Hanya di Tiongkok, Donor Sperma Bisa Dapat iPhone 6s iPhone 6s (Foto: Valuewalk)

MerahPutih Internasional - Demi mendapatkan gadget idaman, sebagian orang rela melakukan hal ekstrim seperti menjual ginjal. Tapi untuk yang satu ini justru terdengar menggelikan, yakni mendonorkan sperma untuk iPhone 6s. 

Seperti dimuat laman Shanghaiist, Rumah Sakit Ruijin tengah mencari pendonor sperma. Dengan ketentuan, pria yang sehat jasmani rohani, tinggi 165 cm, memiliki kartu tanda penduduk Tiongkok, tidak ada penyakit genetik, dan diwajibkan memiliki gelar sarjana.

Para pendonor hanya perlu membayar biaya pendaftaran 1.000 RMB atau sekitar 2,2 juta rupiah untuk pemeriksaan kesehatan. Jika lolos dan dianggap layak, dia akan menerima 6.000 RMB atau 13,6 juta rupiah sebagai imbalannya.

Nantinya, akan diambil 17 mililiter dari sperma yang dihasilkan dengan waktu penyimpanan minimum 48 hari, dalam jangka waktu enam bulan setelah donor terjadi.

"Sampel nantinya akan disimpan dalam keadaan beku, sehingga bisa digunakan di masa depan bila si pendonor membutuhkan," tutur petugas rumah sakit tersebut.

Sekedar informasi, Tiongkok sendiri menerapkan aturan ketat pada pendiri dan pengelolaan bank sperma, di mana hanya memperbolehkan satu di setiap provinsi. Kurangnya sumbangan sperma menjadi perbincangan hangat di 18 pusat nasional.

Baca Juga:

  1. Pria Di Beijing Nekat Menjual Ginjal Hanya Untuk Membeli Produk Apple
  2. Ekonomi Tiongkok Simbol Lemahnya Ekonomi Global
  3. Resmi Meluncur, Berikut Harga iPhone 6s dan 6s Plus
  4. Adu Cepat Samsung Galaxy Note 5 Vs iPhone 6
  5. Samsung Gear S2 Bisa Dipasangkan dengan iPhone
Kanal
LAINNYA DARI MERAH PUTIH
Tiongkok Bagikan Vaksin COVID-19 Eksperimen Pada Pelajar
Dunia
Tiongkok Bagikan Vaksin COVID-19 Eksperimen Pada Pelajar

Pengumuman perusahaan itu, bahwa vaksin gratis akan disediakan bagi para siswa, muncul di suatu situs yang menerima pendaftaran orang-orang yang berminat.

Museum Louvre di Paris Tutup akibat Pegawai Takut Penyebaran Virus Corona
Dunia
Museum Louvre di Paris Tutup akibat Pegawai Takut Penyebaran Virus Corona

Hukum di Prancis memberikan pekerja hak untuk menarik diri di bawah undang-undang yang diperkenalkan Presiden Sosialis Francois Mitterrand pada awal 1980-an.

Dipilih Joe Biden, Kamala Harris Jadi Wanita Kulit Hitam Pertama di Pilpres AS
Dunia
Dipilih Joe Biden, Kamala Harris Jadi Wanita Kulit Hitam Pertama di Pilpres AS

Hari merupakan Afrika-Amerika dari seorang ayah Jamaika dan ibu dari India. Dia lahir di Oakland, California. Harris merupakan anak sulung dari dua bersaudara.

Gugatan Pilpres Trump Butuh Biaya 60 Juta Dolar AS
Dunia
Gugatan Pilpres Trump Butuh Biaya 60 Juta Dolar AS

Tim kampanye Trump telah mengajukan sejumlah gugatan hukum di beberapa negara bagian atas penghitungan suara pemilu.

 Sebar Hoaks Virus Corona, Seorang WNI Dipenjara di Malaysia
Dunia
Sebar Hoaks Virus Corona, Seorang WNI Dipenjara di Malaysia

Bukan hanya dipenjara, WNI yang berjenis kelamin perempuan itu juga didenda sebesar Rp3,2 juta oleh Pengadilan Magistrate di Kuala Lumpur, pada Jumat, (21/2).

Arab Saudi Vonis Delapan Orang atas Pembunuhan Jamal Khashoggi
Dunia
Arab Saudi Vonis Delapan Orang atas Pembunuhan Jamal Khashoggi

Saudi menjatuhkan vonis tujuh sampai 20 tahun penjara kepada delapan orang atas pembunuhan wartawan Jamal Khashoggi.

Myanmar Tutup Ibu Kota di Tengah Peningkatan Kasus COVID-19
Dunia
Myanmar Tutup Ibu Kota di Tengah Peningkatan Kasus COVID-19

Pemimpin Aung San Suu Kyi memperingatkan tentang "bencana bagi negara".

Seminggu Jelang Pilpres AS, 66 Juta Warga Telah Memilih
Dunia
Seminggu Jelang Pilpres AS, 66 Juta Warga Telah Memilih

Beberapa jajak pendapat menunjukkan Trump tertinggal di Michigan dan Wisconsin, namun ia unggul di Nebraska.

COVID-19 AS Lewati Angka 11 Juta Kasus
Dunia
COVID-19 AS Lewati Angka 11 Juta Kasus

Jumlah kasus virus corona di Amerika Serikat melewati 11 juta pada hari Minggu (15/11).

Jumlah Pemilih Awal Pilpres Amerika Capai Rekor Tertinggi
Dunia
Jumlah Pemilih Awal Pilpres Amerika Capai Rekor Tertinggi

Kekhawatiran tentang kemungkinan penularan virus corona di tempat-tempat pemungutan (TPS) suara pada Hari Pemilihan juga telah mendorong lebih banyak orang untuk memberikan suara di TPS lebih dini.