Hal-hal yang Mesti Orangtua Perhatikan saat Mendongeng kepada Anak Dongeng baik untuk perkembangan psikologis. (Foto: Pixabay/PIRO4D)

DONGENG diketahui membawa manfaat sangat besar bagi psikologis anak. Bagi orang tua, dongeng juga bisa menjadi salah satu cara berkomunikasi agar lebih dekat dengan anak-anak. Bahan dongeng dalam sastra lisan Indonesia sangat banyak untuk diekplorasi.

Meskipun dongeng bisa dilakukan sepanjang waktu. Kamu harus memilih waktu-waktu yang kira-kira anak antusias untuk mendengarkan. Dongeng biasanya dilakukan saat jelang tidur.

Tak sekadar mendongeng, para orang tua yang akan mendongeng kepada anak sebaiknya memperhatikan suara, ekspresi dan gestur saat bercerita agar anak tertarik dan mampu menangkap intisari dari dongeng itu.


1. Suara dan gestur untuk menggambarkan

Suara dan gestur sangat penting dalam berdongeng. (Foto: Pixabay/4144132)
Suara dan gestur sangat penting dalam berdongeng. (Foto: Pixabay/4144132)

Suara dan gestur harus diperhatikan benar ketika berdongeng kepada anak. Naik turun suara saat bercerita dan pergantian suara dalam tokoh bisa kamu pelajari supaya anak lebih tertark. Sedangkan gestur memberikan tekanan pada setiap cerita. Bila perlu kamu harus benar-benar memperagakan dengan gerakan apa yang ada dalam cerita.


"Harus sering melatih diri sebenarnya. Untuk suara, ikuti saja ceritanya karena yang akan kita sampaikan ada rasanya, pengalamannya. Pergunakan suara kita untuk menggambarkan ceritanya," ujar Ariyo Zidni, pendiri Komunitas Ayo Dongeng Indonesia di Jakarta, seperti dikutip Antara.


2. Berdongeng dengan jujur

Berdongeng tak perlu berlebihan. (Foto: Pixabay/pixel2013)
Berdongeng tak perlu berlebihan. (Foto: Pixabay/pixel2013)

Aryo menyarankan para orang tua untuk jujur dalam berdongeng. Artinya tak mesti berlebih atau sempurna. Jujurlah atas kemampuan berdongeng kamu kepada anak sambil terus mengasah diri.

"Tidak perlu berlebihan dan sempurna, tapi jujur. Dengan demikian, baik dengan membacakan langsung dari teks buku atau e-book maupun improvisasi cerita," lanjut Ariyo.

3. Pemilihan cerita yang kamu suka

Pemilihan cerita juga menjadi penting sebelum berdongeng. (Foto: Pixabay/pixel2013)
Pemilihan cerita juga menjadi penting sebelum berdongeng. (Foto: Pixabay/pixel2013)

Hal yang tidak kalah penting adalah pemilihan cerita. Jangan memilih cerita yang tidak Anda sukai. Sebab, yang menceritakan dongeng harus memiliki ketertarikan terlebih dahulu. Kalau tidak, cerita tersebut akan terdengar datar.

"Pilih cerita dulu, harus yang orang tuanya suka dulu. Karena kita pasti udah set goals-nya. Dari situ kita sudah otomatis akan menyampaikan dengan hal yang menyenangkan dan anaknya juga suka. Kalau mendongengkannya sambil membaca, usahakan sudah membaca isinya terlebih dahulu. Kalau kita sudah baca, ceritanya akan mengalir," jelas Ariyo.


4. Dongeng bisa dibikin menurut pengalaman

Dongeng bisa diambil dari cerita rakyat, buku, dan pengalaman. (Foto: Pixabay/insspirito)
Dongeng bisa diambil dari cerita rakyat, buku, dan pengalaman. (Foto: Pixabay/insspirito)

Cerita dongeng tidak harus yang ada di buku atau cerita rakyat. Dongeng bisa dibuat sendiri oleh orang tua berdasarkan hal-hal yang dekat dengan anak.

"Apapun bisa dimanfaatkan. Waktunya juga enggak harus menjelang tidur. Apapun waktu yang bisa kita manfaatkan, pergunakanlah untuk cerita. Misalnya lagi ngantri lama di supermarket, bisa cerita ke anak soal brokoli atau wortel," kata Ariyo. (zul)

Baca juga berita lainnya dalam artikel: Tujuh Cara Bijak Bermedia Sosial, Salah Satunya Mengerti Sisi Hukum

Kredit : zulfikar

Tags Artikel Ini

Zulfikar Sy

LAINNYA DARI MERAH PUTIH