Kesehatan
(HOAKS atau FAKTA) : Hirup Uap Air Panas Dua Kali Sehari Ampuh Tangkal COVID-19 Uap panas dapat jadi penyembuh dari COVID-19? (Foto: Unsplash/Yosef Ariel)

PADA akun Facebook Bram Palgunadi mengunggah video di hari Senin (21/12/2020). Dalam video tersebut ada seorang laki-laki bernama Nilesh Jogal yang mengatakan bahwa dengan menghirup uap air panas sebanyak dua kali sehari melalui hidung dan dihembuskan melalui mulut diyakini mampu menangkal virus Covid-19.

Video itu kemudian ditayangkan pertama kali di akun Youtube JOGI Ayurved pada 10 Desember 2020.

Baca juga:

Fakta-Fakta Penting Tentang Vaksin COVID-19

uap
Uap panas dianggap mampu menjadi penyembuh COVID-19. (Foto: Unsplash/Zach Lezniewicz)

Jika diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia:“Ketahui peran menghirup uap dalam pencegahan korona. Bapak Nilesh Jogal, pendiri Rumah Sakit Ayurved JOGI, Surat menjelaskan bagaimana dia dapat melindungi seluruh anggota stafnya dari infeksi korona meskipun melakukan kontak dengan pasien positif korona setiap hari.

Facebook:

“KABAR DARI INDIA: MELAWAN CORONA DENGAN MENGHIRUP UAP AIR PANAS….Virus Covid-19 itu pelindung dirinya lemak (grease). Itu sebabnya kita diminta untuk sering mencuci tangan pakai sabun pada air yang mengalir. Minum air hangat, dan mengkonsumsi makanan panas. Juga makan dan minuman yg mengandung asam (kecut). Menghirup uap air panas. Semua anjuran itu, dimaksudkan untuk membunuh virus Covid-19, karena pelindung tubuh virus itu akan luruh dan membuat virus itu mati, jika berhadapan air panas/hangat, uap air panas, air kecut (air rebusan buah jeruk misalnya), alkohol pekat, atau cairan sabun/deterjen…”

FAKTA

Dari hasil penelusuran Mafindo, informasi terkait menghirup uap air panas dua kali sehari dapat menangkal virus COVID-19 adalah tidak benar. Informasi yang sama juga pernah beredar pada pertengahan tahun 2020 lalu.

Terkait hal itu, Sekretaris Jenderal Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI), Eka Ginanjar mengatakan bahwa tindakan tersebut tidak bermanfaat dan belum ada penelitian kesehatan secara resmi yang bisa membuktikan apakah menghirup uap air panas dapat membunuh virus Corona.

Sampai saat ini pun belum ada metode yang resmi untuk melakukan penelitian tersebut.

Seorang ahli dalam virus Corona yang mengepalai Departemen Ilmu Biologi di Texas A&M University-Texarkana juga menanggapi hal tersebut, dirinya setuju bahwa gagasan uap air panas dapat membunuh virus Corona adalah gagasan yang buruk karena tidak benar dan dapat merusak paru-paru.

Melalui penelusuran lebih lanjut, dilansir dari factcheck.afp.com, Dr. Jason McKnight, Asisten Profesor Klinis di Departemen Perawatan Primer dan Population Health di Texas A&M University mengatakan bahwa cara tersebut justru memiliki potensi untuk menyebabkan kerusakan pada wajah seperti luka bakar bagian kulit wajah, mata, dan saluran pernapasan, yang jika cukup parah dapat menyebabkan komplikasi serius dalam jangka panjang.

Baca Juga:

Eijkman Kembangkan Vaksin COVID-19 Tercepat di Tanah Air

uap
Belum ada bukti ilmiah uap panas dapat menyembuhkan COVID-19. (Foto: Unsplash/Caleb Lucas)

Jack juga menambahkan bahwa pada saat ini, satu-satunya cara untuk membunuh virus adalah melalui solusi pembersihan antimikroba, yang tidak boleh dihirup atau dimasukkan ke dalam tubuh dengan cara apapun.

