Hari Buku Sedunia, Berikut 5 Novel Terbaik Indonesia Ilustrasi. (MP/Rizki Fitrianto)

PENGGERAK literasi di seluruh dunia hari ini, 23 April, merayakan Hari Buku Sedunia. Perayaan ini merupakan bentuk promosi UNESCO terhadap kegemaran membaca, tentang penerbitan, dan hak cipta.

Hari Buku Sedunia ditetapkan UNESCO pada 1995 sebagai penghargaan sastrawan Inggris terkemuka, William Shakespeare,

seorang sastrawan berkebangsaan Inggris yang meninggal pada tanggal itu. Sebelumnya tanggal 23 April dipilih sebagai penghargaan terhadap penulis Miguel de Cervantes yang meninggal pada tanggal itu, oleh penulis Valencia, Vincente Clavel Andres.

Pada Hari Buku Sedunia, merahputih.com merangkum beberapa 5 novel Indonesia terbaik menurut Goodreads atau novel terbaik tulisan orang Indonesia dalam bahasa Indonesia yang pernah terbit;

1. Bumi Manusia

Novel Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer berada pada urutan pertama. Novel ini merupakan buku pertama dari Tetralogi Buru dan pertama kali terbit pada 1980 oleh Hasta Mitra.

Roman Tetralogi Buru mengambil latar belakang dan cikal bakal Indonesia di awal abad ke-20. Pram menulis novel Bumi Indonesia saat ia masih dalam pengasingan di Pulau Buru. Semua dalam novel menggambarkan perjuangan kaum pribumi atas ketidakadilan penjajahan, dan menuntut kesetaraan sebagai manusia seutuhnya.

Bumi Manusia
Bumi Manusia. (Hasta Mitra)

Penerbitan novel Bumi Manusia melalui banyak perjuangan. Novel yang terbit saat ini merupakan upaya keras Pram karena hampir semua tulisan aslinya ditanah oleh pihak Belanda dan tak pernah dikembalikan. Pram sendiri menyebut Bumi Manusia hingga terlahirnya sebagai "kebulatan tekad, keikhlasan, dan ketabahan".

Setahun telah penerbitannya, novel Bumi Manusia mendapat tentangan dari pemerintah. Novel ini dilarang Jaksa Agung dengan alasan sebagai propaganda Marxisme-Leninisme dan Komunisme. Sejak pertama kali terbit, Bumi Manusia telah tersebar dengan 10 kali cetakan.

Novel Bumi manusia telah diterjemahkan setidaknya ke 33 bahasa asing. Novel dengan tokoh utama Minke ini baru terbit lagi di Indonesia pada tahun 2005.

2. Laskar Pelangi

Laskar Pelangi merupakan novel karya Andrea Hirata. Sama seperti Bumi Indonesia karya Pram, Laskar Pelangi buku pertama dari tetralogi, yaitu Tetralogi Laskar Pelangi. Novel ini diangkat manjadi film pada 2018 dan ditontong oleh 4,6 juta orang.

Di luar dunia literasi, novel Laskar Pelangi disebut-sebut sebagai pendorong dunia pariwisata Bangka Belitung. Dunia pariwisata di tanah kelahiran Andrea Hirata lebih hidup setelah para pembaca mencari tahu seting tempat dalam novelnya.

Laskar Pelangi di antaranya menyabet penghargaan International Tourism Bourse (ITB) Buch Award 2013 dan New Work Book Festival 2013. Hingga saat ini, novel Laskar Pelangi telah diterjemahkan ke dalam lebih 20 bahasa asing.

Lokasi yang diceritakan dalam novel Laskar Pelangi. (Instagram/ bilitonjourney)
Lokasi yang diceritakan dalam novel Laskar Pelangi. (Instagram/ bilitonjourney)

3. Anak Semua Bangsa

Novel Anak Semua Bangsa juga merupakan karya Pramoedya Anantatoer buku kedua dari Tetralogi Buru. Anak Semua Bangsa mnceritakan tokoh utama Minke yang berhadapan dengan peradaban Eropa dan kenyataan di lingkungan bangsanya sendiri.

