Iiih, Keju dari Bakteri Ketiak Jadi Karya Seni Keju dari bakteri ketiak selebritas jadi proyek karya seni. (foto: pixabay/alexklen)

BEBERAPA hal aneh yang enggak lazim bisa jadi karya seni bagi sebagian orang. Seperti halnya keju yang dibuat dari bakteri yang diambil dari telinga, jari kaki dan ketiak selebritas. Ih, menjijikkan sekali ya.

Seperti dilansir Reuters, sebuah museum seni di London memamerkan karya seni unik, seperti keju yang terbuat dari bakteri dari telinga, jari kaki, dan ketiak selebritas, toilet keramik dari pupuk kotoran sapi, botol air yang bisa dimakan, dan tanaman berbicara'. Benda-benda itu sudah pasti bukan yang lazim ditemui di museum seni dan desain.

Benda-benda itu merupakan sebagian dari percobaan gastronomi dan pertanian mengenai siklus makanan dari rumput hingga ke piring juga keberlanjutan yang dipamerkan di Museum V&A London. Museum itu dikenal dengan patung, tekstil, dan print. "Apa yang banyak orang tidak pikirkan ialah hubunganmu dengan makanan lebih daripada sekadar menyantap apa yang ada di piring," kata May Rosenthal Sloan, ko-kurator pameran FOOD: Bigger than the Plate kepada Reuters, seperti dilansir Antara.

Menurut Sloan, setiap hidangan yang disantap, setiap kali pula makan menghubungkanmu dengan alam, dengan budaya, dengan ekonomi dan politik, dengan tubuhmu sendiri. "Apa yang kami lakukan ialah membuat orang melihat itu secara garis besar dan berpikir bagaimana pilihan yang kita buat dapat berdampak pada masa depan," imbuhnya.

Dalam pameran itu, ada pula berbagai variasi keju, mulai dari mozzarella, comte, cheddar, Cheshire dan, stilton, yang dilabeli 'potret mikrobial'. Setiap keju dibuat dari bakteri rapper Professor Green, chef Heston Blumenthal, penyanyi Suggs, musisi dan pembuat keju Alex James, dan penulis makanan Ruby Tandoh. "Ada banyak kesamaan antara bakteri di ketiak dan bakteri di keju," ujar biodesigner Helene Steiner.

Jika kamu berpikir keju dari bakteri di ketiak itu menjijikkan, tidak demikian halnya dengan Steiner. "Bicara soal keju buatan sendiri, makanan buatan rumah, kau memasukkan tanganmu ke sana, jadi bakteri sering jadi terpapar ke makananmu. Jadi kupikir itu bukan faktor menjijikkan, lebih kepada memandang soal keragaman dan keindahan makanan dan bagaimana bakteri membantu kita membuatnya," jelasnya.

Steiner juga berada di belakang Project Florence atau yang ia sebut 'tanaman berbicara'. Objek itu merupakan hasil dari empat tahun penelitian penggunaan sinyal listrik dan kimia oleh pabrik.

Penelitian itu Bertujuan 'memberi suara pada alam'. Proyek ini terdiri dari tanaman stroberi dalam mangkuk kaca, terhubung ke komputer. Dari perangkat itu, pengunjung dapat mengetik pertanyaan dan mendapatkan jawaban yang tercetak. "Salah satu alasan saya memulai ini ialah mencari pestisida. Saat ini, kami menempatkannya enam kali setahun di ladang, secara acak," kata Steiner.

Menurut Steiner, akan sangat menarik jika umat manusia memiliki cara untuk memahami kapan tanaman benar-benar terpengaruh. Saat itu jadi waktu yang tepat untuk menggunakan pestisida.

Pengomposan, pertanian, perdagangan, dan makan merupakan beberapa tema yang dieksplorasi dalam pameran. Barang-barang unik lain yang ditampilkan meliputi desain sosis dan pertanian jamur perkotaan.(*)



Dwi Astarini

LAINNYA DARI MERAH PUTIH