IDI Khawatir Ada Perpecahan di Kalangan Dokter Karena Kasus Terawan Ketua Umum PB IDI Prof. Dr. Ilham Oetama Marsis, SpOG dalam konferensi pers di kantor PB IDI, Jakarta Pusat, Senin (9/4/2018). (ANTARA News/Lia Wanadriani Santosa)

MerahPutih.com - PB Ikatan Dokter Indonesia (IDI) menyesalkan beredarnya surat rekomendasi pemecatan sementara dr Terawan Agus Putranto ke ranah publik.

Padahal, surat rekomendasi Majelis Kehormatan Etik Kedokteran (MKEK) itu bersifat rahasia dan hanya untuk internal.

"PB IDI menyesalkan tersebarnya surat keputusan Majelis Kehormatan Etik Kedokteran (MKEK) yang bersifat internal dan rahasia sehingga menimbulkan keresahan di masyarakat," kata Ketum PB IDI, Ilham Oetama Marsis saat ditemui awak media di Kantornya, Jalan Samratulangi, Menteng Jakarta Pusat, Senin (9/4).

Sebelumnya diberitakan, tertanggal 23 Maret 2018, MKEK menetapkan dokter Terawan telah melakukan pelanggaran etik serius dari kode etik kedokteran. Surat tersebut ditandatangani oleh Ketua MKEK PB IDI Prijo Sidipratomo.

PB IDI Saat jumpa pers. (MP/Fadhli)
PB IDI Saat jumpa pers. (MP/Fadhli)

Akibat polemik tersebut, kata Ilham terjadi keresahan dan kegaduhan di masyarakat serta kalangan profesi dokter disertai dengan ketimpangan informasi yang tajam.

"Hal ini menimbulkan kebingungan di kalangan masyarakat serta serta berpotensi menimbulkan perpecahan di kalangan dokter," ujarnya.

Sebab, tambahnya, metode Digital Substraction Angiogram (DSA) lebih dikenal dengan sebutan Brain Wash masih menjadi kontroversial di kalangan dokter.

Makanya, PB IDI menyerahkan penilaian terapi dengan metode DSA/Brain Wash dilakukan oleh Tim Health Technology Assessment (HTA) Kementerian Kesehatan RI. (Fdi)

Baca juga berita terkait di: Soal Dokter Terawan, PB IDI Pasrah Serahkan ke Kemenkes

Kredit : fadhli


Zaimul Haq Elfan Habib

LAINNYA DARI MERAH PUTIH