan dengan prinsip agama. Banyak orang yang mengatakan bahwa mendonorkan kornea mata bertentangan dengan ajaran agama yang dianutnya. “Padahal, mendonorkan kornea sama dengan bersedekah,” tegas dr Tjahjono.

Mendonorkan sepasang kornea berarti menyelamatkan kehidupan manusia. Ia menilai sosialisasi donor kornea di Indonesia tak menyeluruh dan tidak melibatkan tokoh-tokoh masyarakat.

Dokter Tjahjono menuturkan, di negara lain, para pemuka agama justru muncul sebagai pionir. "Di Vietnam para biksu justru berinisiatif untuk melakukan cangkok kornea mata. Di Korea Selatan, para bishop juga mendaftarkan diri untuk menjadi pendonor kornea mata," beber dokter Tjahjono lagi.

Faktor terakhir adalah keluarga. Ada sejumlah orang yang bersedia untuk mendonasikan kornea matanya setelah wafat. Hal berbeda justru terjadi saat orang yang bersangkutan telah meninggal dunia. "Ahli waris tidak berkenan. Kalau sudah begitu, pihak Eye Bank tidak bisa apa-apa," terang dokter Tjahjono.

Langkanya pendonor dari Indonesia membuat Bank Mata Jakarta terus menerima kornea donor dari beberapa negara seperti Srilanka, Nepal dan Filipina. "Kami berharap masyarakat Indonesia tergerak untuk menolong saudaranya sebangsa setanah air agar mereka yang mengalami kebutaan punya harapan hidup yang berkualitas. Sampai kapan kita mau mengandalkan negara lain," tukas dokter Tjahjono.

Mengatasi hal tersebut, Jakarta Eye Center menghadirkan Lions Eye Bank Jakarta untuk menggugah kesadaran masyarakat agar membantu saudaranya yang membutuh penglihatan kembali. Dr Tasya mengatakan siapa pun bisa mendaftarkan dirinya sebagai donor kornea selama kondisi matanya sehat dan tak memiliki penyakit menular.

Ketika seseorang mendaftarkan dirinya dan menyatakan kesiapan untuk menjadi donor kornea, Lions Eye Bank Jakarta akan memberikan stiker dan hologram. Hologram tersebut akan dipasang di identitas pribadi mereka. "Jika suatu hari mereka meninggal dunia, kami bisa mengidentifikasi mereka dan mengambil korneanya," pungkas dr Tasya. (Avia)

Baca juga artikel terbaru lain di sini.

Kredit : iftinavia

Tags Artikel Ini

Rina Garmina

LAINNYA DARI MERAH PUTIH