Hoax dan Isu SARA Sudah pada Tahap Mencemaskan Refleksi Hukum Akhir Tahun 2017 yang diselenggarakan DPP Badan Hukum PDIP di Hotel Acacia, Jakarta Pusat, Kamis (21/12). (MP/Fadhli)

MerahPutih.Com - Berita bohong atau hoax yang bertendensi ke isu SARA (Suku Agama Ras dan Antar-golongan sudah pada tahap mencemaskan. Bahkan hoax isu SARA berpotensi menjadi ancaman serius bagi demokrasi di Tanah Air.

"Berita hoaks dan isu SARA menjadi ancaman serius bagi proses demokrasi kita," kata Tenaga Ahli Anggota DPR Fraksi PDI Perjuangan Nurfahmi Budi Prasetyo dalam keterangan tertulis di Jakarta, Rabu (14/2).

Isu-isu tersebut kerap kali digunakan di tahun politik untuk saling menjatuhkan lawan politik satu sama lain. Nurfahmi sendiri berharap kualitas demokrasi Indonesia tidak dikotori dengan cara-cara penyebaran kabar bohong yang memecah-belah kerukunan tersebut.

"Isu-isu seperti itu saat ini, paling sering dilempar ke dunia maya untuk memengaruhi generasi milenial sebagai mayoritas pengguna media sosial yang dikelompokkan dalam entitas massa mengambang dan kelompok Islam," katanya.

Nurfahmi sebagaimana dilansir Antara menilai masih rendahnya tingkat literasi dan minat baca masyarakat Indonesia menyebabkan penyebaran kabar bohong semakin mudah meluas hingga banyak kalangan kemudian terhasut.

"Hoax cepat menyebar karena masih rendahnya literasi dan minat baca bangsa kita. Baru baca judulnya, tanpa mengklarifikasi, orang sudah menjustifikasi sebuah isu, ungkap Fahmi.

Untuk itu, ia menyarankan para pengguna media sosial untuk bijak dalam berselancar di dunia maya. Pihaknya sendiri kerap menjadi korban hoaks yang sangat merugikan elektalibitas dan popularitas partai.

Menurut dia, PDI Perjuangan tercatat sangat sering menjadi sasaran tembak isu hoax SARA termasuk isu komunis. Namun ia meyakini seiring berjalannya waktu masyarakat di Tanah Air akan semakin cerdas menanggapi isu-isu yang tidak terkonfirmasi tersebut.

"Logikanya serderhana saja, Ketum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri itu seorang Muslimah. Anak dari seorang Proklamator Bung Karno yang belajar Islam dari H.O.S. Tjokroaminoto dan merupakan guru dari beberapa pendiri bangsa. Selain itu, Soekarno muda banyak berkenalan dan dipengaruhi pemikiran A. Hassan, pendiri Persatuan Islam (Persis)," katanya.

Ia menambahkan, saat ini sekitar 85 persen pengurus PDI Perjuangan beragama Islam dengan pemilihnya juga mayoritas Muslim, bahkan ada organisasi sayap partai yakni Baitul Muslimin Indonesia (Bamusi) yang fokus pada pemberdayaan umat.

Fahmi berpesan agar siapapun berhati-hati dalam menyebarkan informasi yang belum terkonfirmasi karena jejak digital saat ini sudah sangat mudah untuk ditelusuri oleh pihak berwajib.(*)



Eddy Flo

LAINNYA DARI MERAH PUTIH