Harapan Hidup bagi ODHA itu Bernama ARV Obat ARV memungkinkan ODHA beraktivitas seperti biasa. (foto: CNN.com)

SELALU ada harapan hidup bagi para orang dengan HIV/AIDS (ODHA). Meskipun telah terjangkit virus mematikan tersebut, mereka tetap bisa menjalani kehidupan yang normal layaknya orang sehat. Harapan hidup itu didapat dengan rajin mengonsumsi obat ARV (antiretroviral).

Menurut Koordinator Yayasan AIDS Indonesia Andrian Yulianto, ketika seseorang mengetahui terjangkit HIV, ia harus mengonsumsi obat tersebut. "Pertama kali mereka tahu statusnya positif, mereka perlu mengonsumsi obat ARV," ujarnya saat ditemui di kawasan Bundaran Hotel Indonesia, Minggu (1/12).

BACA JUGA: #KamuTahuKamuBerbagi, Kampanye Kesadaran akan HIV/AIDS

Sementara itu, seorang bidan yang mengurus anak-anak dengan HIV/AIDS, Ropina Tarigan, mengatakan bahwa dalam sehari para pengidap HIV/AIDS harus mengonsumsi obat ARV sehari dua kali, pagi dan sore. Dalam sekali minum, ada tiga jenis obat yang perlu dikonsumsi; tenofofir, lamivudine, dan efavirenz. Ketiga jenis obat tesebut merupakan gabungan beberapa ARV dari satu golongan. Mengonsumsi lebih dari satu ARV dapat mencegah munculnya resistensi.

Yayasan AIDS Indonesia, Kampanye HIV dan AIDS
Yayasan AIDS Indonesia kampanyekan kesadaran akan HIV dan AIDS. (foto: MP/Rizki Fitrianto)

Resistansi adalah masa saat bibit HIV muncul dan terus berkembang menjadi mutan. Mutan tersebut berarti kebal terhadap obat. Jika hal itu terjadi, obat tidak dapat bekerja lagi. Ropina mengisahkan salah satu anak yang ia rawat malas mengonsumsi obat ARV. Akibatnya, tubuhnya terpapar cytomegalovirus. "Virus tersebut membuat si anak buta," ungkapnya.

"Kalau minum obatnya dengan teratur, mereka bisa menjalani hidup sehat seperti kita. Namun jika tidak, mereka rentan terserang virus karena imun mereka rendah," ujarnya.

ARV ODHA
ARV jadi penolong untuk ODHA. (foto: MP/Rizki Fitrianto)



Saat ini, obat ARV bisa didapatkan di mana saja, bahkan di puskesmas. Meskipun bisa didapatkan di puskesmas, untuk memperolehnya, pasien harus melewati sejumlah tahapan. Menurut Dokter Anna Asmaul Mardiyah, sebelum dapat obat di puskesmas, pasien harus menunjukkan sejumlah gejala potensi HIV, misalnya sariawan, demam, dan diare kronis yang tidak diketahui sebabnya. "Sebelum gejala tersebut muncul, pasien juga terlibat dalam kegiatan berisiko seperti transfusi darah, penggunaan jarum suntik berganti-gantian, hubungan seksual yang tidak aman, atau tato dengan jarum yang tidak steril," urai Anna.

Setelah diketahui faktor risiko, dilakukan voluntary counseling and testing (VCT). Pada saat itu, pasien tak hanya tes HIV, tetapi juga mengikuti konseling. "Pada saat konseling dijelaskan apa itu HIV, bagaimana penularanyan, faktor risikonya apa saja, komplikasi apa saja," jelas Anna.

Di tahap akhir, pasien harus tanda tangan. Kesemua proses tersebut bersifat rahasia.(avia)

Kredit : iftinavia

Tags Artikel Ini

Dwi Astarini

LAINNYA DARI MERAH PUTIH