Hangatnya Sajian Bubur Sop Warisan Kesultanan Deli Bubur sop pedas khas Medan. (foto: pinterest)

KOTA Medan lebih sering dilekatkan dengan suku Batak. Padahal, di ibu kota Sumatra Utara itu, hidup juga berbagai suku lainnya, seperti Jawa, Melayu, Tionghoa, Minangkabau, Karo, Aceh, hingga Tamil. Meskipun berbeda suku, warga Medan amat menjaga kebersamaan dan toleransi. Sebagai bukti, nama Kota Medan bahkan diambil dari kata bahasa Tamil, yaitu Maidhan atau Maidhanam. Artinya, tanah lapang atau tempat yang luas. Kata itu kemudian diadopsi ke bahasa Melayu, Medan.

Tak hanya terdiri dari berbagai suku, Medan juga berwarna dalam hal penganut agama. Hampir separuh warga Medan memeluk Islam. Namun, pemeluk Kristen Protestan, Buddha, Katolik, Hindu, dan Konghucu juga ada di kota terbesar ketiga di Indonesia ini.

Kesatuan dan toleransi warga Medan amatlah terlihat di kehidupan sehari-hari warganya. Terlebih di saat bulan Ramadan. Sebuah tradisi yang diwariskan Kesultanan Deli membuat seluruh warga dari berbagai suku, baik muslim maupun nonmuslim, datang menyambangi Masjid Raya Al Mashun Medan. Tradisi itu berwujud semangkuk bubur sop nan hangat.


Makanan raja yang menyatukan

masjid raya medan
Masjid Raya Medan (foto: suara masjid)

Tradisi berbagi bubur sop berawal dari sajian khas di lingkungan Kesultanan Deli. Kesultanan Deli sendiri adalah sebuah kesultanan Melayu yang didirikan pada 1632 oleh Tuanku Panglima Gocah Pahlawan di wilayah bernama Tanah Deli. Wilayah itu kini dikenal sebagai Kota Medan dan Kabupaten Deli Serdang.

Dari kisah sejarahnya, tradisi warisan berbuka puasa dengan bubur pedas telah ada sejak masa Kesultanan Deli pada 1909. Saat itu, Tanah Deli dipimpin Tuanku Sultan Makmun Al-Rasyid Perkasa Alam Syah.

Dulunya menu bubur pedas merupakan santapan kesukaan raja Kesultanan Deli. Seiring waktu, pemimpin kesultanan itu ingin berbagi kepada rakyatnya selama bulan puasa. Maka disajikanlah menu bubur pedas di bulan Ramadan.

Warga berbagai suku dan agama berbaur menikmati bubur sop. (foto: kabarmedan)

Awalnya, ada dua menu bubur yang disajikan, yaitu bubur pedas dan bubur sop. Keduanya dibagikan secara gratis saat bulan Ramadan. Namun, sejak 1960, hanya bubur sup yang dibagikan. Hal itu disebabkan rumitnya cara pembuatan bubur pedas. Terlebih, bahan-bahan pembuatan bubur pedas pun makin sulit didapat.

Meski begitu, masyarakat terkadang masih keliru dan tetap menyebut bubur sop sebagai bubur pedas. Ada perbedaan yang cukup kentara antara bubur sop dan bubu pedas. Bubur pedas biasanya disantap dengan anyang, yaitu sayur pakis dan tauge yang diolah sedemikian rupa dengan bumbu cabai, udang kering, kelapa kukur goreng, dan asam jeruk.

Sementara itu, bubur sop berbahan dasar beras, daging sapi, dan sayuran seperti kentang dan wortel. Tentunya ditambah rempah-rempah sebagai bumbu masaknya. Alih-alih dimasak dengan kompor gas, bubur sop dibuat di atas tungkuu dengan bahan bakar kayu. Dengan begitu, aroma bubur jadi makin khas.

Hingga kini, selama sebulan penuh, umat dari berbagai penjuru Medan dan luar Kota Medan datang untuk mencicipi kehangatan bubur tradisi ini. Hampir 1.000 porsi bubur sop selalu disiapkan selama Ramadan di Masjid Raya Medan. Sajian itu selalu habis diserbu umat. Ada yang menikmatinya langsung di sana sebagai menu takjil, ada juga yang datang dengan kotak bekal untuk membawa pulang bubur hangat lezat ini.

Meskipun sajian bubur sop warisan Kesultanan Deli ini terlihat sederhana, kehangatannya mampu merekatkan warga dari berbagai suku dan agama. Sungguh indah. (dwi)

Kredit : dwi

Tags Artikel Ini

Dwi Astarini

LAINNYA DARI MERAH PUTIH