Hubungan Jamu dan Kesetaraan Gender Jamu gendong budaya khas Indonesia. (Foto: Instagram/@martinwestlakephotography)

SEBAGAI warisan budaya tak benda yang dimiliki Indonesia, jamu dianggap bisa memberikan sumbangsih dari Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) 2030 yang diusung PBB, terutama tujuan yang terkait kesetaraan gender. Hal ini diutarakan oleh Wakil Sekretaris Jendral IV Gabungan Pengusaha (GP) Jamu Kusuma Ida Anjani.

Menurutnya, dari segi sosial dan budaya, jamu telah memberikan tempat istimewa untuk keberadaan perempuan Indonesia sebagai pewaris budaya, mulai dari perajin, penjual hingga pengusaha jamu.

Baca juga:

Desa Wisata Jamu Kiringan, Mempertahankan Tradisi di Tengah Gerusan Modernitas

"Itu menunjukkan bagaimana budaya sehat jamu memberikan ruang kreasi yang luas untuk banyak perempuan di Indonesia dan mendukung salah satu SDGs," ucap perempuan yang akrab disapa Ajeng itu saat konferensi pers di Jakarta seperti dilansir Antara, Senin (14/3).

Jamu memberikan tempat istimewa intuk perempuan. (Foto: Instagram/@suweorajamu28)
Caption

Tim Kerja Nominasi Budaya Sehat Jamu bersama GP Jamu pada Senin (14/3) sudah menyerahkan dokumen nominasi Warisan Budaya Tak Benda/WBTB (Intangible Cultural Heritage/ICH-02) kepada Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). Dokumen tersebut nantinya akan diteruskan ke UNESCO.

Dalam proses penyusunan dokumen, tim peneliti melakukan wawancara kepada 304 responden dengan 251 diantaranya perempuan dan selebihnya laki-laki. Dengan demikian sekitar 80 persen responden perajin dan penjual jamu adalah perempuan.

Ajeng menjelaskan banyak dari responden perempuan adalah tulang punggung keluarga. Responden yang dipilih berasal dari empat Provinsi di Indonesia yakni Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, dan DKI Jakarta.

Baca juga:

Mbok Jamu Gendong

Menurutnya, jamu memiliki filosofi yang agung jika ditilik dari bagaimana cara para mbok menjajakan jamu dengan cara digendong.

"Ibaratnya jamu itu adalah rahmat dari ibu bumi. Jamu digendong bukan sekadar cara untuk membawa sesuatu, tetapi ini layaknya sebagai seorang ibu yang menggendong bayinya. Kalau kita lihat sebagai maknanya, ibaratnya barang dagangan jamu ini sangat berharga dan juga disayangi," kata Ajeng.

Jamu modern yg dihasilkan warga desa Keringan. (Foto: Facebook)
Jamu modern yg dihasilkan warga desa Keringan. (Foto: Facebook)

Sebagai perempuan muda Indonesia, ia mengaku bangga saat jamu resmi menjadi nominasi sebagai warisan budaya tak benda yang akan diajukan ke UNESCO. Ajeng mengapresiasi kerja keras tim peneliti yang bekerja sejak tahun lalu.

Selain sejalan dengan SDGs nomor lima, Tim Kerja Nominasi Budaya Sehat Jamu juga menyebutkan bahwa jamu merepresentasikan tujuan nomor tiga terkait dengan kesehatan dan kesejahteraan hidup, tujuan nomor 12 terkait konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab, serta tujuan nomor lima belas terkait penggunaan ekosistem darat. (Yni)

Baca juga:

Jamu, Racikan Nenek Moyang Menyehatkan

Kanal