Kematian Toko Buku, Benarkah Imbas Literasi Digital? Ilustrasi (Pixalbay)

PELANGGAN toko buku Aksara Indonesia mendapat pukulan berat jelang peringatan Hari Buku Sedunia atau dikenal pula dengan Hari Buku dan Hak Cipta Sedunia, diperingati tiap tanggal 23 April.

Aksara menutup dua cabang toko di Cilandak Townsquare pada 6 April 2018 lalu, dan disusul sembilan hari kemudian di Pacific Place. "Jadi, saatnya kami mengucapkan selamat tinggal pada gerai-gerai kami di mal," tulis pihak Aksara di akun Instagram-nya. Mereka akan fokus pada gerai lokasi awal mereka di Kemang, Jakarta Selatan.

Pengubahan konsep tengah dilakukan pihak Aksara. Tak sebatas menjual buku, gerai pertama mereka di Kemang akan bersalin rupa menjadi Creative Arts Space, berupa kegiatan kesenian, fotografi, sinema, dan kedai kopi. Mengandalkan penjualan buku semata memang bukan perkara mudah untuk menghidupi sebuah toko buku di tengah era digital. "Penjualan buku ritel tidak pernah mudah dilakukan di Jakarta, atau di mana pun di dunia," tulis toko buku dengan koleksi kebanyakan buku-buku impor tersebut.

Tamatnya dua cabang toko Aksara Bookstore Indonesia menambah rentetan panjang kisah senjakala toko-toko buku di Indonesia. Pada pembuka tahun 2018, toko buku Toga Mas Semarang lantaran penjualan buku tak bisa menutup biaya operasional. Begitu pula dengan beberapa toko buku lainnya di berbagai kota besar, semisal tiga toko buku ternama di Bandung, seperti Djawa, Gunung Agung, dan Alebene, juga Eureka, Kalam, dan Gunung Agung Jakarta.

Rentetan daftar tersebut menjadi penanda senjakala toko buku. Spekulasi tentang rendahnya minat baca hingga serbuan buku digital dan toko buku berbasis daring dinilai menjadi pemicu. Benarkah?

Era Literasi Digital

"Hal itu tidak ada hubungannya dengan penurunan minat baca," tukas Hasyry Agusti, pegiat literasi digital asal beribuku.com ketika ditanya soal senjakala toko buku di Indonesia kepada merahputih.com.

Kekhawtiran tentang merosotnya minat baca sebagai biang keladi tutupnya berbagai toko buku sempat mencuat. Hal itu bukan tanpa sebab, survei teranyar Programme for International Student Assessment (PISA) tahun 2015 lantas dirilis 6 Desember 2016 menempatkan Indonesia berada di posisi 64 dari 72 negara, jauh di bawah Singapura.

Bahkan, tahun lalu, Duta Baca Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, Najwa Shihab memaparkan rendahnya minat baca masyarakat Indonesia saat acara Temu Literasi di Kupang, Nusa Tenggar Timur. Pembawa acara Mata Najwa tersebut membacakan hasil studi Most Littered Nation In the World 2016, menempatkan Indonesia di posisi paling bontot berdasarkan minat baca.

"Berdasarkan hasil survei, menyatakan bahwa saat ini minat baca masyarakat Indonesia sangatlah rendah. Sebab minat baca di Indonesia menduduki peringkat 60 dari 61 negara," kata presenter Mata Najwa dikutip Antara.

Tapi, rendahnya minat baca bukan jadi faktor utama penutupan beberapa toko buku terkemuka di Indonesia. Banyaknya toko buku gulung tikar, lanjut Hasyry, karena semakin merosotnya pembeli dan peralihan media baca dari rilisan fisik menuju dunia digital.

Ilustrasi (Pixalbay)
Ilustrasi (Pixalbay)

Fenomenan tersebut tak saja berimbas bagi para pemilik gerai atau toko buku, tapi juga penulis-penulis baru akan menerima pil pahit dengan semakin sulitnya mereka memunculkan diri. "Akan sangat susah rasanya jika seorang penulis untuk kita kenal melalui dunia buku digital," katanya.

Di waktu berbeda, Editor Penerbit Risalah Nur Press Hasbi Sen mengatakan bahwa dunia digital sangat berpengaruh besar dengan penurunan minat baca seseorang. "Misalkan Mahasiswa yang akan membuat sebuah makalah, sebelim era digital merekan akan mencari bahannya diberbagai buku dan sekarang sudah banyak makalah siap jadi di Internet," katanya.

Inovasi

Nilai efisiensi yang ditawarkan dunia digital mengharuskan pemilik toko buku maupun penerbit untuk bermanuver. Melihat zaman yang semakin modern saat ini, Hasbi mengatakan, penerbit harus berani mengeluarkan inovasi baru.

"Selain menjual buku di tempat percetakan, kami juga menjualnya pada akun-akun media sosial resmi, sekaligus berlangganan dengan toko buku besar Indonesia," kata hasbi menjelaskan.

Inovasi terbukti membuat toko buku selalu ada. Seperti Gramedia misalkan, dengan tekad optimis untuk menjadikan membaca sebagai sebuah peradaban, mereka selalu mengeluarkan terobosan-terobosan baru untuk mempertahankan kelangsungan tokonya.

"Perubahan dengan tak hanya menjual buku adalah strategi yang nyata kami lakukan. Namun, terobosan baru tersebut tidak akan melenceng dari nilai pendidikan dan inspiratif," kata Produk Spesialis Manager Gramedia, Wahyu Rahardjo.

Selain itu, baru-baru ini Gramedia telah mengeluarkan terobosan baru dengan membangun Gramedia World di berbagai daerah yang dirancang berbeda dengan Gramedia sebelumnya. "Kami juga membangun Gramedia World yang lebih luas," kata Wahyu. "Kami selalu melakukan kegiatan yang berhubungan dengan pendidikan dan inspirasi," lanjutnya menjelaskan.

Untuk tahap selanjutnya, Wahyu mengatakan, Gramedia berencana menggandeng pemerintah untuk melakukan terobosan baru di bidang digital. (Zai)

Kredit : zaimul

Tags Artikel Ini

Zaimul Haq Elfan Habib

LAINNYA DARI MERAH PUTIH