Hidup Bermasyarakat dengan Penderita HIV Jangan jauhi penderita HIV (Foto: Unsplash/Andreas Weiland)

INFEKSI HIV merupakan masalah kesehatan global. Di tahun 2016, Badan Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan terdapat sekitar 1 juta penderita HIV meninggal di seluruh dunia.

Berdasarkan data yang didapatkan dari UNAIDS (United Nations Program on HIV/AIDS) di tahun 2016, terdapat sekitar 620.000 penderita infeksi HIV (ODHIV) di Indonesia.

Baca juga:

Meski Positif Mengidap HIV/AIDS, 'Public Figure' Ini Panjang Umur

Menyedihkannya, 3200 kasus terjadi pada anak-anak, dan angka kematian akibat penyakit ini mencapai 40.000 kasus. Siapa pun dapat berisiko terkena HIV, oleh karena itu penanganan serta pencegahan persebaran penyakit ini harus bermula dari dukungan dan pemahaman terhadap ODHIV. Demikian menurut berita pers yang diterima merahputih.com dari Alodokter.

Marilah kita hidup bermasyarakat dengan penderita HIV dengan mengetahui beberapa hal ini.

Diskriminasi dan Stigma terhadap ODHIV

Pengidap HIV kerap mendapat perlakuan diskriminatif (Foto: Unsplash/Anthony Tran)

Tidak hanya berusaha untuk tetap hidup sehat, ODHIV menghadapi tantangan lain yang tidak kalah berat: stigma dan diskriminasi. Tidak sedikit ODHIV yang kehilangan pekerjaan, ditolak oleh keluarga dan teman-temannya, atau bahkan menjadi korban kekerasan.

Data dari UNAIDS menyebutkan bahwa 62,8% masyarakat di Indonesia enggan berinteraksi dengan ODHIV.
Ada beberapa hal yang melatarbelakangi stigma dan diskriminasi terhadap ODHIV, yaitu:


• HIV adalah penyakit yang ditakuti, namun tidak sepenuhnya dipahami oleh banyak orang.


• Sebagian orang masih memercayai hal yang salah, bahwa HIV dapat menyebar melalui kontak fisik seperti bersentuhan atau sebatas berbagi gelas. Hal ini membuat ODHIV cenderung dijauhi.


• HIV dan AIDS sering diidentikkan dengan pelaku perilaku tertentu seperti pengguna obat terlarang dan pelaku seks bebas. Stigma ini membuat orang beranggapan bahwa virus tersebut diderita karena lemahnya moral ODHIV.

Dengan stigma sosial, muncullah diskriminasi terhadap ODHIV, seperti dikeluarkan dari kantor atau sekolah karena mengungkapkan diri sebagai ODHIV atau tidak diperkenankan menggunakan fasilitas umum seperti tempat ibadah.

Baca juga:

Abdikan Hidup untuk ADHA, Bidan Ropina Tarigan: Pembunuh Utama Orang dengan HIV AIDS ialah Diskriminasi

Manfaat pengidap HIV jujur dengan penyakitnya

Penderita HIV harus jujur, terutama kepada pasangannya (Foto: Unsplash/Joshua Ness)

Banyak ODHIV tidak jujur terhadap penyakitnya. Ya, mereka takut dijauhi banyak orang. Namun, setidaknya dengan berkata jujur, ada banyak manfaat yang bisa mereka dapatkan seperti berikut ini:

• Ada dukungan dan kasih sayang dari orang-orang terdekat yang membuat percaya diri.


• Berpeluang mendapatkan pelayanan kesehatan sesuai kebutuhan.


• Turut berkontribusi mencegah kemungkinan persebaran virus kepada orang lain, terutama pasangan.

Meski demikian, begitu terdiagnosis, tidak harus penderita segera memberitahu kondisinya kepada semua orang. Ambil waktu dan bersikaplah selektif dalam menentukan siapa yang perlu tahu terhadap penyakit yang kamu derita itu.

Cara jujur kepada orang lain tentang penyakit HIV

Mulailah jujur dengan orang terdekat (Foto: Unsplash/Pablo Heimplatz)

Ada beberapa langkah bagi penderita HIV untuk jujur kepada orang lain terhadap penyakitnya. Berikut langkah-langkahnya.

• Mulailah dengan orang terdekat terpercaya terlebih dahulu seperti pasangan.


• Ketahui alasan kuat kenapa perlu memberitahukan kondisi Anda ke orang tersebut.


• Bersiaplah untuk reaksi terkejut atau bahkan reaksi buruk yang diterima.


• Lengkapi diri dengan informasi lebih dalam tentang HIV. Orang yang diberitahu mungkin akan menanyakan beberapa hal tentang penyakit tersebut.


• Tidak sekadar memberitahu, sampaikan pula rencana pengobatan dan beberapa perubahan yang perlu dilakukan untuk menangani HIV.


• Jika memutuskan untuk bicara pada atasan, sertakan surat keterangan dari dokter dan informasikan apakah kondisi tersebut akan berpengaruh pada pekerjaan.


Penderita HIV juga tidak lagi dapat melakukan beberapa hal seperti mendonorkan darah. Selain menjaga kesehatan diri, ODHIV berkewajiban untuk tidak menularkan HIV kepada orang lain.

HIV menyebar melalui cairan tubuh seperti air mani, darah, cairan dari Miss V, dan air susu ibu (ASI). Penularan virus ini paling umum terjadi dalam hubungan seksual tanpa proteksi, sehingga menggunakan kondom menjadi salah satu solusi untuk mengurangi risiko penularan pada pasangan.

Selain itu, seorang ibu berisiko meneruskan virus melalui kandungan, saat proses persalinan, atau melalui pemberian ASI. Tapi dengan langkah pengobatan yang ada, seorang perempuan bisa hamil dan bersalin tanpa menularkan HIV ke anaknya.

Yuk sahabat Merah Putih, tetap bermasyarakat dengan ODHIV ya, jangan jauhi mereka! (ikh)

Baca juga:

Penularan HIV Bukan Lewat Ludah ataupun Keringat

Kredit : digdo

Tags Artikel Ini

Ikhsan Digdo