Hipmi Minta Capres Siapkan Strategi Perang Dagang Ketua Umum Badan Pengurus Pusat Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) Bahlil Lahadalia. foto: hipmi

MerahPutih.com - Ketua Umum Badan Pengurus Pusat Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) Bahlil Lahadalia berharap kedua pasang Calon Presiden dan Wakil Presiden mengangkat isu-isu bermutu dan strategis bagi perekonomian nasional. Salah satu isu itu adalah kian memanasnya perang dagang antar kawasan dan antar negara-negara besar.

"Kita berharap kedua Capres atau Cawapres mengedapankan isu-isu bermutu ke depan. Misalnya, apa konsep mereka menghadapi perang dagang atau trade war yang kian meluas. Apa strategi mereka agar Indonesia keluar sebagai pemenang atau minimal memperoleh benefid,” ujar Bahlil usai melakukan pertemuan dengan Jajaran PUM Netherland Senior Experts di Markas PUM Netherland, Den Haag, Belanda, akhir pekan ini.

Jokowi-Ma'ruf Amin di KPU. Foto: @KPU_ID

Para petinggi PUM Netherland Senior Experts merupakan, para mantan CEO dan top manajemen di berbagai perusahaan multinasional dan organisasi pemerintah yang bermarkas di Belanda. Pihak PUM Netherland Senior Experts dipimpin oleh Andy Wehkamp dan Joos van Oort, Country Coordinator untuk wilayah Indonesia. Andy Wehkamp merupakan alumni Harvard School. Sebelum bergabung dengan PUM, Andy bergabung dengan SNV, dan Oxfam-Novib, bekerjasama dengan pemerintah Belanda. Dengan Hipmi, PUM memperpanjang kerjasama pengembangan pasar Indonesia ke Uni-Eropa.

“Kami sangat senang bekerjasama dengan Hipmi. Tentu Hipmi ingin tahu apa yang akan kami bisa kerjakan untuk membuka pasar eropa, utamanya untuk produk-produk usaha kecil dan menengah,” Kata Andy Wehkamp.

Bahlil mengatakan, arus balik liberalisasi yakni proteksionisme, saat ini melanda hampir semua negara dan kawasan. Bahkan negara kampiun liberalisasi perdagangan global Amerika Serikat telah menjadi sponsor utama penggerak proteksionisme.

“Amerika sudah menabuh genderang perang dengan China, saya kira Indonesia tinggal tunggu waktu,” ujar Bahlil dalam keterangan tertulisnya yang diterima di Jakarta, Senin (13/8).

Gandeng Eropa

Ketua Umum Badan Pengurus Pusat Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) Bahlil Lahadalia (Dok. bahlillahadalia.com)

Bahlil mengatakan, meski Amerika dan China memanas, Indonesia masih punya waktu membangun aliansi dagang dengan Eropa. Sebab kedua negara dan kawasan masih memiliki banyak kesepahanan dan komunikasi yang bagus. Eropa juga bisa menjadi penengah atau mitra bagi Indonesia jangka panjang.

Sebab itu, Bahlil meminta agar pemerintah kerja sama perdagangan Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership (IEU CEPA). Tujuannya, untuk menjamin akses pasar dengan preferensi yang terbaik bagi pelaku usaha Indonesia.

“Kita dorong agar CEPA dipercepat agar akses pasar semakin terbuka,” ujar Bahlil usai bertemu dengan empat Atase Perdagangan Indonesia di Paris, Barcelona, Roma, dan Amsterdam.

Bahlil mengatakan, secara umum perdagangan Uni Eropa dengan Indonesia mengalami surplus. Nilai total perdagangan Indonesia-Uni Eropa pada 2017 mencapai USD25,2 miliar, dengan ekspor Indonesia ke Uni Eropa sebesar USD14,5 miliar dan impor sekitar USD10,7 miliar sehingga surplus di angka USD3,8 miliar. Sementara itu, nilai investasi Uni Eropa di Indonesia tahun 2016 sebanyak USD2,6 miliar dengan jumlah 2.813 proyek.

Namun khusus dengan Prancis, perdagangan Indonesia mengalami defisit. Defisit telah berlangsung lama. Sebab itu, Bahlil meminta Prancis lebih membuka diri terhadap produk-produk Indonesia.

"Kita berharap agar Prancis lebih membuka diri. Barangkali ada peluang memperkecil defisit kita," ujar Bahlil.

Sebab itu, Bahlil meminta agar Prancis agar semakin membuka diri dengan Indonesia.

"Kita sudah beri kontribusi besar untuk ekonomi Prancis. Airbus bisa selamat dari krisis dulu karena Lion Air pesan banyak pesawat. Sudah waktunya Prancis membuka diri dan kurangi hambatan- hambatan," ucap Bahlil.

Bahlil juga mendesak Prancis agar aktif memperjuangkan masa depan pasar minyak Sawit Indonesia di Eropa.

Kita minta Prancis mengoptimalkan pengaruhnya di Eropa. Sebab setelah Brexit, dominasi Prancis sangat kuat. Sedangkan isu minyak sawit sudah dibawa ke tingkat Uni-Eropa. Bukan lagi hanya isu dalam negeri Prancis," ucap Bahlil.

Bahlil mengingatkan meski larangan minyak sawit diperpanjang hingga 2030, namun Uni-Eropa kemungkinan akan meningkatkan hambatan-hambatan dalam bentuk berbagai regulasi dan sertifikasi.

"Misalnya kalau di kita itu ada Perda-Perda atau sertifikasi, bahasa, selain isu besar soal lingkungan," papar Bahlil.

Boyong 60 Pengusaha

Ketua Umum BPP Hipmi Bahlil Lahadalia dan Delegasi HIPMI-Europe Trade Mission 2018 pemaparkan potensi kerjasama perdagangan Indonesia dan Belanda, utamanya produk Usaha Kecil dan Menengah, dari para petinggi PUM Netherland Senior Experts. Foto: HIPMI

Sebagaimana diberitakan, sebanyak enam puluh (60) pengusaha muda diboyong Bahlil Lahadalia ke sejumlah negara di Eropa 2-13 Agustus. Di Eropa, Hipmi menjajaki peluang bisnis serta meningkatkan hubungan dagang business to business (B to B) dengan pengusaha lokal.

Bahlil mengatakan, pihaknya memboyong sebanyak 60 pengusaha muda dari 34 Badan Pengurus Daerah se-Indonesia untuk berkunjung ke sejumlah negara di Eropa antara lain, Italia, Belanda, Belgia, Swiss dan Prancis. Kunjungan dagang ini bertajuk “Hipmi-Europe Trade Mission 2018.”

Selain itu, para pengusaha ini akan mengunjungi mitra-mitra bisnis mereka di Milan, Prancis, Amsterdam dan beberapa sentra-sentra industry dan perdagangan.

”Kita ingin ada kontak langsung B to B, penjajakan, bertukar informasi pada akhirnya ada business matching. Kita harap ada transaksi ujung-ujungnya,” ucap dia.

Pengusaha yang diboyong dari hampir semua sektor baik logistik, perdagangan, perkebunan, konstruksi, teknologi informasi, pariwisata, makanan dan minuman dan sebagainya.

“Hampir semua sektor kita boyong,” tegas Bahlil. (*)


Tags Artikel Ini

Andika Pratama

LAINNYA DARI MERAH PUTIH