Inspirasi
Ide Kecil di Tengah Keputusasaan, Membuat Ali Muharam Raih Omset Miliaran Ali Muharam seorang pengusaha sukses yang memiliki mental juara (Foto: instagram@alvow)

MENJADI pengusaha sukses tentu bukan hal mudah, bahkan tak sedikit pengusaha yang sampai 'berdarah-darah' menuju kesuksesannya. Sama halnya yang dirasakan oleh pendiri gerai camilan Makaroni Ngehe, Ali Muharam, yang meraih omset miliaran rupiah dari ide kecil di tengah keputusasaan.

Sekitar tahun 2014 silam, Ali Muharam sudah memiliki 20 cabang gerai. Kemudian di tahun 2019 Ali sudah berhasil membuka sekitar 34 cabang. Menariknya, omset setiap cabang sekitar Rp3 juta - Rp5 juta per harinya, bila dirata-ratakan, kurang lebih omset usahanya sangat fantastis, yakni sekitar Rp4 miliar dalam sebulan.

Baca Juga:

Jiwa Pemimpin Alamanda Shantika hingga Jadi Founder Binar Academy

Dunia bisnis

Usaha Makaroni Ngehe milik Ali Muharam sukses raih omset miliaran rupiah dalam sebulan (Foto: instagram@ngehe_id)

Berawal dari masa kecilnya yang kerap diajak ke tempat usaha orang tuanya, pengepul barang bekas rongsokan, yang lokasinya sekitar 1 jam dari Tasikmalaya.

"Dulu waktu kecil sering di ajak kesana, saya memperhatikan transaksinya, pengepul sore datang terus setor dan ditimbang. Terus saya jadi tahu harga-harganya berapa," jelas Ali Muharam pada Channel YouTube Rico Huang.

Kegiatannya semasa kecil yang kerap melihat perniagaan itu secara tak langsung terekam di alam bawah sadarnya. Hingga kemudian dia berkeinginan untuk jualan, kala itu Ali masih duduk di Sekolah Dasar (SD).

Ali kecil mulai berjualan kantong kresek. Tak seperti anak-anak pada umumnya yang berpikir hanya untuk belajar dan bermain, isi kepalanya justru sudah memikirkan bagaimana cara menghasilkan uang.

Salah satu alasan Ali kecil sudah berpikir mencari penghasilan sendiri karena ingin punya uang jajan sendiri. Dia berusaha memikirkan caranya agar bisa membeli sesuatu yang dia inginkan.

Hal itu dilakukan olehnya karena dia sadar keuangan keluarganya tengah goyang. Tepatnya ketika ayahnya meninggal saat Ali baru mau masuk SD. Dia pun segan untuk meminta uang kepada ibunya.

"Saya kalau minta ke ibu saya pasti ibu bilang 'enggak ada duit'. Dari situ saya mencari siasat bagaimana saya menikmati masa kecil bisa jajan tanpa harus minta ke orang tua," kenang Ali.

Ali kecil pun mantap untuk berjualan plastik ke pasar-pasar setiap menjelang Lebaran. Saat itu dia mendapat penghasilan yang lumayan. Dia bisa membeli dompet, celana hingga sandal baru dari uang hasil berjualan.

Setelah Ali mulai beranjak dewasa dan lulus SMA, dia mulai punya banyak mimpi, dari mulai menjadi penulis dan penyiar radio. Saat itu Ali tak bermimpi menjadi seorang pengusaha.

Modal nekad ke Jakarta

Ali Muharam modal nekad ke Jakarta dan mengawalinya dengan bekerja serabutan (Foto: instagram@alvow)

Menjelang lulus SMA, Ali sempat dijanjikan beasiswa pertukaran pelajar kuliah ke Jerman. Mendengar kabar tersebut Ali bak menemukan oase di gurun pasir. Karena dari segi faktor ekonomi keluarga, sangat tidak memungkinkan untuk biaya kuliah.

Tapi sayangnya menjelang hari terakhir di sekolah, kabar bahagia soal beasiswa tersebut tak kunjung menemui titik terang. Tentu membuatnya kecewa. Maksud hati ingin mengenyam pendidikan di perguruan tinggi, tapi apa daya himpitan ekonomi memaksanya harus ikhlas menerima takdir.

