IATA Usulkan Alternatif untuk Karantina Tes COVID-19 dilakukan sebelum penumpang tiba di bandara. (Foto: Unsplash/Oskar Kadaksoo

ASOSIASI Transportasi Udara Internasional (IATA) mendesak pemerintah untuk menghindari tindakan karantina saat mereka membuka kembali ekonomi. Alih-alih mempromosikan apa yang disebut 'pendekatan tindakan berlapis'.

"Menerapkan tindakan karantina bagi pelancong yang datang membuat negara-negara berada dalam keterasingan. Sektor perjalanan dan pariwisata menjadi terkunci," kata Direktur Jenderal dan CEO IATA Alexandre de Juniac. Atas keadaan itu, muncul alternatif kebijakan yang dapat mengurangi risiko penyebaran COVID-19 sambil tetap membuka kembali perjalanan dan pariwisata yang penting untuk memulai ekonomi nasional.

Baca juga:

Tak Ada lagi Alkohol di Pesawat

1
Mencegah penumpang yang tidak sehat untuk bepergian. (Foto: Unsplash/Daniel Lim)

De Juniac mengusulkan kerangka kerja dengan lapisan perlindungan agar orang yang sakit tidak bepergian. Hal itu untuk mengurangi risiko penularan jika seorang pelancong diketahui telah terinfeksi setelah kedatangan.

Melansir laman Business Traveller, IATA menyarankan pencegahan penumpang bepergian jika mereka tidak sehat. Maskapai penerbangan diharapkan membantu mewujudkan hal itu dengan menawarkan fleksibilitas bagi pelancong saat memesan tiket. Hal itu memungkinkan pelancong untuk menyesuaikan tanggal. Dengan begitu, mereka tidak akan dikenai sanksi jika batal terbang pada waktu yang ditentukan.

Ia juga mengatakan penyaringan kesehatan harus dilakukan dalam bentuk 'deklarasi kesehata'. Deklarasi itu mencakup langkah-langkah seperti pemeriksaan suhu yang mungkin pada saatnya nanti. Tindakan itu berguna sebagai pencegah bagi mereka yang mungkin mempertimbangkan bepergian meskipun merasa sakit.

Bagi pelancong yang datang dari negara-negara yang dianggap berisiko lebih tinggi, advokat IATA mempertimbangkan pengujian COVID-19. Tes akan dilakukan sebelum kedatangan di bandara keberangkatan. Hal itu agar tidak menambah penumpukan bandara dan menghindari potensi penularan dalam proses perjalanan. Nantinya, pelancong akan mendapat dokumentasi untuk membuktikan hasil negatif.

Ia mengakui agar cara ini layak, tes harus tersedia secara luas dan sangat akurat. Hasil tes yang disampaikan harus cepat. Data uji perlu divalidasi secara independen agar dapat diakui pemerintah dan ditransmisikan secara aman ke otoritas terkait.

Baca juga:

Mungkinkah Tes Cepat 20 Menit Menggantikan Masa Karantina 14 Hari?

2
Tanggal keberangkatan dapat diubah tanpa terkena sanksi. (Foto: Unsplash/chuttersnap)

Selain itu, IATA juga mempromosikan pedoman lepas landas yang diterbitkan International Civil Aviation Organization (ICAO). Pedoman itu termasuk pemakaian masker wajah selama proses perjalanan, sanitasi, deklarasi kesehatan, dan jarak sosial jika memungkinkan.

Untuk mengurangi risiko penularan di negara tujuan, pemerintah mengambil langkah-langkah mereka sendiri. Langkah-langkah itu akan mengurangi risiko dari para pelancong dan pelacakan kontak dapat digunakan sebagai langkah ‘cadangan’.

Identifikasi cepat dan isolasi kontak mengandung risiko tanpa gangguan ekonomi atau sosial skala besar. Teknologi seluler baru berpotensi untuk mengotomatisasi bagian dari proses pelacakan kontak, asalkan masalah privasi dapat diatasi.

“Memulai kembali perekonomian dengan aman menjadi prioritas,” kata De Juniac. Itu termasuk perjalanan dan pariwisata. Tindakan karantina mungkin memainkan peran dalam menjaga orang tetap aman, tetapi hal itu juga akan menciptakan banyak pengangguran. Alternatifnya ialah mengurangi risiko melalui serangkaian tindakan. Maskapai sudah menawarkan fleksibilitas sehingga tidak ada insentif bagi orang sakit atau berisiko untuk bepergian.

Pernyataan kesehatan, penyaringan, dan pengujian oleh pemerintah akan menambah lapisan perlindungan tambahan. Jika seseorang bepergian saat terinfeksi, risiko penularan dapat dikurangi dengan protokol untuk mencegah penyebaran selama perjalanan atau saat di tempat tujuan. Pelacakan kontak yang efektif dapat mengisolasi mereka yang paling berisiko tanpa gangguan besar.

Dewan Perjalanan dan Pariwisata Dunia (WTTC) memperkirakan perjalanan dan pariwisata menyumbang 10,3% dari PDB global dan 300 juta pekerjaan secara global. (lgi)

Baca juga:

Asosiasi Perjalanan AS Rilis Panduan untuk Masa ‘New Normal’

Kredit : leonard

Tags Artikel Ini

Leonard G.I

LAINNYA DARI MERAH PUTIH