"Harta Karun" Bung Karno di Toko Buku Bekas yang Laku Jutaan Rupiah Buku Sukarno "Di Bawah Bendera Revolusi" yang masih dihargai mahal di toko buku bekas Jalan Semarang, Surabaya (MP/Budi Lentera)

BUKU tebal dengan "wajah" kusam itu teronggok di rak salah satu lapak buku-buku bekas di Jalan Semarang, Surabaya. Sekilas tak istimewa. Beberapa bagian sampulnya mengelupas dimakan usia. Warna kertasnya coklat kekuningan seolah memperlihatkan umurnya yang sudah tua. Tapi bagi orang yang paham, sejatinya buku-buku lawas itu bak harta karun bernilai tinggi.

"Buku ini (dengan penampilan jadul) harganya Rp 1,2 juta" kata Makrus yang penjual saat ditemui MerahPutih.com beberapa waktu lalu.

Kata Makrus, buku-buku jadul yang dimilikinya itu bukan sembarang buku. Itu adalah buku karya Presiden Pertama Ir Sukarno. Makrus mengklaim bahwa buku-buku karya Sukarno itu hanya dijual di lapaknya. Harganya mahal karena buku tersebut dijamin ori.

Buku-buku Soekarno yang dijual Makrus di antaranya adalah Dibawah Bendara Revolusi. Buku setebal 2.000 halaman tersebut merupakan cetakan ketiga yang diterbiktkan pada tahun 1964. Selain itu buku karya Sukarno lainnya adalah Ampera: Amanat Penderitaan Rakyat. Harganya sama.

buku sukarno
Sang penjual memamerkan buku karya Presiden Sukarno di lapak toko buku bekasnya. (MP/Budi Lentera)

Meski sudah menua, dua buku itu masih bisa dibaca. Fontnya masih terlihat jelas, dan kertasnya masih kuat meseki pembaca kerap membolak-balik halamannya.

Dia mengaku senagaja menjualnya dengan harga lebih tinggi dari yang lain lantaran nilai sejarahnya juga tinggi. Pangsa pasar pemebeli buku-buku Sukarno juga orang-orang tertentu saja. Seperti sejarawan, atau kolektor buku, atau politikus.

Bahkan, kata Makrus, anak Soekarno yang bernama Guruh Sukarno Putra, pernah membeli buku di lapaknya. Dia mengingat kejadian itu pada 2004 silam dan bukunya dibeli dengan harga Rp 1,4 juta.

Karena hanya diminati orang-orang tertentu saja, buku-buku Sukarno ini biasanya baru terjual dalam hitungan bulan. "Kadang sampai dua bulan nggak laku," ujarnya.

Makrus sendiri mengaku susah untuk mendapatkan buku-buku karya Sukarno. Biasanya dia mendapatnya dari orang per orang secara pribadi, bukan kumpulan atau komunitas. Nah, bila buku-buku Sukarno terjual habis, maka dia akan berburu lagi. Meski susah, dia akan terus mencarinya. Sebab sejelek apapun kondisinya, buku karya Soekarno pasti akan laku. Yang penting masih bisa terbaca.

buku sukarno
Buku Presiden Sukarno yang dijual di lapak toko buku bekas. (MP/Budi Lentera)

Makrus memang bukan pengagum Sukarno secara mutlak. Tapi, ia menyadari bahwa benda-benda yang berkaitan dengan Sukarno mempunyai nilai sejarah yang tinggi. Itu sebabnya, selain menjual buku-buku karya Sukarno, ia juga menjual lukisan lukisan lama yang masih berkaitan dengan Soekarno.

Sementara salah satu pengunjung Wisata Kampung Ilmu, Andrian, mengaku takjub melihat buku berjudul Dibawa Bendera Revolusi saat mampir di stand milik Makrus.

"Bagus. Saya sempat baca sekilas tadi. Isinya kalau tidak salah ada rasa kekecewaan Sukarno terhadap perkembangan bangsa Indonesia yang tidak lagi jaya." lanjutnya.

Diketahui buku Dibawa Bendera Revolusi merupakan karya Ir Sukarno yang dicetak pada tahun 1964

Buku tersebut berisi tentang kisah hidup dari masa kecil, remaja sampai menjabat sebagai Presiden pertama RI. Buku tersebut sempat laris hingga diterbitkan beberapa kali cetakan. (budi lentera)


Tags Artikel Ini

Thomas Kukuh

LAINNYA DARI MERAH PUTIH