Namun, kekecewaannya tak lantas berlanjut, pria kelahiran 26 September 1985 bangkit melepaskan diri dari nasib buruknya, dia nekad merantau ke Jakarta.

Kerasnya kota Jakarta dirasakan oleh Ali. Pengalaman hidupnya di Jakarta bisa dibilang pahit. Saat berada di perantauan, Ali mengais rezeki menjadi tukang cuci piring di kantin Cinere Mall. Saat itu dia hanya digaji Rp5.000 per hari. Waktu kerjanya mulai jam 7 pagi hingga jam 6 sore. Ali menjalani pekerjaan itu kurang lebih 1 bulan untuk menyambung hidup.

Kemudian seiring berjalannya waktu, Ali sempat bekerja di pada bidang yang berbeda, yakni di Depdiknas dan di sebuah event organizer. Kemudian di tahun 2008 - 2011, dia menjadi penulis skenario sinetron.

Namun di tahun 2011, ekonominya kian memburuk lantaran tidak ada proyek. Ibunya sakit dan harus menanggung biaya pengobatan serta biaya kuliah adiknya dan berbagai keperluan lainnya. Dari kondisi itu Ali mulai berpikir bahwa dia tidak bisa berdiam diri.

"Saya berpikir enggak bisa gini terus. Kalau mengandalkan gaji bulanan 'lingkaran setan' ini enggak bakal selesai. Akhirnya saya memutuskan harus bisa mempunyai penghasilan yang lebih dari karyawan, satu-satunya cara yakni punya usaha, dan saya memilih usaha makaroni," jelas Ali.

Baca juga:

Mental Juara, Bong Chandra Mengubah Kondisi Terpuruk ke Kesuksesan

Nama Makaroni Ngehe

Nama Ngehe memiliki arti tersendiri bagi Ali Muharam (Foto: instagram @alvow)

Makaroni memiliki sejarah tersendiri bagi Ali Muharam, saat itu tepatnya waktu Hari Raya Lebaran di tahun 1993, keluarga Ali biasanya membuat kue kering. Tapi, karena biayanya terlalu tinggi, ibunya menyiasati dengan makaroni itu.

"Kalau untuk alasan pribadi hidup saya itu ngehe banget. Jadi waktu itu saya kerja di restoran saya dikatain sama senior saya 'ah ngehe lu' karena saya kerjanya enggak bagus. Jadi ngehe itu bentuk umpatan. Versi saya itu ngehe suatu keadaan yang ngeselin, sesuatu yang nyebelin, yang bikin kita marah banget. Korelasinya dengan masa lalu saya yaitu perjalanan karir saya ngeselin banget sih, ngehe banget enggak kunjung ada perbaikan," ungkap Ali.

Saat masa-masa sulit, Ali merasa hidupnya dari hari ke hari hanya untuk bagaimana caranya bisa makan. Jadi dia memakai nama 'Ngehe' sebagai pengingat agar jangan sampai hidupnya balik lagi ke fase 'Ngehe' tersebut.

From zero to hero

Ali Muharam memulai usaha makaroninya dengan gerobak kecil (Foto: instagram@alvow)

Pertama kali dia berjualan Makaroni Ngehe tidak ada seorang pun yang yang beli, mungkin karena yang dijualnya merupakan sebuah produk baru. Karena namanya yang sedikit nyeleneh dengan desain canopy merah, dia bercerita orang-orang yang lewat hanya numpang foto saja.

Seiring perjalannya, Makaroni Ngehe mulai dikenal diminati para anak muda. Dia terus berusaha memutar otak agar dagangannya bisa laris dan berkembang. Hingga akhirnya Ali memperoleh modal awal usahanya senilai Rp20 juta, untuk melebarkan sayap ke Jakarta.

Uang senilai Rp20 juta itu, didapat dari pinjaman teman baiknya. uang itu kemudian dia pakai untuk modal mengembangkan usahanya. Tak dipungkiri saat itu dia merasa takut, karena tak pernah ada bayangan bagaimana mengganti uang pinjaman modal. Sementara tabungan pun tak ada.

"Dalam hati saya bertekad do or die! Ini momennya, saya harus ngambil risiko harus berani, kalau memangnya ini gagal ya sudah saya ada utang 20 juta, dan untuk membayar utang itu apapun akan saya lakukan, yang penting saya ada modal buat usaha," kata Ali.