Novel Anak Semua Bangsa dilarang terbit bersama pendahulunya Bumi Manusia dengan tuduhan yang sama sebagai karya propaganda Marxisme-Leninisme dan Komunisme. Novel ini diterbitkan kembali pada pada 2006.

Anak Semua Bangsa juga menceritakan perjuangan tokoh-tokoh menghadapi ketidak adilan masa kolonial.

Novel Tetralogi Buru: Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca, telah mengantarkan Pramoedya Ananta Toer disebut-sebut bakal mendapat Nobel Sastra.

Buku Pramoedya Ananta Toer. (Instagram/ jogjasmartbook)
Buku Pramoedya Ananta Toer. (Instagram/ jogjasmartbook)

4. Ronggeng Dukuh Paruk

Novel Ronggeng Dukuh Paruk merupakan tiga buku seri Dukuh Paruk: Ronggeng Dukuh Paruk, Lintang Kemukus Dini Hari, dan Jantera Bianglala. Novel karya AHmad Tohari ini diterbitkan pertama kali tahun 1982.

Novel Ronggeng Dukuh Paruk diadaptasi ke dalam dua film. Pada tahun 1983, diangkat menjadi film Darah dan Mahkota Rongggeng. Kemudian film kedua pada 2011 berjudul Sang Penari. Film kedua ini meraih nomine Festival Film Indonesia 2011 dan memenangkan empat Piala Citra.

Ronggeng Dukuh Paruk

Novel Ronggeng Dukuh Paruk bercerita tentang kehidupan ronggeng di Desa Dukuh Paruk. Kehidupan desa itu sangat hidup sejak Srintil dinobatkan menjadi ronggeng baru, menggantikan ronggeng terakhir yang mati dua belas tahun yang lalu.

Latar waktu yang digunakan pada tahun 1960 dengan situasi politik yang bergejolak. Novelis Eka Kurniawan dalam sebuah tulisan menyebut bahwa novel Ronggeng Dukuh Paruk menjadi gambaran tragedi 1965. Kejadian 1965 memberikan gambaran apa yang terjadi pada tokoh utama Srintil dan orang orang Desa Dukuh Paruk.

Novel Ronggeng Dukuh Paruk juga telah diterjemahkan ke bahasa Jepang, Inggris, Jerman, dan Belanda.

5. Negeri 5 Menara

Novel Negeri 5 Menara merupakan roman karya Ahmad Fuadi yang pertama diterbitkan pada 2009. Novel ini juga diangkat dalam film berjudul yang sama pada pada 2011 dengan seting tempat salah satunya di Pondok Gontor Ponorogo.

Novel Negeri 5 Menara menceritakan tentang kehidupan enam santri dari enam daerah berbeda dan mereka menuntut ilmu di Pondok Madani (PM) Ponorogo. Salah satu tokohnya Alif. Dia lahir di pinggir Danau Maninjau dan tidak pernah menginjak tanah di luar ranah Minangkabau. Ibunya memasukkannya ke pesantren agar menjadi Buya Hamka.

Negeri 5 Menara
Negeri 5 Menara. (Foto: bukubiruku.com)

Negeri 5 Menara merupakan karya pertama Ahmad Fuadi. Novel ini buku pertama dari trilogi novelnya. Meski tergolong baru, novel tersebut sudah masuk jajaran best seller tahun 2009.

Novel Negeri 5 Menara meraih penghargaan Longlist Khatulistiwa Literary Awar 2010, lalu penulis Fiksi Terfaforit, Anugerah Pembaca Indonesia 2010, dan Buku Fiksi Terbaik Perpustakaan Nasional Indonesia 2010. (*)

Kredit : zulfikar

Tags Artikel Ini

Zulfikar Sy

LAINNYA DARI MERAH PUTIH