Ikatan Dokter Indonesia: Konsumen Rokok Elektronik Sebagian Besar Anak-Anak Konsumen vaporizer sebagian besar anak-anak (Sumber: Vaped Magazine)

ROKOK elektronik atau yang dikenal dengan istilah vaporizer menjadi tren di kalangan muda. Rokok jenis terbaru ini disebut-sebut lebih aman dikonsumsi daripada rokok konvensional. Para produsen pun mengatakan bahwa vape (sebutan vaporizer) adalah solusi tepat bagi para perokok yang ingin menghentikan kebiasaan merokok.

Anak konsumsi vape
Vape dianggap sebagai solusi pengganti rokok konvensional (Sumber: American Heart Association)

Embel-embel "aman" pada jenis rokok terbaru tersebut membuat vape turut dikonsumsi oleh anak-anak. Mudahnya akses pembelian vape membuat anak-anak mudah pula mendapatkan vape dengan varian yang diinginkan.

Bahkan, jumlah konsumen usia anak-anak lebih banyak dibandingkan dewasa. Hal ini tentu mencemaskan mengingat zat kimia yang terdapat di rokok elektronik sama berbahayanya dengan rokok konvensional. Zat toksik tambahan seperti logam, silikat, dan nanopartikel membuat risiko kanker pada rokok elektronik lebih tinggi daripada rokok konvensional.

anak konsumsi vape
Remaja mengonsumsi vape (Sumber: Video Blocks)

Selain itu, rokok elektronik juga dapat menyebabkan gangguan pada pencernaan anak-anak, sistem umum dan timbulnya trombosis.

"Anak-anak dibuat terlena oleh aroma buah-buahan dan permen yang ada di vape sehingga tidak sadar bahwa mereka diracuni oleh bahan-bahan kimia yang ada di dalamnya," ucap perwakilan Ikatan Dokter Anak Indonesia, dr. Wahyuni Indawati ditemui di aula PB Ikatan Dokter Indonesia, Menteng, Jakarta Pusat.

Vape
Anak perempuan pun mengonsumsi vape (Sumber: Deposit Photos)

Selain itu, dr. Adhi Wibowo Nurhidayat, SpKJ, MPH dari Institute of Mental Health, Addiction, and Neuroscience mengungkapkan bahwa rokok elektronik juga dilengkapi oleh nikotin cair. "Rokok elektronik membuat penggunanya adiksi terhadap nikotin cair," jelasnya.

Para dokter menghimbau orang tua untuk lebih peduli terhadap berbagai hal yang dikonsumsi anak-anaknya dan tidak memberikan rokok elektronik dengan mudah. Mereka juga berharap, pemerintah mengatur sistem regulasi yang jelas tentang persebaran rokok elektronik di Indonesia. Hal tersebut karena tidak ada regylasi apapun yang mengatur rokok elektronik kecuali pengenaan cukai 57%. (avia)

Kredit : iftinavia


Iftinavia Pradinantia

LAINNYA DARI MERAH PUTIH