Harga APD Baju Hazmat Mahal, Jateng Mampu Bikin Sendiri dengan Harga Rp40.000 Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo menunjukkan baju hazmat untuk menangani pasien COVID-19 yang dibuat sendiri dari RSUD dr Moewardi Solo, Senin (23/3). (MP/Ismail)

MerahPutih.com - Alat pelindung diri (APD) virus corona atau COVID-19 akhir-akhir ini menjadi barang langka setelah wabah mulai menyerang di sejumalah daerah di Indonesia.

Harga APD di pasar pun melambung tinggi di antaranya baju hazmat atau pelindung badan harganya menebus Rp150.000 per baju. Mahalnya barang tersebut disiasati baik oleh Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr Moewardi Solo, Jawa Tengah, dengan membuat baju atronot dengan harga Rp35.000 sampai Rp40.000 per baju.

Baca Juga:

KAI DAOP 6 Batalkan 10 Perjalanan KA Bandara YIA

Direktur Utama RSUD dr Moewardi Cahyono mengatakan, baju hazmat buatan sendiri ini menggunakan bahan standar pabrikan yakni polypropylene spundbound. RSUD Moewardi mampu memproduksi 200-250 APD yang dapat digunakan untuk para tenaga medis merawat pasien corona.

"Semua ini berawal dari sulitnya mencari baju hazmat di pasar. Kalau ada pun harganya mahal. RSUD dr Moewardi berinisiatif membuat APD sendiri," ujar Cahyono, Senin (23/3).

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo menunjukkan baju hazmat untuk menangani pasien COVID-19 yang dibuat sendiri dari RSUD dr Moewardi Solo, Senin (23/3). (MP/Ismail)
Baju hazmat untuk menangani pasien COVID-19 yang dibuat sendiri dari RSUD dr Moewardi Solo, Senin (23/3). (MP/Ismail)

Selain harganya murah, kata dia, pembuatan juga dilakukan sesuai dengan standar. Pembuatannya dilakukan dengan bahan polypropilane sponbound. Bahan ini diklaim bebas dari bakteri.

"Bahan ini pula pernah dipakai saat terjadi wabah flu burung beberapa tahun silam. Sehingga, bahan ini kami nilai sudah sesuai standar WHO (World Health Organization)," tutur dia.

Untuk pembuatannya, pihak rumah sakit menggandeng penjahit UMKM. Jumlah yang dibuat dalam sehari pun tidak banyak, yakni berkisar di angka 100-200 APD. Setiap APD dibutuhkan biaya pembuatan Rp35.000 hingga Rp40.000.

Baca Juga:

Satu Warga Positif dan 45 ODP COVID-19, Sukoharjo Tetapkan KLB

Barang yang diproduksi ini rencananya tidak dijual. Namun, RSUD dr Moewardi menyerahkan pada pemerintah daerah jika nantinya dikembangkan untuk kebutuhan kota.

"Pembuatan baju hazmat tidak kami komersilkan. Kita pakai sendiri, tapi kalau sisa banyak kita kirimkan ke dinas dan rumah sakit lain yang memerlukan," kata dia.

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo memgapesiasi, apa yang telah dilakukan RSUD dr Moewardi dalam membuat baju hazmat sendiri. Ia pun memperbolehkan rumah sakit lain yang ingi bikin baju hazmat bisa datang ke RSUD dr Moewardi.

"Kami selanjutnya tengah mencari terobosan baru dalam rangka pemenuhan masker. Sedangkan hand sanitizer sudah banyak ditemukan pelajar dan perusahaan untuk dibagikan kepasa warga," kata Ganjar. (Ism)

Baca Juga:

PR Sekeluarga Gratis Rapid Test, Pengamat: Utamakan Keluarga Tenaga Medis Dulu

LAINNYA DARI MERAH PUTIH
Pemerintah Masih Kaji Pemulangan Eks Kombatan ISIS ke Indonesia
Indonesia
Pemerintah Masih Kaji Pemulangan Eks Kombatan ISIS ke Indonesia

"Tentu ada banyak hal yang dipertimbangkan, baik dampak positif maupun negatifnya," kata Fachrul

Tertutup Soal Hasil COVID-19, Rizieq Dinilai Korbankan Umat
Indonesia
Tertutup Soal Hasil COVID-19, Rizieq Dinilai Korbankan Umat

Sikap pimpinan Front Pembela Islam (FPI) Rizieq Shihab yang tertutup soal riwayat kesehatannya menuai kritikan.

Jokowi Dikritik Telah Gadaikan Komitmen HAM Demi Ekonomi
Indonesia
Jokowi Dikritik Telah Gadaikan Komitmen HAM Demi Ekonomi

"Lalu kapan janji penuntasan bidang HAM akan dipenuhi? Jokowi sudah memasuki periode II," kata Hendardi

Rencana Datangkan Ratusan TKA Bertentangan dengan Upaya Pencegahan COVID-19
Indonesia
Rencana Datangkan Ratusan TKA Bertentangan dengan Upaya Pencegahan COVID-19

Kebijakan ini dipandang tidak bijak terlebih saat ini masyarakat sedang dihadapkan pada situasi menghadapi pandemi COVID-19.

 Menko Polhukam Mahfud MD: Terlalu Dini 'Hakimi' Dewan Pengawas KPK
Indonesia
Menko Polhukam Mahfud MD: Terlalu Dini 'Hakimi' Dewan Pengawas KPK

Selain itu, Mahfud MD menyampaikan bahwa penilaian buruk atau tidaknya sebuah kepemimpinan tidak bisa dipandang terlalu dini.

Komentar Jokowi soal Banjir dan Macet di Jakarta
Indonesia
Komentar Jokowi soal Banjir dan Macet di Jakarta

Sejumlah wilayah di Jakarta dikepung banjir akibat hujan deras pada Selasa (17/12).

Tak Patuh Protokol Kesehatan, Hak Pilih di Pilkada Bisa Hilang?
Indonesia
Tak Patuh Protokol Kesehatan, Hak Pilih di Pilkada Bisa Hilang?

Pemilih yang telah tercantum dalam daftar pemilih tetap (DPT) dan memiliki KTP elektronik merupakan syarat untuk menggunakan hak pilih.

Buntut Ucapan Presiden Prancis, Menag Minta Umat Islam Tak Terpancing
Indonesia
Buntut Ucapan Presiden Prancis, Menag Minta Umat Islam Tak Terpancing

Pemerintah Indonesia mengecam pernyataan Presiden Prancis Emanuel Macron yang menyinggung agama Islam.

Ribuan Aparat Gabungan Diterjunkan Amankan Demo PA 212 Cs di DPR
Indonesia
Ribuan Aparat Gabungan Diterjunkan Amankan Demo PA 212 Cs di DPR

"Iya ada seribu personel. Gabungan TNI/Polri," jelas Marsudianto

Pandemi COVID-19 Berlarut, Penumpang Kereta Api Anjlok hingga 80 Persen
Indonesia
Pandemi COVID-19 Berlarut, Penumpang Kereta Api Anjlok hingga 80 Persen

Masih mewabahnya pandemi COVID-19 membuat jumlah penumpang kereta api menurun drastis.