HALLUCINOGENIC, Luka Penduduk Banda di Balik Kemilau Pala Titarubi sedang menjelaskan karya Hallucinogenic pada pameran “Banda Warisan Untuk Indonesia: Pala dan Perjanjian Breda, 1667-2017”,

RIBUAN pala berlapis emas berangkulan membentuk sebuah jubah berdiri tegak. Berkilauan. Tak ada sosok manusia. Meski mencuat dua tangan dari kedua lengan jubah. Tangan kiri menggenggam batang pepohonan sebagai tongkat tumpuan. Sementara tangan kanan diangkat tinggi mencengkram buku bersampul silver.

“Buku di tangan kanan itu merupakan lambang the power of knowledge. Siapa bisa menguasai ilmu pengetahuan, maka akan menguasai dunia,” tutur Titarubi si empunya karya bertajuk “Hallucinogenic” pada pameran “Banda Warisan Untuk Indonesia: Pala dan Perjanjian Breda, 1667-2017”, di Gedung C Galeri Nasional, Jakarta Pusat, (20/09).

Pala (Myristica Fragran) menjadi materi utama karya instalasi “Hallucinogenic”, menurut Tirtarubi, memiliki efek halusinogenic, berupa distorsi visual dan paranoid ideation seperti kisah masa silam sengketa kuasa atas tanaman asli sepuluh gugusan Kepulauan Banda Neira sejak abad ke-16.

Lapisan emas membungkus pala, lanjut Titarubi, memberi pesan di balik kemilau keuntungan perdagangan pala pada masa tersebut, tersimpan penderitaan penduduk asli kepulauan Banda. “Kemilau pala setakar emas adalah gemilang darah dalam musnahnya bangsa Banda,” tuturnya.

Pengerjaan instalasi “Hallucinogenic” memakan masa sekira 4 bulan. Titarubi mengaku cukup sulit mencari pala kualitas terbaik. Dia mendapat sejumlah 25.000 butir pala di Banda dan 35.000 butir pala di Maluku. “Pala di pasar Jakarta itu teksturnya kurang bagus,” keluhnya.

Saat pala Banda dan Maluku tiba di studio. Perlu masa sekira 12 jam untuk tahap pengeringan. Lantas dilapisi dan dikeringkan kembali selama 8 jam. Begitu terus sampai pala terlapisi prada dengan baik. Sementara kedua tangan dan batang tongkat tumpuan berbahan kayu dibakar hingga legam.

Seluruh pengerjaan karya “Hallucinogenic” memakan biaya sebesar 300 juta.

Titarubi menjelaskan bila sebelum memulai gagasan membuat karya “Hallucinogenic”, dia memerlukan riset mengenai sejarah rempah, jalur sutra, masa lalu Banda sejak tahun 2011 hingga tercetus ide bagaimana membuat rempah menjadi barang berharga. “Gagasan karya itu mengimajinasikan rempah sebagai barang mewah,”.

Dari hasil riset, Titarubi menemukan kisah tentang pembantaian penduduk Banda Neira untuk merebut monopoli perdagangan pala pada 1621. Jan Pieterszoon Coen menjadi aktor di besar pembantaian tersebut, kemudian membawa sebagian penduduk Banda menjadi budak di Batavia. Sementara para budak dari Batavia dibawa ke Banda untuk menggarap perkebunan lada.

“Jadi memang kosong. Sengaja hanya jubah kebesaran berkilau emas sebagai perangkap. Sedangkan jiwa para penduduk Banda kosong,” pungkasnya.



Yudi Anugrah Nugroho

LAINNYA DARI MERAH PUTIH