'Imposter Syndrome' Bukan Monopoli Bintang K-Pop, Anda pun Berisiko! Imposter Syndrome bisa menyerang siapa pun. (Foto: Pixabay)

SELEBRITA Korea Selatan berhasil mencuri perhatian banyak orang. Wajah yang rupawan serta talenta yang dimiliki menjadi kombinasi sempurna bagi mereka. Hal tersebut pula yang membuat mereka meraih kesuksesan gemilang di kancah internasional.

Kesuksesan tersebut diiringi pula dengan sorotan mencolok dari fans dan media. Para bintang dituntut untuk selalu tampil memuaskan penggemar.

Jadwal super padat, tuntutan dari agensi, hingga hubungan pribadi mereka dengan keluarga serta kekasih juga kerap mendapat sorotan penggemar. Tekanan untuk selalu tampil sempurna nyatanya bisa membuat bintang K-pop depresi.

Penyanyi dan aktris cantik, Bae Suzy, pernah mengungkapkan jika dirinya mengalami depresi dan tak bisa mengungkapkan hal tersebut ke siapapun. Dia bahkan merasa tak sanggup melewati hari berikutnya. "Suatu hari aku tertawa terbahak-bahak saat berbicara denganku. Di hari berikutnya aku menangis," ungkapnya seperti dilansir Allkpop.

Tuntutan untuk selalu tampil sempurna juga pernah dialami Lee Ji-eun atau yang akrab disapa IU. Tuntutan tersebut tak hanya membuatnya depresi, tetapi juga bulimia.

Kasus depresi paling ekstrem dialami oleh main vocal SHINee, Kim Jonghyun. Tak tahan dengan rasa depresi dan selalu dibayangi kegagalan membuatnya mengambil langkah bunuh diri.

Depresi akibat pekerjaan tak hanya dialami oleh artis Korea. Masyarakat awam juga bisa mengalami hal tersebut. Sindrom tersebut dikenal dengan istilah Imposter Syndrome.

Imposter Syndrome adalah ketakutan akan kegagalan dalam melakukan pekerjaan. "Indikasi utama lebih kepada rasa tidak percaya diri akan prestasi yang telah dicapai," ungkap Psikolog Adityana Kasandra Putranto kepada Merahputih.com.

Para pengidap sindrom ini akan merasa cemas jika diberi tanggung jawab besar dalam pekerjaan. Mereka takut tak bisa menyelesaikan tugas dengan baik. Mereka juga kerap tak puas dengan hasil pekerjaan yang dilakukan karena selalu merasa bisa melakukan pekerjaan lebih baik lagi.

Pakar Imposter, Valerie Young, membagi pengidap Imposter Syndrome dalam beberapa kategori yakni perfeksionis, wanita atau pria bekerja berlebihan, jenius, dan pakar di bidang tertentu. Sindrom ini juga dapat dialami oleh mereka yang baru memasuki lingkungan kerja setelah menyelesaikan masa studinya.

Berdasarkan informasi yang dilansir Fast Company, sebanyak 70 persen pekerja pernah mengalami Imposter Syndrome dalam kariernya.

Adityana memaparkan, Imposter Syndrome disebabkan oleh beberapa faktor. Faktor tersebut antara lain pembawaan individu yang tidak percaya diri, pola asuh yang judgmental, mitra kerja yang tak bisa diharapkan, dan persaingan yang semakin tinggi.

"Jika dibiarkan terus menerus, Imposter Syndrome dapat menyebabkan depresi dan berujung pada tindakan bunuh diri," ungkap Adityana.

Adityana menyarankan pengidap Imposter Syndrome untuk CBT (Cognitive Behavioral Therapy) agar lebih bisa menerima diri mereka. "Yakinlah bahwa di dunia ini tak ada yang 100 persen sempurna," pungkasnya. (Avia)

Dapatkan pula tips terhindar dari depresi pada artikel Cegah Depresi dengan Aktivitas Menyenangkan.

Kredit : rina


Rina Garmina

LAINNYA DARI MERAH PUTIH