IBCSD Ungkap 3 Tantangan Global

Andika PratamaAndika Pratama - Kamis, 03 Agustus 2023
IBCSD Ungkap 3 Tantangan Global
Pembicara dalam diskusi panel yang digelar IBCSD dan WBCSD di Jakarta. Foto: Istimewa

MerahPutih.com - Dunia saat ini menghadapi tiga tantangan global yang sangat krusial: darurat iklim, kerusakan alam, dan meningkatnya ketimpangan.

Isu-isu yang mendesak ini menuntut aksi yang mendesak untuk melindungi planet dan sumber dayanya yang berharga, serta kesejahteraan masyarakat di seluruh dunia.

Baca Juga

Rayakan Perjalanan Seabad, Disney Luncurkan Kampanye Global Create 100

Pernyataan tersebut disampaikan Presiden Indonesia Business Council for Sustainable Development (IBCSD), Lilik Unggul Raharjo dalam diskusi panel bertajuk 'ESG Beyond Compliance: Praktek Terbaik untuk Meningkatkan Keberlanjutan dalam Menghadapi Tantangan Global yang Kompleks' di Jakarta.

"Sayangnya, saat ini dunia kita sedang dalam kondisi yang tidak baik; krisis iklim, kerusakan alam, dan kesenjangan yang semakin meningkat, dan semua mata tertuju pada sektor swasta," tutur Lilik dalam keterangannya di Jakarta, Kamis (2/8).

"Melalui penerapan ESG, kini saatnya sektor bisnis menunjukkan bahwa bisnis dapat memberikan solusi dan menjadi bagian dari solusi," sambungnya.

Hal senada disampaikan Direktur Eksekutif WBCSD Asia Pasifik, Joe Phelan.

Baca Juga

Muda dan Berpengaruh, Kendall Jenner Terpilih Jadi Global Ambassador L'Oréal Paris

Menurutnya, penerapan praktek ESG telah menjadi hal yang penting, tidak hanya untuk mengidentifikasi dan memitigasi potensi risiko, tetapi juga untuk menciptakan nilai yang berkelanjutan serta meningkatkan reputasi dan daya saing.

"Dunia mendorong sektor bisnis untuk berubah, untuk lebih memperjelas bahwa sektor bisnis sedang berupaya dan memiliki rencana untuk menjadi net-zero, positif terhadap lingkungan, dan berkontribusi terhadap kesetaraan yang lebih besar," tuturnya.

Namun, penerapan praktek-praktek ESG di Indonesia memiliki tantangan tersendiri. Indonesia tidak hanya menghadapi risiko terkait iklim, tetapi juga menghadapi bahaya hilangnya keanekaragaman hayati, yang secara signifikan dapat berdampak pada ekonomi dan mata pencaharian global.

Sementara itu, Staf Ahli Bidang Konektivitas, Pengembangan Jasa dan Sumber Daya Alam, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Dida Gardera mengatakan, menerapkan ekonomi hijau dan ekonomi biru sangat
penting dengan pendekatan terpadu yang mempertimbangkan aspek lingkungan, sosial, dan ekonomi.

"Para pembuat kebijakan harus memprioritaskan keberlanjutan, bersama-sama dengan sektor swasta dan pemangku kepentingan lainnya sebagai motor penggerak (transformasi)," ujarnya. (Pon)

Baca Juga

V BTS Jadi Global Ambassador, Kalung Rp 400 Juta Cartier Terjual Habis

#Global Warming
Bagikan
Ditulis Oleh

Ponco Sulaksono

Bagikan