Sementara itu, Badan Kesehatan Dunia (WHO), melalui laman resminya who.int menyatakan, membiarkan tubuh terkena paparan sinar matahari maupun temperatur yang lebih tinggi dari 25 derajat Celcius tidak mampu mencegah maupun mengobati Covid-19 dan sampai saat ini tidak ada obat khusus yang direkomendasikan untuk mencegah atau mengobati virus ini.

Namun, mereka yang terinfeksi virus harus menerima perawatan yang tepat untuk meredakan dan mengobati gejala, dan mereka yang sakit parah harus mendapatkan perawatan suportif yang dioptimalkan.

Beberapa perawatan spesifik sedang diselidiki, dan akan diuji melalui uji klinis. WHO membantu mempercepat upaya penelitian dan pengembangan dengan sejumlah atau mitra.

KESIMPULAN

Berdasarkan seluruh referensi, terkait informasi menghirup uap air panas dua kali sehari dapat menangkal virus Covid-19 adalah tidak benar dan masuk ke dalam kategori konten yang menyesatkan. (knu)

Baca Juga:

Jika Sudah Pernah Terkena COVID-19, Apa Masih Butuh Vaksin?

LAINNYA DARI MERAH PUTIH
Belajar Menghargai Jasa Kurir dan Ojol Selama PPKM Darurat
Hiburan & Gaya Hidup
Belajar Menghargai Jasa Kurir dan Ojol Selama PPKM Darurat

Tiap orang memiliki medan perangnya masing masing

Mengenal 3 Skaterboarder Ternama Indonesia
Fun
Mengenal 3 Skaterboarder Ternama Indonesia

Indonesia memiliki skaterboarder berbakat.

Lidia Sobieska, Karateka Asal Polandia yang Hadir di Tekken 7
ShowBiz
Lidia Sobieska, Karateka Asal Polandia yang Hadir di Tekken 7

Sobieska adalah seorang perdana mentri Polandia yang hadir untuk bertarung untuk bangsanya

Mungkinkah Astronout Berhubungan Seks di Ruang Angkasa?
Fun
Mungkinkah Astronout Berhubungan Seks di Ruang Angkasa?

Ketiadaan gravitasi membuat mereka menjalani hidup yang tidak biasa.

ASEAN Miliki Peluang Tinggi Adopsi Mobil Listrik
Fun
ASEAN Miliki Peluang Tinggi Adopsi Mobil Listrik

ASEAN adalah wilayah yang dinamis

Tulisan Tangan Asli Albert Einstein Dilelang Seharga Rp 17 Miliar
Fun
Tulisan Tangan Asli Albert Einstein Dilelang Seharga Rp 17 Miliar

Tulisan tangan Einstein mengenai persamaan E=mc2 dilelang dan terjual dengan harga fantastis.

Bayaran Tom Hiddleston untuk Karakter Loki Meningkat 4,900 Persen
ShowBiz
Bayaran Tom Hiddleston untuk Karakter Loki Meningkat 4,900 Persen

Tom Hiddleston telah 11 tahun memerankan karakter Loki.

Usir Stres dengan 5 Game Gampang Dimainkan Ini
Fun
Usir Stres dengan 5 Game Gampang Dimainkan Ini

Kamu tidak perlu berpikir keras untuk memainkan game ini.

Raih Piala Terbanyak di FFI, 4 Film Indonesia ini Wajib Kamu Tonton
ShowBiz
Raih Piala Terbanyak di FFI, 4 Film Indonesia ini Wajib Kamu Tonton

Menjelang FFI 2020, film Indonesia ini wajib kamu tonton.

Serial ‘Catch 22’ Hadirkan Perang Bernuansa Komedi
ShowBiz
Serial ‘Catch 22’ Hadirkan Perang Bernuansa Komedi

Diadaptasi dari novel karya Joseph Heller.