Semrawutnya Seragam Prajurit Kawal Soedirman, Dari Baju Serdadu Inggris Hingga "Halflaars" Jepang (17)  Jenderal Soedirman duduk paling depan (kiri) sedang menyaksikan pelaksanaan latihan perang di sekitar Borobudur pada tahun 1947.

RUMAH dinas sang panglima besar di jalan Bintaran Tengah, Yogyakarta, tampak sederhana. Di ujung pekarangan rumah nan menghadap utara, nampak sebuah rumah jaga kecil. Saban hari, para prajurit kawal setia menjaga Jenderal Soedirman dalam keadaan sakit tuberkulosis.

Selain di pos jaga, para prajurit juga berjaga di depan, belakang, serta sekeliling Rumah Bintaran. Salah seorang ajudan Soedirman bernama Utoyo Kolopaking berkisah tentang rupa-rupa pakaian para parajurit kawal di rumah dinas Pak Dirman.

“Pakaian mereka tidak dapat dikatakan seragam,” ungkapnya pada Kisah Perang Kemerdekaan Pak Dirman Menuju Sobo. Para prajurit mengenakan pakaian apa adanya tanpa ada aturan baku seperti tentara pada masa kini.

Prajurit Kusno nan bertubuh pendek kekar, misalnya, seturut Utoyo, selalu memakai peci hitam berujung lancip di bagian depan, sementara Prajurit Mustafa si tinggi kurus malah mengenakan topi baret abu-abu dengan sebuah gambar hasil bikinannya sendiri.

Mungkin Kusno boleh bangga karena beruntung bisa mengampu sebuah karabin mitraliur, jenis senjata paling ampuh pada masa revolusi fisik. Tapi rekan seregu lainnya cuma kebagian pistol jenis Vicker. Mereka selalu menggantungkan pistol karatan tersebut di ikat pinggangnya.

Bila pada suatu pagi para prajurit kawal tersebut sedang duduk berjajar di depan pos jaga, menurut Utoyo, akan sangat terlihat sangat compang-camping. Terlihat seorang prajurit memakai jaket wol cokelat bekas sedadu Inggris, sedangkan prajurit lain bercelena hijau gombrong dengan saku-saku lebar, biasa disebut celana Gurkha.

Selain busana, sepatu para prajurit pun beraneka ragam. “Yang beruntung, bersepatu boot hitam setengah kulit setengah kain bekas serdadu Belanda, atau Halflaars coklat bekas opsir Jepang, atau pun sepatu-sepatu bikinan dalam negeri nan sudah diganti sol berulang kali dengan kulit sapi murahan,” ungkap Utoyo.

Meski sederhana, bahkan terlihat compang-camping, semangat juang para pasukan kawal Soedirman sangat teruji. “Beginilah wajah para pengawal Panglima Besar Angkatan Perang kita pada masa itu,” tandasnya. (*)

Hai Broer-Broer Sahabat MP tercinta, agar semakin lengkap memahami kisah Jenderal Soedirman, jangan lupa baca artikel berikut ini:

Ketika Soekarno Menggoda Soedirman: Pilih Perempuan Gemuk atau Kurus? (16)

Usaha Jenderal Soedirman Memadamkan Pemberontakan PKI Madiun 1948 (15)

Belanda Melanggar Perjanjian Linggarjati, Soedirman Memerintahkan Para Pejuang Menggempur (14)


Tags Artikel Ini

Yudi Anugrah Nugroho

LAINNYA DARI MERAH PUTIH