Hari Bawa Bekal Nasional, Eksis dengan Kotak Makanan, Kenapa Enggak? Bawa bekal ke kantor bukan berarti enggak eksis lo. (foto: monster.com)

AYO ngaku, kamu mungkin termasuk satu dari sekian banyak orang yang enggan membawa bekal. Entah ke sekolah atau ke kantor. Selain repot, enggak keren dan tak eksis jadi alasan buat menaruh Tkotak bekal kamu di rumah saja.

Padahal nih, membawa bekal enggak selalu culun lo. Budaya membawa bekal sebenarnya sudah ada jauh sebelum Tupperware eksis di Indonesia. Enggak percaya? Kita punya kuliner tradisional khas yang ternyata dulunya merupakan bekal makan. Di Aceh ada sie reuboh. Olahan daging yang dimasak kering lalu diawetkan dengan cuka.

Para petani Sunda punya nasi liwet dalam kastrol sebagai bekal bertani. Lain lagi bagi orang Minang. Nasi ka baka jadi andalan para ibu untuk membekali suami atau anak yang pergi bekerja atau merantau.

Ya, dulu, ketika warung makan, restoran, atau rumah makan enggak semarak sekarang, membawa bekal jadi pilihan utama. Kalau enggak bawa bekal, ya tanggung sendiri kalau kelaparan. Namun kini, jajan atau membeli makanan jadi jauh lebih mudah. Semudah memencet papan ketik di ponsel pintar kamu.

Akui deh, paling enggak sekali seminggu kamu akan pesan makan lewat aplikasi ojek daring ataupun layanan pesan antar. Tuh, makan di zaman sekarang ini memang semudah itu lo. Buka aplikasi, scrolling, pilih menu, lalu pesan. Kamu cuma perlu duduk manis menunggu pesanan datang untuk dibayar.

Nah, kalau memang semudah itu, buat apa repot memikirkan membawa bekal makan siang?

lunch box
Membawa bekal menjamin kecukupan nutrisi. (foto: jyleen21)

Faktanya nih, memesan makan atau jajan enggak sesimpel yang kamu pikir. Faktor keamanan pangan jadi pertimbangan utama. Enggak semua jajanan itu sehat dan padat nutrisi. Dari temuan Badan POM sepanjang 2006-2010, sebanyak 40%-44% jajanan tidak memenuhi syarat kesehatan.

Untuk menjawab hal itu, Kementerian Kesehatan RI, Kementerian Pendidikan Nasional, dan Badan POM mencanangkan Hari Bawa Bekal Nasional setiap 12 April sejak 2013. Dari pencanangan itu, kita bisa tahu betapa penting membawa bekal.

Selain dari sisi nutrisi, membawa bekal juga memberi manfaat dari sisi finansial. Menurut financial planner Prita Ghozie, membawa bekal berpotensi menghemat pengeluaran. "Mungkin saja ya. Misalkan Rp50 ribu per hari. Itu bisa sekitar Rp1 juta per bulan lo," ujarnya ketika dihubungi Merahputih.com.

Di sisi lain, membawa bekal amat terkait dengan kebiasaan memasak. Membawa bekal berarti secara enggak langsung 'memaksa' kamu untuk memasak. Percaya enggak, memasak ternyata terkait erat dengan food sustainability. Heru Nurseto dari Komunitas Akhir Pekan menyebut kemudahan dalam membeli makanan membuat banyak orang malas memasak. Akibatnya, kini kita lihat banyak rumah tangga yang enggak punya peralatan masak yang memadai. "Enggak memasak membuat kita kehilangan pengetahuan tentang cara mengolah makanan, mengenai bahan pangan, termasuk nutrisi makanan," jelas Nurseto saat berbicara dalam ajang International Forum on Spice Route (IFSR) 2019, akhir Maret lalu.

Pria yang juga merupakan dosen di Universitas Padjadjaran Bandung itu lebih jauh menyebut kurangnya waktu makan berpotensi membuat kita terkena rawan pangan.

Dalam dimensi lain, memasak untuk bekal enggak sekadar ingin melestarikan pengetahuan leluhur tentang bahan pangan. Lebih daripada itu, bekal jadi pemuas rindu akan masakan rumah. "Saya kalau bawa bekal, artinya lagi kangen masakan rumah," ungkap Chef Santhi Serad, pendiri dan ketua Aku Cinta Masakan Indonesia (ACMI), saat ditemui di Ramurasa Cooking Studio, Kemang, Jumat (5/4).

Tak bisa dimungkiri, bekal bisa jadi simbol ikatan antara rumah dan kita ketika beraktivitas. Citarasa sajian meja makan membuat kita selalu teringat kehangatan cinta ibu. Ya enggak?

"Membawakan bekal buat anak jadi cara saya memastikan dia mengonsumsi makanan bergizi. Saya tenang, dia sehat," kata Yenny Kusuma, Direktur Pelaksana Kumala Home and Kitchen, saat ditemui di kesmpatan yang sama. Ia mengaku selalu membawakan bekal sejak anaknya masih kecil hingga kini sang anak berusia hampir 18 tahun.

Apakah sang anak enggak merasa culun karena bawa bekal? "Enggak lah. Sudah biasa. Dan lebih efisien, enggak buang waktu untuk ke kantin dan rebutan jajan," ujar sang anak, Jasmine.

bawa bekal bento
Bekal bisa tampil keren dan eksis lo. (foto: Instagram @margaret_tatta)

Dengan sederet nilai positif membawa bekal tadi, apa kamu masih berpikir enggak bisa eksis denngan makanan dalam kotak bekal? Jika iya, kamu harus kenalan dengan bento. Seni mengemas makan siang dengan cantik ala orang Jepang itu dijamin bikin bekal makan siang kamu layak buat difoto dan eksis di feed IG.

Enggak susah kok membuat bento. Tutorialnya banyak lo di Youtube. Alat-alatnya pun mudah didapat. Yang dibutuhkan sekarang ialah, niat, kemauan, dan tekad untuk membuat bekal makan siang yang sehat eksis di media sosial.

Berani terima tantangan itu?(dwi)

Kredit : dwi

Tags Artikel Ini

Dwi Astarini

LAINNYA DARI MERAH PUTIH