Hasil Riset: Mayoritas Anak Muda Menolak Terorisme, Tapi Intoleransi Menguat Koordinator jaringan Gusdurian Indonesia, Alissa Wahid (tengah). (Foto Ist)

Jaringan Gusdurian yang tersebar di berbagai daerah bekerja sama dengan International NGO Forum on Indonesian Development (Infid) melakukan penelitian terhadap masalah intoleransi dan masalah terorisme. Hasilnya, mayoritas anak muda tidak setuju dengan terorisme, tapi di sisi lain sikap intoleran juga menguat.

Koordinator jaringan Gusdurian Indonesia, Alissa Qotrunnada Munawaroh tidak menampik atas kekhawatiran yang terjadi selama ini terhadap pesan permusuhan yang beredar di media sosial yang semakin menguat.

"Sebanyak 88 persen anak muda di Indonesia itu sebenarnya tidak setuju dengan terorisme. Tidak menganggap terorisme itu wujud sebagai keberagamaan, bahwa ini adalah jihad atas nama tuhan, itu tidak dipercaya oleh mereka," katanya dalam keterangan, di Jakarta, Rabu (14/6).

“Tapi pada saat yang sama, sikap intoleran itu ternyata juga semakin menguat. Jadi walaupun tidak setuju dengan terorisme pada saat ini, tetapi ada sikap-sikap tidak menyukai atau tidak setuju kepada orang-orang yang berbeda agama, berbeda suku,” ujar perempuan yang akrab disapa Alissa Wahid ini.

Kelompok ekstrimis ini, menurut Alissa, menggunakan istilah-istilah yang menyulut kemarahan. Yang pertama adalah soal bagaimana kelompok agama tertentu itu ditindas dan memandang orang lain menjadi musuh.

“Jadi bahan bakarnya adalah permusuhan, rasa takut dan kebencian. Jadi rasa takut diserang oleh kelompok yang berbeda, kemduian yang kedua yaitu benci. Benci kepada kelompok yang berbeda, lalu yang ketiga permuuhan dan upaya untuk menguasai. Jadi menyerang kelompok yang berbeda,” ujarnya lagi.

Dijelaskan putri sulung Presiden RI ke-4, (Alm.) KH. Abdurrachman Wahid atau Gus Dur ini, toleransi itu pada dasarnya sikap untuk saling menghormati. Dan sikap saling menghormati itu sendiri dasarnya adalah keyakinan bahwa semua manusia itu adalah ciptaan tuhan. Dan karena itu setiap manusia memiliki posisi yang setara yang nantinya akan dinilai oleh Tuhan.

“Jadi yang membedakan atau manusia berbeda hanya dari ketaqwaannya. Dan Tuhan akan menilai manusia hanya dari ketaqwaan. Bukan manusia yang menilai. Tetapi selain itu manusia di muka bumi ini adalah setara,” ujarnya

Dan dari situlah, kata Alissa, kita sebagai manusia yang beragama kemudian bisa saling menghormati dan bisa saling bertoleransi antar sesama umat. Untuk itu dirinya meminta kepada seluruh umat manusia untuk memulainya dari berpikir adil.

Baca juga berita lain terkait intoleran di: Kikan Eks Cokelat Nilai Ancaman Radikalisme dan Intoleransi Mengkhawatirkan



Luhung Sapto

LAINNYA DARI MERAH PUTIH