HUT Ke-66, Kopassus Harus Paham Perang Gaya Baru Mantan Danjen Kopassus Mayjen (TNI) Madsuni (kanan) melakukan salam komando dengan Danjen Kopassus yang baru Mayjen (TNI) Eko Margiyono (kiri) usai Upacara Penyerahan Satuan Korps Pasukan Khusus

MerahPutih.Com - Memasuki usia yang ke-66, Komando Pasukan Khusus (Kopassus AD) dituntut lebih berperan aktif dalam menjaga keamanan dan pertahanan negara.

Sebab, perkembangan zaman yang semakin canggih dan terbuka, pertahanan negara tak hanya datang dari dalam negeri (mikro), namun bersifat global (makro).

Untuk itu, Tentara Nasional Indonesia (TNI) khususnya Kopassus harus siap dengan segala bentuk perang "gaya baru" ke depannya.

Pengamat Militer Jerry Indrawan menilai, ada sejumlah tantangan dan perlu dipahami Kopassus menyongsong era keterbukaan tersebut.

"Sedikitnya ada tiga perang modern yang harus dipahami Kopassus dan TNI," kata Jerry saat dimintai keterangan, Senin (16/4).

Pertama, Kata Jerry, perang modern lebih seperti operasi sandi yudha.

Danjen Kopassus yang baru
Danjen Kopassus Mayjen TNI Eko Margiyono saat dilantik KSAD Jenderal Mulyono (Foto: tniad.mil.id)

"Jadi fokus pada pencegahan, cipta kondisi, TNI itu harus bisa merakyat dan tidak hanya fokus kepada pertahanan. TNI harus lebih menekankan preventif," terang dia.

Kedua, perang proxy. Menurut dosen UPN itu, Kopassus dan TNI harus siap menghadapi perang semacam ini, di mana negara akan terlibat dalam sejumlah blok kekuatan militer dan ekonomi.

Karenanya, sebagai negara yang punya potensi besar di dunia, Indonesia pasti akan terseret dalam lingkaran peran proxy.

"Secara tidak langsung Indonesia sudah kena perang proxy. Seperti kata Pak Gatot, Indonesia sudah kena perang proxy. Misalnya kepentingan asing, Amarika, cina, dengan kekuatan super power meraka ingin menggunakan kekuatan indonesi khususnya TNI. TNI harus siap, tidak boleh berpihak atau memblok. TNI harus netral, harus dihadapi dengan netralitas," ujar dia.

"Termasuk kaitannya dengan politik dalam negeri. Dikhawatirkan kalau berpihak, TNI terkena perangkap itu namanya perang proxy," imbuhnya mengutip pernyataan Jenderal (Purn) Gatot Nurmantyo dalam keterangannya beberapa waktul lalu.

Ketiga, perang asimetris. Perang melawan separatis dan teroris, bukan lagi melawan tentara.

"TNI harus siap itu, lawannya adalah rakyat sendiri. Lawannya bangsa sendiri yang berubah menjadi separatis atau teroris. Maka tidak bisa lagi gunakan perspektif HAM karena sudah berubah menjadi lawan negara," katanya.

Terkait hal itu, TNI khususnya korps elit harus memahami gaya perang abad terkini, tidak melulu fokus kepada pertahanan tetapi juga keamanan.

"Kopassus harus bisa menekankan kepada perang gaya baru itu," imbaunya.

Sementara itu, terkait proxy war, pengamat militer Susaningtyas NH Kertopati mengharapkan prajurit Komando Pasukan Khusus (Kopassus) harus memiliki kemampuan untuk menghadapi perang proxy yang kini telah menyebar ke seluruh dunia.

Suasana di Markas Kopassus Cijantung
Suasana di Markas Cijantung, Jakarta (Foto: MP/Fadhli)

"Perang proxy yang kini menyebar di seluruh dunia juga harus menjadi pengetahuan yang dikuasai prajurit Kopassus," kata Susaningtyas, di Jakarta, menanggapi peringatan HUT ke-66 Kopassus yang jatuh pada Senin.

Pasukan khusus yang dibentuk oleh Idjon Djanbi pada tahun 1952 ini memang dilengkapi dengan kemampuan khusus di bidang militer dan intelijen.

Menurut Nuning, sapaan Susaningtyas sebagaimana dilansir Antara, seiring dengan pergeseran ancaman yang dihadapi pasukan khusus militer secara global, Kopassus perlahan tapi pasti bermetamorfosa menjadi pasukan khusus yang tetap memiliki ketangkasan dan kehebatan militer khusus juga operasi Sandi Yudha tetapi lebih humanis dan strategis.

"Kemampuan Intelijen Sandhi Yudha yang dimiliki sebagai kemampuan menghadapi perang modern dan asimetrik," tandas mantan Anggota Komisi I DPR tersebut.

Sebagaimana diketahui, Sandi Yudha sebagai suatu operasi intelijen dalam tubuh Kopassus, ujar dia, kini dituntut lebih piawai dalam melaksanakan operasi yang bersifat pencegahan, preemptif, dan cipta kondisi.

"Terlebih, saat ini terorisme dan radikalisme merupakan ancaman faktual yang harus kita waspadai dan ditangani secara holistik hingga ke tingkat embrio," tuturnya.(*)

Baca juga berita lainnya dalam artikel:6 Eks Danjen Kopassus yang Terjun ke Percaturan Politik Indonesia

Kredit : fadhli


Eddy Flo

LAINNYA DARI MERAH PUTIH