Waktu itu dia berjanji akan mengembalikan uang pinjaman modal itu dalam jangka 6 bulan. Selama waktu tersebut, Ali juga mengatakan pada temannya akan ada pembagian hasil selama usaha itu berjalan.

Berkat usaha yang gigih, semakin hari usahanya kian berkembang pesat. Rahasia laris produk Makaroni Ngehe memiliki rasa pedas, asin, dan tekstur makaroni yang crunchy. Kombinasi tersebut menurutnya sangat masuk untuk mayoritas masyarakat Indonesia.

Selain itu, Ali menerapkan suasana feels like home saat pembeli datang ke outlet Makaroni Ngehe. Karena, dari awal dia sudah menanamkan sebuah budaya kehangatan yang tidak dibuat-buat.

Ali merasakan sebuah kesenangan ketika melayani pembeli, dan merasa sangat bahagia saat berinteraksi dengan mereka. Selain itu, setelah para pembeli mencicipi dan ada reaksi 'wih gila pedes banget, wih enak' membuatnya sangat senang. Budaya kehangatan itu pun berhasil ditularkan Ali pada para karyawannya.

Jerih payah yang dialami olehnya untuk dapat berdiri dengan kakinya sendiri pun tidak sia-sia. Kini usaha Makaroni Ngehe miliknya sudah memiliki puluhan gerai yang tersebar di sejumlah wilayah pulau Jawa.

Berkat kerja keras dalam merintis usaha makaroni yang diambil dari resep ibunya, mampu menghidupi ratusan orang karyawan. Tentunya, untuk meraih kesuksean dan mental juara tak bisa diraih begitu saja, harus ada tekad yang kuat, semangat pantang menyerah, dan berani mencoba sesuatu yang baru. (Ryn)

Baca juga:

William Tanuwijaya, Berani Baru Membangun Tokopedia

LAINNYA DARI MERAH PUTIH
Penampakan Controller Xbox Series S Bocor di Twitter
Fun
Penampakan Controller Xbox Series S Bocor di Twitter

Baru-baru ini, para pemain dihebohkan dengan unggahan yang memperlihatkan controller Xbox next-gen berwarna putih.

Pre-Order Tiket Diminati, ‘A Quiet Place Part II’ Digadang Masuk Box Office
ShowBiz
Spotify Patenkan Kurasi Lagu Berdasarkan Emosi
Fun
Spotify Patenkan Kurasi Lagu Berdasarkan Emosi

Teknologi itu dapat mendeteksi tingkat stres pengguna.

Yuk Berani Stop Katakan: "Gue Mulai Diet Besok"
Fun
Yuk Berani Stop Katakan: "Gue Mulai Diet Besok"

Kalimat "gue mulai diet besok" hanya akan membuat kamu gagal diet.

Berani Nonton Serial Netflix 'The Haunting of Bly Manor' Sendirian?
Fun
Berani Nonton Serial Netflix 'The Haunting of Bly Manor' Sendirian?

Film horor yang bakal bikin bulu kudukmu berdiri.

Barang Kesayangan Dilepas, Sedih atau Senang?
Fun
Barang Kesayangan Dilepas, Sedih atau Senang?

Ada saja barang-barang yang jadi kesayangan yang sebanrnya lebih pantas disingkirkan.

Microsoft Flight Simulator makin Seru
Fun
Microsoft Flight Simulator makin Seru

Kini bisa dimainkan dengan teknologi VR.

Jelang Natal, Temukan Sinterklas di Google
Fun
Jelang Natal, Temukan Sinterklas di Google

Pria tua berjenggot putih dan bertopi merah ini kabarnya akan datang di malam Natal melalui cerobong asap rumah.

Martabak, Camilan Lezat Paling Laris di Malam Hari
Kuliner
Martabak, Camilan Lezat Paling Laris di Malam Hari

Jangan terlalu sering, nanti bikin gemuk.

Harbolnas 12.12 Bikin Bujet Natal Jadi Lebih Irit
Hiburan & Gaya Hidup
Harbolnas 12.12 Bikin Bujet Natal Jadi Lebih Irit

Rayakan Natal enggak mesti mahal.