Hidupkan Film dengan Musik, Begini Cara Anto Hoed dan Aksan Sjuman Music scoring yang tepat dalam film menciptakan cerita yang lebih seru. (foto: divazine)

MUSIK merupakan elemen yang cukup penting dalam film. Tak hanya memberi warna tersendiri, musik juga bisa memberi nyawa kepada sebuah film. Dalam dunia perfilman, penempatan instrumen dikenal dengan istilah music scoring. Music scoring yang tepat mampu memberi nuansa pada adegan sehingga film tampak lebih dramastis.

Di Indonesia, Aksan Sjuman dan Anto Hoed merupakan dua komposer besar di balik music scoring film-film Indonesia. Dari tangan dingin keduanyalah, film-film Indonesia lebih hidup dengan alunan musik. Kita tentu ingat bagaimana anak-anak Belitung berhasil menularkan semangat untuk kita melalui Laskar Pelangi berkat Aksan Sjuman. Di lain film, kita dibuat semakin gregetan dengan romantisme Cinta dan Rangga berkat Anto Hoed.

Sebagai komposer musik untuk film, keduanya memiliki cara khusus. "Sebelum menentukan instrumen dalam film, biasanya gua baca dulu script-nya berulang-ulang kali. Setelah film dan gambarnya jadi, kertas kosong itu kita isi dengan apa yang kita mau," ujar Anto Hoed saat ditemui di Salihara, Jumat (2/11).

aksan sjuman & Anto hoed
Aksan Sjuman (kiri) dan Anto Hoed punya cara masing-masing untuk membuat music scoring. (foto: MP/Iftinavia Pradinantia)

Jika Anto Hoed memperdalam naskah sebelum mulai mengerjakan musik, Aksan Sjuman memiliki cara lain. "Saya biasanya melakukan riset kecil-kecilan sebelum membuat film tematik. Misalnya, ketika membuat film dengan latar Belitung atau Lombok, saya cari karakteristik musik daerah di Belitung atau Lombok lalu saya masukkan ke cerita," tutur Aksan Sjuman.

Selanjutnya, mereka akan memilih instrumen-instrumen yang tepat untuk adegan demi adegan dalam film. Anto menuturkan instrumen yang digunakan tak harus asli, tetapi melalui teknologi komputer. Para komposer bisa menerapkan hybrid orchestral dan musik electronic.

Setelah music score tercipta, tugas mereka tak berhenti begitu saja. Mereka harus mendiskusikan hasil film yang mereka buat dengan sutradara atau produser. Koordinasi yang tercipta antara komposer musik dan sutradara dan produser membuat film lebih dinamis. "Ketika musik sudah dibuat, kami harus mendiskusikannya dengan sutradara atau produser. Kalau mereka tidak suka, kami harus melakukan tindakan persuasif," jelas Anto.

"Kadang-kadang ada produser atau sutradara yang memiliki watak keras. Kita harus meyakinkan mereka bahwa film ini bisa box office. Karena mereka cenderung terpacu menciptakan film box office," tukas Aksan.(avia)

Kredit : iftinavia


Dwi Astarini

LAINNYA DARI MERAH PUTIH