'Hantaman' Pandemi COVID-19 Tak Menyurutkan Daya Beli Konsumen Indonesia Daya Beli Konsumen Indonesia tetap kuat di tengah pandemi COVID-19 (Foto: pixabay/kreatikar)

KEMAMPUAN beradaptasi merupakan kekuatan yang melampaui kekuatan itu sendiri. Sejarah membuktikan, bahwa mereka yang terkuat bukan yang paling mampu bertahan, melainkan yang cepat beradaptasi.

Kecepatan umat manusia beradaptasi diuji dwngan pandemi COVID-19. Sains atau tepatnya ilmu kedokteran, memberi petunjuk seperti apa cara bertahan untuk tetap hidup di tengah pandemi.

Baca Juga:

Nielsen: Pembeli Online Bertumbuh Dua Kali Lipat di 2020

Dari segi ekonomi, sejumlah ahli finansial memberikan anjuran. Sementara para pemimpin dan pemuka agama, mendorong sesama untuk bersikap serta berperilaku lebih bijak.

Namun, pikiran manusia terlalu kompleks untuk ditebak. Terlalu pintar untuk sekadar mengikuti anjuran. Stimulus yang sama (COVID-19) tak melulu menghasilkan respons atau perilaku seragam.

Sejumlah riset menemukan banyak perubahan perilaku para konsumen di tengah pandemi (Foto: Pixabay/mohamed_hassan)

Kendati demikian, selalu ada benang merah yang bisa ditarik dari keberagaman dan ketidakteraturan. Untuk menemukan benang merah tersebut, BAYK bersama Populix menggelar riset sederhana soal perilaku konsumen selama pandemi.

"Dengan memahami benang merah perilaku konsumen, kita bisa memprediksi ke arah mana arus utama tren perilaku masyarakat ke depannya,” kata Arya Gumilar, General Manager BAYK Strategic Sustainability, pada webinar berjudul 'Bisnis Bebas Krisis', Rabu (16/12).

Arya menuturkan, riset menggunakan survei kuantitatif dengan 300 responden yang tersebar di 5 kota besar Indonesia sebagai data primer. Sementara data sekunder didapat dari observasi, wawancara lapangan, dan desktop research.

Dari survei yang dilakukan bersama Populix, responden umumnya mengakui bahwa COVID-19 banyak mengubah pola hidup. Dalam urusan mengelola keuangan misalnya, 87 persen responden mengaku memprioritaskan pengeluaran untuk kebutuhan sehari-hari selama pandemi ini.

Lebih dari 90 persen responden juga mengaku menjadi lebih sering memasak ketimbang masa sebelum pembatasan sosial diberlakukan.

Namun fakta di lapangan menunjukkan, sejumlah produk yang sebetulnya masuk pada kategori tersier, justru meningkat selama pandemi. Stok sepeda di nyaris setiap kota habis. Bahkan sepeda impor merek tertentu dari luar negeri dengan harga puluhan hingga ratusan juta rupiah per unit, juga ludes terjual di masa pandemi ini.

Temuan-temuan dalam riset ini kemudian dirilis dan didiskusikan dalam webinar berjudul Bisnis Bebas Krisis. Disksusi ini menampilkan pembicara Staf Khusus MenkopUKM yang juga Komisaris Angkasa Pura 2, Fiki Satari dan Executive Vice President of Operational Blibli.com Lisa Widodo.

webinar berjudul “Bisnis Bebas Krisis” membahas sejumlah temuan dalam riset tentang daya beli konsumen indonesia di tengah pandemi (Foto: istimewa)

Dalam kesempatan tersebut Lisa memaparkan perubahan pola konsumen dari fase awal pandemi hingga kini, berdasarkaan data di Blibli.com. Ada perubahan preferensi yang menarik, bagaimana konsumen yang awalnya gandrung pada produk 'serba sehat', kemudian bergerak ke kebutuhan kompensasi agar tetap waras dan eksis.

Baca Juga:

Catat, Ini Kelebihan dan Kekurangan Situs-situs Belanja Online

Menurut Lisa, setidaknya ada tiga gelombang preferensi masyarakat dalam berbelanja berdasarkan data penjualan di Blibli.com. Pertama adalah fase panic buying di tiga bulan pertama masa pandemi. Produk yang banyak diburu di antaranya hand sanitizer, makanan kalengan, dan suplemen multivitamin.

Memasuki bulan keempat pandemi, masyarakat mulai beradaptasi lebih jauh dengan kebijakan pembatasan sosial. Bila dilihat dari data penjualan, sebagian masyarakat sibuk merenovasi kecil-kecilan kediaman mereka. Seperti mengganti penerangan di rumah dengan sistem pintar berbasis ponsel.Termasuk juga pembelian sepeda dan aksesorisnya yang terlihat melonjak.

Di fase ketiga, masyarakat cenderung memilih produk atau jasa yang terkait dengan hiburan. Promo penerbangan murah, menurut Lisa, adalah salah satu yang paling cepat laku, padahal masih pandemi.

"Sudah kayak jual kacang goreng, banyak banget orang yang berburu promo penerbangan murah," ucap Lisa.

Dari temuan riset dan preferensi konsumen di e-commerce tersebut, menurut Arya, daya beli atau dorongan masyarakat untuk spending pada dasarnya tidak banyak berubah. Ada banyak kalangan yang hanya mengubah alokasi belanja saja.

Seperti halnya yang tadinya spending untuk pergi nge-gym, kini beralih menekuni hobi olah raga bersepeda (mahal), dengan alasan tetap sehat dan daya tahan tubuh meningkat.

Selain itu, yang tadinya merogoh kocek untuk ngopi cantik di coffee shop, kini beralih masak di rumah dengan membeli cooking set (mahal) baru. Alasannya, memasak di rumah lebih hemat dan aman dari ancaman tertular COVID-19.

Padahal, bisa saja fenomena ini juga terjadi karena terdorong untuk bahan posting alias pamer di sosial media. "Gelora untuk membeli barang-barang yang memiliki nilai social currency tinggi itu tetap ada," ungkap Arya.

Karena bagaimanapun, pada akhirnya social currency yang biasanya memegang komando tertinggi perilaku masyarakat. Anjuran menerapkan gaya hidup normal baru dibajak menjadi 'pembenar' untuk perilaku baru berkonsumsi.

Celah inilah yang bisa dimaksimalkan para entrepreneur dan juga pemerintah yang tengah berjuang mengerakkan roda ekonomi.

Untuk bagian isu ini, pembicara Staf Khusus MenkopUKM, Fiki Satari, mengupas brand value sebagai strategi membentuk kecenderungan konsumsi yang tak lekang krisis.

Sebagai pelaku bisnis industri kreatif yang kini bergabung di pemerintahan, Fiki juga memaparkan upaya­-upaya kolaboratif yang tengah dibangun pemerintah untuk meningkatkan economic value produk-­produk UKM.

Fiki sadar betul, UMKM adalah fondasi ekonomi negara ini. Tak kurang dari 60 persen PDB nasional disumbang UMKM. Karena itu untuk mempertahankan roda ekonomi nasional artinya mendorong UMKM tetap berkembang. (Ryn)

Baca Juga:

Kisah Masuknya Budaya Belanja 'Online' ke Indonesia

LAINNYA DARI MERAH PUTIH
Ini 4 Tontonan di Netflix  Paling Populer Juli 2020
Fun
Ini 4 Tontonan di Netflix Paling Populer Juli 2020

Sudah nonton empat film ciamik ini?

Seberapa Efektif Masker Respirator N95 Melindungimu dari Virus Corona?
Hiburan & Gaya Hidup
Seberapa Efektif Masker Respirator N95 Melindungimu dari Virus Corona?

Banyak orang memburu masker untuk menyelamatkan diri dari virus corona, terutama masker respirator N95.

Synchronize Fest 2020 Hadirkan Rasa Baru
ShowBiz
Synchronize Fest 2020 Hadirkan Rasa Baru

Synchronize Fest 2020 digelar melalui jaringan TV nasional dan live streaming.

Spotify Tengah Uji Coba Fitur Video Podcast
Fun
Spotify Tengah Uji Coba Fitur Video Podcast

Fitur baru di aplikasi musik Spotify

Ilmuwan Temukan 24 Planet Layak Huni yang Lebih Baik dari Bumi
Fun
Ilmuwan Temukan 24 Planet Layak Huni yang Lebih Baik dari Bumi

Ditemukan 24 planet superhabitable yang diklaim lebih baik dari bumi

Fashionlink x BLCKVNUE Hadir Kembali di Acara Jakarta Fashion Week 2021
Fashion
Fashionlink x BLCKVNUE Hadir Kembali di Acara Jakarta Fashion Week 2021

Michelle pun menjelaskan sustainable materials dibuat dari kain yang berasal dari limbah kapas pabrik tekstil.

Boks Pendingin Unik, Cara 'Social Distancing' Sempurna
Fun
Boks Pendingin Unik, Cara 'Social Distancing' Sempurna

Seis-Foot Cooler adalah teman baru kamu di musim panas ini.

Instagram@mas_fotokopi Ajak Pelaku Coffeshop Jalankan Tiga Inisiatif Keren Ini
Fun
Instagram@mas_fotokopi Ajak Pelaku Coffeshop Jalankan Tiga Inisiatif Keren Ini

wawancara eksklusif MerahPutih.com dengan founder akun Instagram @mas_fotokopi.

Berhura-Hura Sambil Mendatangkan Uang, Memang Bisa?
Fun
Berhura-Hura Sambil Mendatangkan Uang, Memang Bisa?

Seperti apa caramu berhura-hura?

Lawan Corona, Apple Sumbang Jutaan Masker untuk Tenaga Medis
Hiburan & Gaya Hidup
Lawan Corona, Apple Sumbang Jutaan Masker untuk Tenaga Medis

Kurangnya persediaan dan peralatan yang diperlukan untuk menanggapi mereka yang terkena dampak pandemi virus Corona jadi alasan Apple.